Polisi Mental Miskin Vs Polisi Mental Kaya, Semoga Bukan Kejadian Di Indonesia

- Jurnalis

Senin, 7 April 2025 - 09:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

berandalappung.com —Saya jadi menerawang ketahun 1990an, ketika masih tinggal di daerah dengan hiburannya menunggu film India. Para aktor dan aktris terkenal zaman itu seperti Amitabh Bachchan, Amir Khan, Ajay Devgan, dan Akshay Kumar. Aktor-aktor India ini merajai khazanah perfilman di Indonesia.

Kalau melihat dari gerak-gerik dan action para aktor India yang bermain dengan all out sangat kontras dengan kejadian pada zaman ini. Tapi kita berbangga masih ada sosok Polisi Republik Indonesia seperti Jendral Hoegeng Imam Santoso.

Hari ini, masalah di institusi kepolisian bukan hanya soal seragam, senjata, atau sistem. Masalah utamanya ada di kepala: mental. Ada dua jenis polisi—yang satu bermental miskin, yang lain bermental kaya. Dan perbedaannya mencolok seperti siang dan malam.

Mari pelan-pelan kita urai dua jenis polisi yang sedang serius seperti menonton film India. Polisi Mental Miskin adalah benalu berseragam. Mereka malas, korup, haus pujian tapi takut kerja nyata. Mereka hanya sigap kalau ada “amplop”, bahasa kami harus ada DOA. Apa itu doa? Ini bukan minta bantuan sama Tuhan tapi DOA dengan singkatan Dana Operasional Awal dan Akhir.

Baca Juga :  Darurat Kebebasan Akademis, Dalam Upaya Membungkam Mahasiswa

Banyak polisi jadi pura-pura tuli kalau rakyat butuh bantuan. Mereka bangga dengan jabatan, bukan dengan pengabdian. Lebih sibuk cari panggung daripada membenahi sistem. Polisi jenis ini suka tampil garang ke rakyat kecil tapi bungkam saat berhadapan dengan orang berduit. Mereka jadi simbol kemunduran institusi.

Kalau ngak viral ngak akan ada tindakan, seperti lagu Bayar-bayar dari Band Sukatani. Mungkin Band Sukatani siap-siap terkurung kalau bahasa pasarnya tampa bantuan nitizen Indonesia yang sangat tajam dengan tulisan terkadang sampai menghujat yang luar biasa.

Sementara itu, Polisi Mental Kaya adalah segelintir yang masih waras. Mereka sadar kekuasaan itu bukan privilege, tapi amanah. Mereka tidak butuh disorot kamera untuk bekerja maksimal. Mereka belajar, berani membela kebenaran meski tak populer, dan tetap berdiri lurus meski tekanan datang dari atas. Polisi mental kaya tidak menjilat, tidak menjual harga diri, dan tidak ikut arus kalau arus itu salah arah.

Baca Juga :  Maknai Ramadhan 1446 H, Dirnarkoba : Merubah Lelah Manjadi Lilah.

Pertanyaannya: siapa yang lebih banyak hari ini?

Kalau kita jujur, polisi mental miskin masih terlalu dominan. Dan selama tipe ini dibiarkan tumbuh subur, institusi ini akan terus kehilangan respek. Yang punya mental kaya akan lelah, frustrasi, bahkan pergi. Dan kalau itu terjadi, jangan heran kalau masyarakat lebih percaya CCTV daripada polisi.

Sudah waktunya bersih-bersih. Bukan cuma di luar, tapi dari dalam: dari cara berpikir, cara bekerja, dan cara melihat makna “mengabdi”. Masih ada harapan dan semoga Indonesia akan hadir Polisi-polisi seperti Jendral Hoegeng Imam Santoso berikutnya bukan hanya Simbol di acara Hoegeng Awards saja. Ingat kejadian ini hanya di Film India dengan aktor ternama Amitabh Bachchan. Tabik pun.

Penulis : Hengki Padangratu

Berita Terkait

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum
Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal
“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”
Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah
KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H
Reformasi yang Mengukuhkan Status Quo
Kedai Warta Kopi Pamit, Sebuah Ruang Publik yang Menutup Pintu
“Kantor Sudut” di Stasiun KAI Tanjung Karang Catatan Rutin Seorang Pak Pulan
Berita ini 106 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 10:16 WIB

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum

Sabtu, 4 April 2026 - 11:55 WIB

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Selasa, 31 Maret 2026 - 08:06 WIB

“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:03 WIB

Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:55 WIB

KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H

Berita Terbaru

Mahasiswa

Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

Minggu, 19 Apr 2026 - 08:48 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com