Bandar Lampung (berandalappung.com) – Tadi malam, angin kencang berhembus, menusuk hingga ke tulang. Untung saja, di meja sudah ada secangkir kopi robusta milik Lee, sang penyelamat dari gigitan dingin malam.
Cafe ini, entah bagaimana caranya, selalu ramai. Pagi, siang, sore, hingga larut malam, bahkan di hari libur. Mungkin kalau kiamat diumumkan esok hari pun, Lee tetap buka.
Di salah satu sudut cafe, obrolan panjang dan menegangkan terjadi.
Lima orang, semua dengan wajah serius, tengah membahas sesuatu yang tampaknya sangat pentingpemilihan kepala sekolah di madrasah masing-masing.
“Ini bukan soal suka atau tidak suka, ini soal kemampuan memimpin!” kata Pak Ramli, dengan nada tinggi.
Tangannya menghentak meja, membuat sendok kopi bergemerincing.
“Tapi, Ram, jangan lupa, pemimpin itu juga harus disenangi. Kalau nggak, murid-murid nggak bakal nurut,” balas Bu Siti, sambil menyeruput kopinya.
Pak Ahmad, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya angkat bicara. “Yang penting bukan itu semua.
Yang penting, siapa yang dekat dengan kepala yayasan. Sudah, selesai.”
Semua mata langsung menatap Pak Ahmad. Dia melanjutkan dengan santai, “Percuma kalian berdebat soal visi, misi, atau program kerja. Di ujungnya, yang dipilih itu ya yang paling rajin bawa oleh-oleh ke ruang kepala yayasan.”
Obrolan langsung hening. Hanya terdengar suara mesin espresso dan piring yang beradu di dapur.
Pak Ramli menarik napas panjang, seolah-olah hendak memprotes, tapi malah mengangkat cangkir kopinya dan meneguknya.
“Yah, kalau begitu, kenapa kita masih repot-repot rapat? Tinggal kasih nama saja ke yayasan, beres,” kata Pak Ramli akhirnya, dengan nada menyerah.
Bu Siti tersenyum kecil. “Karena, Ram, rapat itu hanya formalitas. Biar terlihat demokratis. Padahal, hasilnya sudah ditentukan sejak jauh hari.”
Di luar, angin masih berhembus kencang. Cafe Lee tetap penuh, seolah dunia ini tidak memiliki masalah yang tak bisa diselesaikan dengan secangkir kopi.
Tapi di sudut itu, lima orang tahu, demokrasi kecil mereka hanyalah ilusi seperti buih di atas kopi yang cepat hilang.











