“Kantor Sudut” di Stasiun KAI Tanjung Karang Catatan Rutin Seorang Pak Pulan

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 4 Januari 2026 - 09:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Screenshot

Screenshot

“Kantor Sudut” di Stasiun KAI Tanjung Karang Catatan Rutin Seorang Pak Pulan

berandalappung.com— Tanjung Karang, Namanya bukan Pulan. Ia meminta agar identitasnya disamarkan. Setiap pagi, sebelum pukul enam, lelaki sepuh itu sudah tiba di tempat kerjanya sebuah “Kantor” di kawasan Damri Komplek Stasiun Kereta Api Indonesia (KAI) Tanjung Karang.

Ritualnya nyaris tak pernah berubah. Ia menyapu lantai, menguras bak air, menata sabun, serta memastikan semua kebutuhan “kantor” siap digunakan. Sebelum kawasan itu dipenuhi karyawan dan calon penumpang bus Damri tujuan Jakarta, semuanya harus sudah rapi. Ia paham betul, selepas pagi datang, hiruk-pikuk tak terhindarkan.

Tempat kerja itu sebenarnya hanya Toilet yang ia sebut sebagai “kantor”, mulai menerima pasien. Karyawan Damri, calon penumpang, hingga keluarga pengantar silih berganti datang. Tarifnya sederhana Rp2.000 untuk buang air kecil, Rp5.000 untuk buang air besar atau mandi. Namun sistem pembayarannya tidak kaku.

“Terus terang saja, terserah,” ujarnya suatu dimalam kami mengantarkan salah satu penumpang. Jika pengunjung mau mengisi kotak administrasi, ia berterima kasih. Jika tidak, ia tak mempersoalkan.

Sekitar pukul 10.30 WIB, Pak Pulan menutup sementara “praktiknya”. Ia pulang ke Pasir Gintung, tempat ia tinggal sendirian. Usianya sekitar 77 tahun. Ia pensiun dari Damri 17 tahun lalu, setelah hampir 35 tahun bekerja. Tiga tahun terakhir, rumahnya terasa lebih sunyi. Istrinya telah meninggal dunia.

Baca Juga :  KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H

Anak-anaknya tiga orang sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing.

Menjelang sore, Pak Pulan kembali. Pukul lima petang, praktik kedua dimulai. Seperti klinik kecil tanpa papan nama, satu per satu pengunjung masuk untuk “konsultasi”. Kotak administrasi kembali disodorkan. Keramaian mencapai puncaknya antara pukul tujuh hingga sepuluh malam.

Baca Juga :  Melarat di Tumpukan Padi

Setelah itu, ia menutup hari. Hasil penjagaan WC sudut yang menempel di tembok Stasiun KAI Tanjung Karang dibagi dua sesuai kesepakatan. Tak banyak yang ia keluhkan.

“Hidup jangan dibawa pening,” katanya sambil menghisap rokok kreteknya perlahan. “Kalau ada masalah, jangan dibuat stres. Itu awal penyakit.”

Ia tersenyum, tipis tapi mantap. Ada optimisme yang tak meledak-ledak, tapi bertahan. Sebuah pelajaran hidup dari penjaga hajat publik yang nyaris tak pernah diperhatikan, namun selalu dibutuhkan.

Sehat selalu, Pak Pulan. Penjaga sunyi denyut kehidupan di Stasiun KAI Tanjung Karang.

Penulis : Hengki Irawan

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum
Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal
“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”
Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah
KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H
Reformasi yang Mengukuhkan Status Quo
Kedai Warta Kopi Pamit, Sebuah Ruang Publik yang Menutup Pintu
Siapa Pemilik Grand Mercure Lampung? Nama Global, Jejak Lokal
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 10:16 WIB

Saat Komisi III Jadi Sorotan, Antara Akuntabilitas dan Populisme Hukum

Sabtu, 4 April 2026 - 11:55 WIB

Menggugat Tuhan di Tengah Dentuman Rudal

Selasa, 31 Maret 2026 - 08:06 WIB

“Kala Kelas Belajar Menjadi Medan Perang”

Kamis, 19 Maret 2026 - 17:03 WIB

Hari Kemenangan dan Harapan Baru: 1 Syawal 1447 Hijriah

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:55 WIB

KAHMI-FORHATI Lampung Kembali Adakan Bakti Sosial Ramadan 1447H

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Kadis PSDA Disorot Usai Diduga Ancam Wartawan, HMI Bersuara Keras

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:11 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com