“Maaf Kepala Sekolah, Luka Mic Tak Selesai dengan Basa-Basi”

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 11:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Polemik Mic: Permintaan Maaf yang Tertinggal”

berandalappung.com— Pringsewu, Kisruh pengunduran diri Mic, siswa kelas XI SMAN 1 Pringsewu, memasuki babak baru. Setelah sempat mengundang sorotan publik, pihak sekolah akhirnya menyambangi keluarga Mic pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Rombongan dipimpin Kepala Sekolah bersama jajaran wakil kepala sekolah dan humas.

Pertemuan yang berlangsung sederhana itu berujung pada satu pesan utama: sekolah berharap persoalan tidak lagi diperpanjang.

“Mereka datang sekitar pukul 11.00. Intinya, meminta agar anggap saja persoalan ini sudah berlalu,” kata Andre, ayah Mic, saat ditemui Tempo.

Andre menyebut, ia berusaha menghargai kedatangan tersebut. Namun ia masih menyimpan keganjilan. Permintaan maaf, baginya, tidak cukup jika tanpa komitmen perubahan. “Saya sempat minta mereka juga menemui bibi Mic, karena dari situlah persoalan bermula. Tapi tak diindahkan,” ujarnya.

Persoalan yang dimaksud Andre adalah surat pernyataan pengunduran diri yang ditandatangani bibinya Mic, Farida, di bawah tekanan pihak sekolah.

Beberapa jam setelah pertemuan dengan Andre, staf humas sekolah, Intan, akhirnya menyambangi kediaman Farida. Ia menyampaikan permohonan maaf mewakili sekolah. Farida menerima dengan terbuka, meski menilai cara itu tetap keliru.

Baca Juga :  Dosen Unila Beri Solusi Ramah Lingkungan Atasi Hama Ulat Grayak di Lampung Timur

“Paling penting mendudukkan persoalan adalah bertabayun. Kalau lembaga pendidikan bicara soal etika, seharusnya yang datang mewakili sekolah adalah sosok yang tepat,” kata Farida.

Keluarga besar Mic kemudian sepakat menerima permintaan maaf. Namun mereka menyelipkan kritik pada kepemimpinan kepala sekolah. Andi Wijaya, kakak Mic, menyinggung pidato Presiden Prabowo tentang kepemimpinan.

“Pemimpin harus berada di garis depan pada titik paling kritis. Sayangnya, dalam kasus ini, Kepala Sekolah justru mengutus staf,” ujarnya.

Meski begitu, keluarga memilih menutup lembaran lama. Mic kini bersekolah di SMA Xaverius. Pihak keluarga tidak menuntut agar ia kembali ke sekolah semula.

Baca Juga :  FMIPA Unila Hasilkan Dua Doktor Baru

“Kami tidak bisa memaksa sekolah yang jelas-jelas sudah tidak mau dan tidak mampu memenuhi hak pendidikan anak kami,” kata Andre. “Yang lebih penting sekarang kondisi psikologis anak.”

Keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung yang ikut turun tangan meredakan polemik. Namun pesan terakhir mereka lebih luas: kasus ini mestinya menjadi cermin rapuhnya sistem pendidikan, bukan hanya soal hak siswa, tetapi juga sikap para pendidik yang semestinya berdiri sebagai teladan.

Editor : Alex Jefri

Berita Terkait

Ikaperta Unila Buka Jalan Talenta Muda Pertanian Menembus Dunia Industri
Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT
Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo
Kwarda Lampung Buka Bumbung Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT
Soal Tudingan Santri Kabur, Pengelola Darul Fattah Natar Buka Suara
Ketua Kwarda Lampung Lantik Rektor UIN Raden Intan Jadi Kamabigus
Tulang Bawang Ukir Sejarah, Hibahkan Lahan 19,17 Hektare untuk Sekolah Nasional Terintegrasi
Ketua Kwarda Lampung Buka KPDK 2026, Resmikan Program “Garis Depan”
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 11:34 WIB

Ikaperta Unila Buka Jalan Talenta Muda Pertanian Menembus Dunia Industri

Selasa, 15 September 2026 - 06:40 WIB

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Kamis, 10 September 2026 - 13:13 WIB

Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Kwarda Lampung Buka Bumbung Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:22 WIB

Soal Tudingan Santri Kabur, Pengelola Darul Fattah Natar Buka Suara

Berita Terbaru