Bantuan Menyusut, Warga Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung
berandalappung.com— Tanjung Karang, krisis kemanusiaan di Afghanistan memasuki fase yang semakin memilukan. Di Provinsi Ghor, wilayah pegunungan di bagian tengah negara itu, kemiskinan ekstrem memaksa sejumlah keluarga menjual anak kandung mereka demi bertahan hidup.
Setiap pagi, ratusan pria berkumpul di alun-alun Kota Chaghcharan berharap mendapat pekerjaan harian. Namun, lapangan kerja nyaris tak tersedia. Sebagian besar pulang tanpa membawa uang, sementara keluarga mereka menunggu di rumah dalam ancaman kelaparan.
“Saya hidup dalam ketakutan anak-anak saya mati kelaparan,” ujar Juma Khan, 45 tahun, seorang buruh harian yang mengaku hanya bekerja tiga hari dalam enam pekan terakhir, seperti dikutip BBC, Senin, 25 Mei 2026.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat situasi Afghanistan kini berada pada titik kritis. Tiga dari empat warga negara itu disebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup. Sedikitnya 4,7 juta orang diperkirakan berada di ambang kelaparan.
Krisis memburuk setelah bantuan internasional terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi donor terbesar Afghanistan, memangkas hampir seluruh bantuannya tahun lalu. Sejumlah negara Barat lain, termasuk Inggris, turut mengurangi kontribusi kemanusiaan mereka.
Dalam tekanan ekonomi yang tak tertahankan, sebagian keluarga mengaku terpaksa menjual anak perempuan mereka untuk dinikahkan dini atau dijadikan pekerja rumah tangga. Uang hasil transaksi itu dipakai untuk membeli makanan bagi anggota keluarga lain.
“Aku rela menjual putri-putriku. Jika satu anak perempuan dijual, anak-anak lain bisa makan setidaknya selama empat tahun,” kata Abdul Rashid Azimi sambil memeluk dua anak kembarnya yang masih berusia tujuh tahun.
Warga lain, Saeed Ahmad, mengatakan ia menjual putrinya yang berusia lima tahun kepada kerabat sendiri demi membiayai operasi medis anak tersebut.
“Kalau saya punya uang, saya tidak akan pernah melakukan ini,” ujarnya.
Organisasi kemanusiaan menyebut praktik pernikahan anak meningkat sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Pemerintah Taliban melarang pendidikan bagi anak perempuan serta membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan, mempersempit peluang ekonomi keluarga.
Taliban menilai kondisi saat ini merupakan warisan keruntuhan pemerintahan sebelumnya pasca-penarikan pasukan asing dari Afghanistan. Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, mengatakan pemerintah mewarisi kemiskinan dan pengangguran akibat perang berkepanjangan selama dua dekade.
Meski Taliban mengklaim tengah menjalankan proyek ekonomi dan pembangunan infrastruktur untuk menekan angka kemiskinan, lembaga kemanusiaan internasional memperingatkan jutaan warga Afghanistan masih membutuhkan bantuan darurat untuk bertahan hidup.
Potret krisis itu juga terlihat di rumah sakit utama Chaghcharan. Ruang perawatan bayi dipenuhi bayi lahir prematur dan mengalami malnutrisi.
Seorang bayi perempuan prematur dilaporkan meninggal hanya beberapa jam setelah dilahirkan. Keluarganya mengatakan sang ibu selama masa kehamilan hanya mampu mengonsumsi roti dan teh karena keterbatasan pangan.(***)
Editor : Alex Buay Sako











