Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 Desember 2024 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tadi malam, angin berhembus kencang. Untung saja ada sajian coffe di Lee. Ilustrasi: berandalappung.com

Tadi malam, angin berhembus kencang. Untung saja ada sajian coffe di Lee. Ilustrasi: berandalappung.com

Bandar Lampung (berandalappung.com) – Tadi malam, angin kencang berhembus, menusuk hingga ke tulang. Untung saja, di meja sudah ada secangkir kopi robusta milik Lee, sang penyelamat dari gigitan dingin malam.

Cafe ini, entah bagaimana caranya, selalu ramai. Pagi, siang, sore, hingga larut malam, bahkan di hari libur. Mungkin kalau kiamat diumumkan esok hari pun, Lee tetap buka.

Di salah satu sudut cafe, obrolan panjang dan menegangkan terjadi.

Lima orang, semua dengan wajah serius, tengah membahas sesuatu yang tampaknya sangat pentingpemilihan kepala sekolah di madrasah masing-masing.

“Ini bukan soal suka atau tidak suka, ini soal kemampuan memimpin!” kata Pak Ramli, dengan nada tinggi.

Baca Juga :  Di Ujung Tanduk

Tangannya menghentak meja, membuat sendok kopi bergemerincing.

“Tapi, Ram, jangan lupa, pemimpin itu juga harus disenangi. Kalau nggak, murid-murid nggak bakal nurut,” balas Bu Siti, sambil menyeruput kopinya.

Pak Ahmad, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya angkat bicara. “Yang penting bukan itu semua.

Yang penting, siapa yang dekat dengan kepala yayasan. Sudah, selesai.”

Semua mata langsung menatap Pak Ahmad. Dia melanjutkan dengan santai, “Percuma kalian berdebat soal visi, misi, atau program kerja. Di ujungnya, yang dipilih itu ya yang paling rajin bawa oleh-oleh ke ruang kepala yayasan.”

Obrolan langsung hening. Hanya terdengar suara mesin espresso dan piring yang beradu di dapur.

Baca Juga :  Es Dingin di Bawah Langit Malam

Pak Ramli menarik napas panjang, seolah-olah hendak memprotes, tapi malah mengangkat cangkir kopinya dan meneguknya.

“Yah, kalau begitu, kenapa kita masih repot-repot rapat? Tinggal kasih nama saja ke yayasan, beres,” kata Pak Ramli akhirnya, dengan nada menyerah.

Bu Siti tersenyum kecil. “Karena, Ram, rapat itu hanya formalitas. Biar terlihat demokratis. Padahal, hasilnya sudah ditentukan sejak jauh hari.”

Di luar, angin masih berhembus kencang. Cafe Lee tetap penuh, seolah dunia ini tidak memiliki masalah yang tak bisa diselesaikan dengan secangkir kopi.

Tapi di sudut itu, lima orang tahu, demokrasi kecil mereka hanyalah ilusi seperti buih di atas kopi yang cepat hilang.

Berita Terkait

Uncle Sul, PJK Negeri Ngapung
Rapat Kabinet, Negara Kaya Vs Negara Miskin
Es Dingin di Bawah Langit Malam
Bayangan di Wajah Kota 
Penjaga Suara, Pengangguran Setelah Pesta
Ketika Amplop Mengalahkan Otak, Drama Seleksi di Negeri Pura-Pura
Parlente di Negeri Aman Sentosa
Banteng Tersungkur karena Lupa Rakyat, Garuda Terbang Tinggi dengan Janji di Langit
Berita ini 82 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Desember 2024 - 11:28 WIB

Uncle Sul, PJK Negeri Ngapung

Rabu, 4 Desember 2024 - 17:53 WIB

Rapat Kabinet, Negara Kaya Vs Negara Miskin

Rabu, 4 Desember 2024 - 11:28 WIB

Es Dingin di Bawah Langit Malam

Selasa, 3 Desember 2024 - 13:30 WIB

Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi

Minggu, 1 Desember 2024 - 17:11 WIB

Bayangan di Wajah Kota 

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Kadis PSDA Disorot Usai Diduga Ancam Wartawan, HMI Bersuara Keras

Jumat, 1 Mei 2026 - 15:11 WIB

Berita Lainnya

Serangan Verbal ke Jurnalis, L@pakk Minta Sekda Lampung Bertindak

Jumat, 1 Mei 2026 - 11:19 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com