“Kantor Sudut” di Stasiun KAI Tanjung Karang Catatan Rutin Seorang Pak Pulan
berandalappung.com— Tanjung Karang, Namanya bukan Pulan. Ia meminta agar identitasnya disamarkan. Setiap pagi, sebelum pukul enam, lelaki sepuh itu sudah tiba di tempat kerjanya sebuah “Kantor” di kawasan Damri Komplek Stasiun Kereta Api Indonesia (KAI) Tanjung Karang.
Ritualnya nyaris tak pernah berubah. Ia menyapu lantai, menguras bak air, menata sabun, serta memastikan semua kebutuhan “kantor” siap digunakan. Sebelum kawasan itu dipenuhi karyawan dan calon penumpang bus Damri tujuan Jakarta, semuanya harus sudah rapi. Ia paham betul, selepas pagi datang, hiruk-pikuk tak terhindarkan.
Tempat kerja itu sebenarnya hanya Toilet yang ia sebut sebagai “kantor”, mulai menerima pasien. Karyawan Damri, calon penumpang, hingga keluarga pengantar silih berganti datang. Tarifnya sederhana Rp2.000 untuk buang air kecil, Rp5.000 untuk buang air besar atau mandi. Namun sistem pembayarannya tidak kaku.
“Terus terang saja, terserah,” ujarnya suatu dimalam kami mengantarkan salah satu penumpang. Jika pengunjung mau mengisi kotak administrasi, ia berterima kasih. Jika tidak, ia tak mempersoalkan.
Sekitar pukul 10.30 WIB, Pak Pulan menutup sementara “praktiknya”. Ia pulang ke Pasir Gintung, tempat ia tinggal sendirian. Usianya sekitar 77 tahun. Ia pensiun dari Damri 17 tahun lalu, setelah hampir 35 tahun bekerja. Tiga tahun terakhir, rumahnya terasa lebih sunyi. Istrinya telah meninggal dunia.
Anak-anaknya tiga orang sudah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing.
Menjelang sore, Pak Pulan kembali. Pukul lima petang, praktik kedua dimulai. Seperti klinik kecil tanpa papan nama, satu per satu pengunjung masuk untuk “konsultasi”. Kotak administrasi kembali disodorkan. Keramaian mencapai puncaknya antara pukul tujuh hingga sepuluh malam.
Setelah itu, ia menutup hari. Hasil penjagaan WC sudut yang menempel di tembok Stasiun KAI Tanjung Karang dibagi dua sesuai kesepakatan. Tak banyak yang ia keluhkan.
“Hidup jangan dibawa pening,” katanya sambil menghisap rokok kreteknya perlahan. “Kalau ada masalah, jangan dibuat stres. Itu awal penyakit.”
Ia tersenyum, tipis tapi mantap. Ada optimisme yang tak meledak-ledak, tapi bertahan. Sebuah pelajaran hidup dari penjaga hajat publik yang nyaris tak pernah diperhatikan, namun selalu dibutuhkan.
Sehat selalu, Pak Pulan. Penjaga sunyi denyut kehidupan di Stasiun KAI Tanjung Karang.
Penulis : Hengki Irawan
Editor : Alex Buay Sako











