Bandar Lampung (berandalappung.com) – Di negeri bernama Makarjaya, Pemilihan Raya menjadi ajang sakral yang digadang-gadang sebagai jalan menuju keadilan.
Namun, seperti kebiasaan buruk yang tak kunjung hilang, bayangan amplop tebal dan pesanan terus menghantui proses pemilihan penjaga dan pengawasnya.
Dua lembaga penting, yang disebut Sang Pelaksana Amanah dan Sang Penjaga Ketertiban, selalu mengundang harapan sekaligus kecurigaan.
Dalam proses rekrutmen mereka, digembar-gemborkan bahwa ujian berbasis komputer, atau yang dikenal sebagai CAT (Cermat, Akurat, Tuntas), adalah penentu utama bagi mereka yang ingin masuk.
Para pelamar datang dengan harapan, membawa segenggam semangat dan setumpuk buku panduan.
Di sebuah desa kecil bernama Sendang Asih, seorang pemuda bernama Raksa ikut mendaftar sebagai calon anggota Sang Penjaga Ketertiban.
Raksa adalah lulusan terbaik dari universitas negeri dengan gelar di bidang hukum.
Ia yakin, dengan kecerdasannya dan dedikasi terhadap integritas, ia memiliki peluang besar.
“Jika aku lulus, aku akan menjadi bagian dari perubahan,” pikirnya optimis.
Hari ujian tiba, dan Raksa berhasil meraih nilai tertinggi di CAT.
Ia tersenyum bangga, merasa langkah pertamanya menuju cita-cita telah tercapai. Namun, euforia itu hanya bertahan sehari.
Esoknya, kabar tak sedap mulai berembus.
“Yang penting bukan nilai CAT, tapi ketebalan amplopmu,” bisik seorang tetangga yang pernah bekerja di lembaga serupa.
Raksa hanya tertawa kecil, menganggapnya sebagai omong kosong.
Tapi kegelisahan mulai merayap ketika ia mendengar seorang peserta lain dengan nilai CAT jauh lebih rendah tiba-tiba masuk daftar rekomendasi.
Raksa mencoba mengabaikan, hingga pada hari wawancara, ia benar-benar melihat kenyataan itu.
Di ruang tunggu, seorang peserta bernama Bismo dengan nilai CAT yang bahkan tak mencapai ambang batas terlihat santai.
“Raksa, nilai tinggi tak menjamin. Kau bawa apa untuk mereka?” tanya Bismo sambil tersenyum licik.
Raksa mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”
Bismo hanya mengangkat bahu. “Kalau amplopmu kosong, jangan terlalu berharap. Pesanan sudah masuk.”
Raksa tertegun. Ia mendengar kabar itu, tapi tak pernah menyangka akan menyaksikannya sendiri.
Ketika namanya tidak masuk dalam daftar akhir, meski ia yakin telah menjawab semua pertanyaan dengan baik, rasa kecewa itu nyata.
Proses yang sama terjadi di Sang Pelaksana Amanah.
Seorang tetangga Raksa, Nirmala, seorang ibu rumah tangga cerdas yang punya rekam jejak kerja di tingkat desa, ikut mendaftar.
Namun, meskipun nilai dan pengalamannya memenuhi syarat, namanya juga tidak tertera di daftar akhir.
“Aku tak punya uang untuk itu,” ucap Nirmala getir ketika ditanya.
Di sisi lain, nama-nama yang lolos menjadi misteri bagi banyak orang.
Beberapa bahkan tak dikenal di komunitas, dan kabarnya berasal dari pesanan khusus pihak tertentu. “Ini semua sudah diatur,” desah Nirmala.
Setelah itu, Raksa hanya bisa menyaksikan ironi yang terjadi di depan matanya.
Mereka yang duduk sebagai penjaga atau pengawas lebih sering terlibat dalam rapat-rapat penuh basa-basi daripada menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh.
Janji independensi dan profesionalisme seolah hanya kata-kata tanpa makna.
Di warung kopi, suara-suara sinis bergema. “Pintar saja percuma di negeri ini,” ujar seorang pelanggan sambil menyeruput kopi hitam.
“Yang penting amplop tebal. Kalau tidak, ya, jadi penonton saja.”
Raksa mendengar percakapan itu dengan perasaan campur aduk.
Ia tahu, perjuangan untuk integritas adalah jalan yang terjal, tetapi ia juga tahu, jika semua orang menyerah, negeri ini hanya akan terus tenggelam dalam lingkaran setan.
Di dalam hatinya, ia berjanji, meski kini kalah, ia tak akan berhenti berjuang.
Karena di balik ironi, masih ada harapan kecil bahwa satu hari, keadilan bukan lagi milik mereka yang memiliki amplop, melainkan milik mereka yang berani memperjuangkannya.
Dan di negeri Makarjaya, satire ini terus hidup, menjadi kisah yang diulang-ulang, sampai suatu hari, seseorang benar-benar mematahkan tradisinya. Atau mungkin, itu hanya angan-angan.






