Bandar Lampung (berandalappung.com) – Di sebuah desa kecil di bawah naungan Kerajaan Nusakerti, dua calon kepala kerajaan, Aryo (calon 08) dan Mohir (calon 09), sedang berlomba mendapatkan dukungan rakyat.
Desa-desa ramai memperbincangkan siapa yang layak memimpin. Di tengah kampanye sengit, terselip kisah menarik di sebuah warung sayur milik Ibu Rani.
Pagi itu, warung sayur ramai oleh pembeli. Ibu Ina, Ibu Ami, dan Ibu Nida tengah berbelanja kebutuhan dapur sambil mengobrol.
“Aduh, nanti pilih siapa ya? Aryo atau Mohir?” tanya Ibu Ina, sambil memilih tomat.
Ibu Ami menimpali, “Katanya, ada yang bagi-bagi amplop putih. Isinya lima rupiah. Kalau dapat, mau pilih yang mana?”
Ibu Nida, yang sedang menghitung cabai, tertawa kecil.
“Kalau cuma lima rupiah, mau buat apa? Lagipula, masa pemimpin kita dihargai segitu?”
Ibu Rani, sang pemilik warung, tersenyum sambil menyusun kangkung. “Ibu-ibu, jangan sampai suara kita dibeli.
Lima rupiah hari ini tidak akan menyelesaikan masalah kita lima tahun ke depan.”
“Tapi, Bu Rani,” ujar Ibu Ina, “kadang, orang tergoda juga. Uang itu kan butuh.”
Ibu Rani menatap mereka serius. “Betul, uang butuh.
Tapi pemimpin yang baik lebih penting. Kalau kita memilih karena uang, kita menggadaikan masa depan anak-anak kita.
Pemimpin yang benar akan memikirkan rakyat, bukan hanya dirinya sendiri.”
Percakapan itu membuat suasana warung hening sejenak. Ibu Ami akhirnya bersuara, “Kalau begitu, saya pilih yang programnya jelas. Yang benar-benar peduli pada rakyat.”
Ibu Nida mengangguk. “Saya juga. Tidak mau suara saya dibeli murah. Suara saya berharga, untuk masa depan kerajaan ini.”
Percakapan berlanjut tentang siapa yang lebih pantas memimpin.
Namun satu hal pasti, mereka sepakat: suara mereka tidak akan dibeli.
Pesan Moral:
Politik uang merugikan masyarakat. Lima rupiah hari ini tidak sebanding dengan lima tahun penderitaan akibat salah memilih pemimpin.
Sebagai rakyat, kita harus menggunakan hak suara dengan bijak, memilih berdasarkan kualitas, program, dan integritas calon, bukan karena iming-iming sesaat.
Suara adalah amanah, bukan barang dagangan.











