Bantuan Menyusut, Warga Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 22:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bantuan Menyusut, Warga Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung

 

berandalappung.com— Tanjung Karang, krisis kemanusiaan di Afghanistan memasuki fase yang semakin memilukan. Di Provinsi Ghor, wilayah pegunungan di bagian tengah negara itu, kemiskinan ekstrem memaksa sejumlah keluarga menjual anak kandung mereka demi bertahan hidup.

Setiap pagi, ratusan pria berkumpul di alun-alun Kota Chaghcharan berharap mendapat pekerjaan harian. Namun, lapangan kerja nyaris tak tersedia. Sebagian besar pulang tanpa membawa uang, sementara keluarga mereka menunggu di rumah dalam ancaman kelaparan.

“Saya hidup dalam ketakutan anak-anak saya mati kelaparan,” ujar Juma Khan, 45 tahun, seorang buruh harian yang mengaku hanya bekerja tiga hari dalam enam pekan terakhir, seperti dikutip BBC, Senin, 25 Mei 2026.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat situasi Afghanistan kini berada pada titik kritis. Tiga dari empat warga negara itu disebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup. Sedikitnya 4,7 juta orang diperkirakan berada di ambang kelaparan.

Baca Juga :  Diskusi Publik BEM FEB Unila Terancam Gagal, Balon Walikota Bandar Lampung Tidak Bisa di Konfirmasi

Krisis memburuk setelah bantuan internasional terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi donor terbesar Afghanistan, memangkas hampir seluruh bantuannya tahun lalu. Sejumlah negara Barat lain, termasuk Inggris, turut mengurangi kontribusi kemanusiaan mereka.

Dalam tekanan ekonomi yang tak tertahankan, sebagian keluarga mengaku terpaksa menjual anak perempuan mereka untuk dinikahkan dini atau dijadikan pekerja rumah tangga. Uang hasil transaksi itu dipakai untuk membeli makanan bagi anggota keluarga lain.

“Aku rela menjual putri-putriku. Jika satu anak perempuan dijual, anak-anak lain bisa makan setidaknya selama empat tahun,” kata Abdul Rashid Azimi sambil memeluk dua anak kembarnya yang masih berusia tujuh tahun.

Warga lain, Saeed Ahmad, mengatakan ia menjual putrinya yang berusia lima tahun kepada kerabat sendiri demi membiayai operasi medis anak tersebut.

“Kalau saya punya uang, saya tidak akan pernah melakukan ini,” ujarnya.

Organisasi kemanusiaan menyebut praktik pernikahan anak meningkat sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Pemerintah Taliban melarang pendidikan bagi anak perempuan serta membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan, mempersempit peluang ekonomi keluarga.

Baca Juga :  Aktivis Perempuan Lampung Wakili Sumatera di Sekolah Jagat, Gagas Rumah Ibadah Hijau

Taliban menilai kondisi saat ini merupakan warisan keruntuhan pemerintahan sebelumnya pasca-penarikan pasukan asing dari Afghanistan. Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengatakan pemerintah mewarisi kemiskinan dan pengangguran akibat perang berkepanjangan selama dua dekade.

Meski Taliban mengklaim tengah menjalankan proyek ekonomi dan pembangunan infrastruktur untuk menekan angka kemiskinan, lembaga kemanusiaan internasional memperingatkan jutaan warga Afghanistan masih membutuhkan bantuan darurat untuk bertahan hidup.

Potret krisis itu juga terlihat di rumah sakit utama Chaghcharan. Ruang perawatan bayi dipenuhi bayi lahir prematur dan mengalami malnutrisi.

Seorang bayi perempuan prematur dilaporkan meninggal hanya beberapa jam setelah dilahirkan. Keluarganya mengatakan sang ibu selama masa kehamilan hanya mampu mengonsumsi roti dan teh karena keterbatasan pangan.(***)

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Ketua IJP Lampung Tolak Minta Maaf Sekda Provinsi Lampung, Masalahnya Ada di Dina
Catatan Nyimak Podcast Calon Rektor Unila 2027-2031 Dr. Budiyono, Kampus Unila yang Ceria dan Menginjak Bumi
Gerindra Lampung Mengawal Kasus Kekerasan Ibu dan Anak asal Lampung Utara
Aiptu Husni ” Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara”
Komjen Rudi Setiawan Dukung HPN dan Porwanas 2027 Digelar di Lampung
Hak Insentif Nakes Sudah Dibayarkan
Antisipasi Banjir Camat Teluk Betung Utara, Turun Bersih-bersih 
Gendang Persadaan Ginting Mergana Sukses Digelar, Perkuat Persatuan dan Pelestarian Budaya Karo di Lampung
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:10 WIB

Ketua IJP Lampung Tolak Minta Maaf Sekda Provinsi Lampung, Masalahnya Ada di Dina

Kamis, 3 September 2026 - 21:18 WIB

Catatan Nyimak Podcast Calon Rektor Unila 2027-2031 Dr. Budiyono, Kampus Unila yang Ceria dan Menginjak Bumi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:42 WIB

Gerindra Lampung Mengawal Kasus Kekerasan Ibu dan Anak asal Lampung Utara

Rabu, 29 Juli 2026 - 20:49 WIB

Aiptu Husni ” Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara”

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:18 WIB

Komjen Rudi Setiawan Dukung HPN dan Porwanas 2027 Digelar di Lampung

Berita Terbaru