Catatan Nyimak Podcast Calon Rektor Unila 2027-2031 Dr. Budiyono, Kampus Unila yang Ceria dan Menginjak Bumi

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 3 September 2026 - 21:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Nyimak Podcast Calon Rektor Unila 2027-2031 Dr. Budiyono, Kampus Unila yang Ceria dan Menginjak Bumi

 

berandalappung.com— Jakarta, saya menyimak video podcast Bang Budi, panggilan kami terhadap Dr. Budiyono, SH,MH, bakal calon rektor (Unila) Universitas Lampung. Semakin lama menyimak, semakin terasa bahwa yang sedang dibicarakan Bang Budi sebenarnya bukan semata-mata soal siapa yang layak menjadi rektor. Ia sedang berbicara tentang kampus seperti apa yang kita inginkan.

Di situlah menariknya. Ketika ditanya apa yang akan menjadi prioritasnya jika dipercaya memimpin universitas, jawabannya cepat dan sederhana: riset. Penelitian yang berdampak pada masyarakat.

Bagi saya, apa yang dikatakannya bukan sekadar jawaban. Ini adalah jawaban esensial, jawaban yang jika benar-benar dijalankan bisa mengurai banyak persoalan sekaligus.

Sebab selama ini, kita sering terjebak dalam cara pandang bahwa kemajuan kampus dapat diukur dari gedung yang megah, banyaknya program studi, panjangnya daftar profesor, jumlah jurnal yang terbit, atau peringkat universitas.

Semua itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: untuk apa semua itu jika ilmu yang diproduksi kampus tidak pernah benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat?

Di sinilah gagasan tentang riset yang berdampak menjadi penting. Kampus tidak boleh selamanya menjadi menara gading—tinggi, megah, penuh pengetahuan, tetapi terasa jauh dari tanah tempat ia berdiri.Kampus harus turun ke bumi.

Turun ke desa-desa. Turun ke pasar. Turun ke sekolah. Turun ke sawah dan perkebunan. Turun ke ruang-ruang masyarakat yang sedang menghadapi persoalan nyata.Kemiskinan tidak selesai hanya dengan seminar tentang kemiskinan.

Persoalan lingkungan tidak akan berubah hanya karena penelitian tentang lingkungan memenuhi jurnal. Pendidikan masyarakat tidak otomatis membaik hanya karena kampus menghasilkan banyak sarjana pendidikan.

Ilmu harus bekerja. Riset harus menemukan persoalan, menghasilkan solusi, lalu memastikan solusi itu benar-benar memberi manfaat. Karena itu, kampus idealnya bukan institusi yang membuat masyarakat merasa kecil ketika berhadapan dengannya.

Baca Juga :  Senat Unila Tetapkan Muhammad Akib Jadi Ketua Panitia Pemilihan Rektor 2027–2031

Kampus justru harus hadir sebagai tetangga yang membantu, sebagai rumah pengetahuan yang pintunya terbuka, sebagai tempat masyarakat menemukan jawaban atas persoalan yang mereka hadapi.

Kampus harus egaliter bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam perilaku dan kebijakan.Menariknya, gagasan semacam itu keluar dari Bang Budi dengan gaya yang sangat khas: santai, tidak menggurui, bahkan cenderung bercanda. Tetapi di balik kesantaian itu ada sikap.

Bang Budi memang bukan tipe senior yang sibuk membangun jarak dengan junior. Ia tidak terlihat terobsesi menjadi patron. Ia juga tidak menempatkan dirinya sebagai intelektual yang harus selalu berdiri di atas mimbar dan memberikan petuah kepada orang lain.

Ia lebih seperti orang yang nyaman duduk bersama, mendengar, berdiskusi, dan sesekali tertawa. Mungkin justru karakter seperti inilah yang dibutuhkan sebuah kampus. Pemimpin yang tidak merasa harus selalu tampak paling pintar di ruangan.

Sebab universitas bukan kerajaan yang membutuhkan seorang penguasa. Universitas adalah ruang bersama tempat pikiran-pikiran berbeda bertemu, bertabrakan, diuji, dan kemudian melahirkan pengetahuan baru.

Karena itu, saya membayangkan jika Bang Budi dipercaya menjadi rektor, wajah rektorat juga akan sedikit banyak mencerminkan dirinya: rileks, terbuka, tidak berjarak, senang tertawa, tetapi tetap memiliki sikap ketika berhadapan dengan persoalan prinsip. Dan saya kira, sikap itu bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Dalam video tersebut, ketika berbicara tentang penegak hukum, Bang Budi mengatakan bahwa seseorang yang memilih menjadi penegak hukum harus siap hidup dengan gaji yang pas-pasan. Kalimat yang terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya tidak sederhana.

Baca Juga :  Akademisi Unila, Budiyono Sebut Sentra Gakumdu Harus Tindak Tegas Oknum KPU, PPK dan Panwascam

Di tengah zaman ketika jabatan kerap dibaca sebagai jalan menuju kenyamanan, kalimat semacam itu mengingatkan kita bahwa ada profesi yang semestinya pertama-tama dibangun dari integritas, bukan kalkulasi keuntungan.

Saya kira, hanya orang yang punya pandangan cukup matang tentang kehidupan yang berani mengatakan hal seperti itu. Karena itu, kalau hari ini ada yang mendukung atau ikut memperjuangkan Bang Budi menjadi rektor, menurut saya alasannya jangan berhenti pada hubungan pertemanan, kedekatan, atau karena ia adalah senior yang kita kenal.

Dukungan seharusnya diberikan karena gagasannya layak diperjuangkan. Kita membutuhkan Unila yang tidak hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, tetapi mampu membaca persoalan di luar pagar kampus.

Kita membutuhkan kampus yang tidak sekadar menghasilkan lulusan, tetapi menghasilkan pengetahuan. Kita membutuhkan riset yang tidak berhenti sebagai laporan pertanggungjawaban akademik, melainkan menjadi jalan keluar bagi persoalan masyarakat.

Dan kita membutuhkan pemimpin kampus yang memahami bahwa universitas bukan menara untuk melihat masyarakat dari kejauhan. Universitas adalah jembatan untuk mendekat kepada masyarakat.

Barangkali itulah ukuran paling sederhana tentang kampus yang besar: bukan seberapa tinggi ia berdiri, tetapi seberapa jauh ilmu yang dilahirkannya mampu menjangkau kehidupan manusia.

Dan sekarang saya baru tahu satu hal lagi tentang Bang Budi. Ternyata ia anak UKMBS.Teater pula. Mungkin itu juga bukan kebetulan. Sebab orang teater, setidaknya dalam proses belajarnya, akrab dengan satu hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin: membaca manusia. Membaca watak. Membaca kegelisahan. Membaca konflik. Membaca kehidupan.

Dan mungkin, pada akhirnya, kampus memang tidak hanya membutuhkan rektor yang pandai mengelola universitas.Kampus membutuhkan pemimpin yang mampu membaca zaman, memahami manusia, dan membuat ilmu pengetahuan turun dari menara gading untuk menginjak bumi.(***)

Penulis : Khairul Anom, FH Unila Angkatan 1999

Editor : Alex Jefri

Berita Terkait

Gerindra Lampung Mengawal Kasus Kekerasan Ibu dan Anak asal Lampung Utara
Aiptu Husni ” Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara”
Komjen Rudi Setiawan Dukung HPN dan Porwanas 2027 Digelar di Lampung
Bantuan Menyusut, Warga Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung
Hak Insentif Nakes Sudah Dibayarkan
Antisipasi Banjir Camat Teluk Betung Utara, Turun Bersih-bersih 
Gendang Persadaan Ginting Mergana Sukses Digelar, Perkuat Persatuan dan Pelestarian Budaya Karo di Lampung
Nuzulul Qur’an di Kodam Raden Inten: Pangdam Tekankan Iman sebagai Fondasi Pengabdian
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 21:18 WIB

Catatan Nyimak Podcast Calon Rektor Unila 2027-2031 Dr. Budiyono, Kampus Unila yang Ceria dan Menginjak Bumi

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:42 WIB

Gerindra Lampung Mengawal Kasus Kekerasan Ibu dan Anak asal Lampung Utara

Rabu, 29 Juli 2026 - 20:49 WIB

Aiptu Husni ” Mbah Suminem Potret Kemiskinan Ekstrim di Lampung Utara”

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:18 WIB

Komjen Rudi Setiawan Dukung HPN dan Porwanas 2027 Digelar di Lampung

Senin, 25 Mei 2026 - 22:14 WIB

Bantuan Menyusut, Warga Afghanistan Terpaksa Jual Anak Kandung

Berita Terbaru

Olahraga

Ikhtiar PBSI Lampung Mencetak Juara Dunia Baru

Kamis, 3 Sep 2026 - 21:26 WIB

Nasional

HPN 2027 di Lampung, Dewan Pers Minta Semua Ikut Terlibat

Rabu, 2 Sep 2026 - 21:07 WIB