Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah

 

berandalappung.com— Langkapura, fenomena perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal yang hampir setiap tahun terjadi di Indonesia, menunjukkan adanya keragaman cara pandang dalam memahami ketetapan agama.

Perbedaan tersebut lahir dari perbedaan metode ijtihad seperti rukyat al hilal dan hisab, seharusnya dipandang sebagai kekayaan literasi keagamaan, bukan sebagai sumber perpecahan di antara sesama muslim. Sebagai bangsa yang majemuk, masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan yang bersifat khilafiyah dengan tetap menjunjung tinggi toleransi, persaudaraan dan persatuan.

Di tengah keragaman tersebut, hadirnya 1 Syawal 1447 Hijriah tetap membawa makna yang sangat mendalam bagi para pecinta ramadan, pecinta salat tarawih, dan witir.

Idulfitri bukan sekadar hari kemenangan setelah menunaikan puasa selama sebulan penuh, tetapi juga hari yang menghadirkan rasa haru, syukur, dan refleksi. Ada kebahagiaan karena telah diberi kekuatan untuk menuntaskan ibadah puasa, namun di saat yang sama ada pula rasa kehilangan karena bulan yang penuh berkah, rahmat, dan magfirah telah berlalu.

Baca Juga :  Kedai Warta Kopi Pamit, Sebuah Ruang Publik yang Menutup Pintu

Oleh sebab itu, bagi pecinta Ramadan, Idulfitri memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perayaan; ia menjadi simbol kedekatan seorang hamba dengan Allah Swt., kesempatan untuk memperbaiki diri, serta momentum untuk memperbanyak rasa syukur. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“…Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”

Ayat ini menegaskan bahwa berakhirnya Ramadan harus disambut dengan takbir, rasa syukur, dan kesadaran bahwa seluruh ibadah yang dijalankan adalah bentuk petunjuk dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berhasil menuntaskan Ramadan, yaitu ampunan dari Allah Swt. Sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi:

إِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا إِلَى عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : يَا مَلَائِكَتِيْ كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ أَجْرَهُ إِنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٍ : يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ إِرْجِعُوْا إِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : يَا عِبَادِيْ صُمْتُمْ لِيْ وَأَفْطَرْتُمْ لِيْ فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ

Baca Juga :  Salat Idulfitri Perdana Sebagai Gubernur, Mirza Akan Tunaikan Salat Ied di Lapangan Enggal

Idulfitri tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat besar dan mendalam. Hari raya ini menjadi momentum untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama. Artinya, Idulfitri bukan hanya merayakan kemenangan pribadi dalam melawan hawa nafsu, tetapi juga memperkuat ikatan sosial, kekeluargaan, dan ukhuwah Islamiyah di tengah kehidupan bermasyarakat.

Dengan hadirnya hari raya Idulfitri 1447 H, semoga semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam bulan suci Ramadan terus hidup dan membawa perubahan positif dalam kehidupan umat Islam.

Mari bersama-sama membersihkan hati, menghilangkan rasa benci dan dengki, lalu menggantinya dengan marhamah, mahabbah, dan kasih sayang antar sesama. Dengan hati yang terbuka, pintu maaf yang seluas-luasnya, serta tatapan yang penuh kasih sayang, semoga Idulfitri benar-benar menjadi hari kemenangan yang menghadirkan harapan baru bagi kita semua.(***)

 

Editor : DR (can) Zaiyad Namiri, M.Pdi

Sumber Berita: Alex Buay Sako

Berita Terkait

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum
Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal
“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”
KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H
Reformasi yang Mengukuhkan Status Quo
Kedai Warta Kopi Pamit, Sebuah Ruang Publik yang Menutup Pintu
“Kantor Sudut” di Stasiun KAI Tanjung Karang Catatan Rutin Seorang Pak Pulan
Siapa Pemilik Grand Mercure Lampung? Nama Global, Jejak Lokal
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 10:16 WIB

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum

Sabtu, 4 April 2026 - 11:55 WIB

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Selasa, 31 Maret 2026 - 08:06 WIB

“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:03 WIB

Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:55 WIB

KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H

Berita Terbaru

Humaniora

Bantuan Menyusut, Warga Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung

Senin, 25 Mei 2026 - 22:14 WIB