Bandar Lampung (berandalappung.com) – Di negeri bernama Nirwana Raya, Pemilihan Akbar selalu menjadi ajang meriah yang katanya penuh semangat keadilan dan keterbukaan.
Namun, bagi sebagian orang, pesta ini lebih menyerupai sandiwara mewah, terutama bagi para penjaga aturan yang dikenal sebagai Tim Pengawas Adil atau disingkat TPA.
TPA adalah simbol pengawasan rakyat, memastikan segalanya berjalan sesuai aturan.
Namun, di balik jas rapi, sepatu mengilap, dan rambut klimis ala borjuis barat, ada cerita lain yang tak semua orang tahu.
Setiap kali Pemilihan Akbar digelar, para anggota TPA sibuk, bukan dengan mencatat pelanggaran, tetapi dengan memesan ruang rapat di hotel-hotel bintang lima.
Hotel ke hotel menjadi rute rutin mereka, dengan dalih rapat koordinasi atau monitoring lapangan.
Padahal, lebih sering terlihat gelas kopi mahal dan camilan impor menghiasi meja mereka dibandingkan berkas laporan pelanggaran.
Di salah satu hotel megah di pusat kota Nirwana Raya, seorang anggota TPA bernama Satria sedang duduk santai di lobi.
Ia mengenakan jas mahal yang dibelinya dari gaji rapat-rapat tanpa akhir. Rambutnya disisir rapi, mengkilap seperti baru keluar dari salon eksklusif.
Di depannya, sebuah laptop terbuka dengan tampilan dokumen kosong. “Pelanggaran nihil,” tulisnya sambil menyeruput kopi hitam seharga makan siang seorang buruh.
Rekan Satria, Bima, datang dengan senyuman lebar. “Bagaimana laporanmu?” tanyanya.
“Semua aman terkendali,” jawab Satria santai. “Tidak ada pelanggaran.”
Bima tertawa kecil. “Tentu saja tidak ada. Siapa yang mau repot mencari kalau semua sudah nyaman seperti ini?”
Percakapan mereka terhenti ketika seorang staf hotel mendekat, membawa nampan berisi kudapan mahal. “Rapatnya siap dimulai, Pak,” katanya sopan.
Rapat itu sebenarnya hanyalah formalitas. Anggota TPA lainnya masuk ke ruangan dengan pakaian parlente, membawa agenda kosong.
Rambut klimis mereka berkilau di bawah lampu kristal ballroom hotel. Mereka berbicara dengan nada serius, menyebut istilah-istilah teknis, tetapi tidak ada pembahasan nyata.
Sementara itu, di luar hotel, seorang warga bernama Sumiati sedang mengeluh. Di desanya, banyak spanduk kampanye liar yang menyalahi aturan.
Ia mencoba melaporkan hal itu ke TPA cabang desa, tetapi laporan itu entah hilang ke mana. “Katanya mengawasi, tapi spanduk liar saja dibiarkan,” gerutunya.
Hari-hari berlalu, dan laporan “Tidak ada pelanggaran” terus disampaikan oleh TPA. Dari hotel ke hotel, mereka berkeliling, menciptakan narasi bahwa Pemilihan Akbar berjalan lancar tanpa cela.
Di akhir periode pengawasan, TPA menggelar konferensi pers mewah di salah satu ballroom hotel ternama.
Para jurnalis duduk dengan penasaran, menunggu laporan yang katanya objektif dan transparan.
Satria berdiri di podium, mengenakan jas mahalnya. Dengan suara lantang, ia berkata,“Kami dengan bangga melaporkan bahwa tidak ada pelanggaran signifikan selama proses Pemilihan Akbar. Semua berjalan dengan baik, mencerminkan kualitas tata kelola negeri ini.”
Para jurnalis hanya bisa mengangguk, beberapa dari mereka tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, tetapi memilih diam.
Setelah acara selesai, Satria dan rekan-rekannya bersulang di ruang VIP hotel. “Kita berhasil menjaga reputasi negeri ini,” katanya sambil tertawa kecil.
Bima mengangguk. “Dan tentu saja, kita juga menjaga kenyamanan kita sendiri.”
Di luar sana, warga seperti Sumiati hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka tahu, pengawasan hanya ada di atas kertas, bukan di lapangan.
Namun, seperti biasa, suara mereka tenggelam dalam hingar-bingar acara akbar palsu yang terus berlangsung di negeri yang katanya aman sentosa.











