Darah Tumpah di Gunung Agung, Ketika Kritik Bansos Dibalas Tikaman, Lampung Tengah di Ambang Ledakan Sosial

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 18 Mei 2025 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Darah tumpah di Gunung Agung, Ketika Kritik Bansos Dibalas Tikaman, Lampung Tengah di Ambang Ledakan Sosial

 

berandalappung.com— Lampung Tengah, Suara rakyat kembali dibungkam dengan kekerasan. Suryadi (50), seorang warga Kampung Gunung Agung, tewas ditikam oleh Dewo (43), kerabat dari Kepala Kampung sendiri, setelah terlibat adu mulut soal dugaan korupsi beras bantuan sosial (bansos). Tragedi ini menjadi puncak dari bara konflik sosial yang telah lama membara di Lampung Tengah.

Menurut informasi yang beredar di masyarakat, Suryadi dikenal sebagai warga yang vokal menyoroti ketimpangan dalam pembagian bansos. Ia bahkan disebut beberapa kali menyampaikan keluhan warga kepada pihak berwenang, namun tidak pernah mendapat respons konkret. Ketika kritik berubah menjadi konfrontasi langsung, tragedi pun terjadi.

Bukan Kriminal Biasa, Ini Potret Ketimpangan yang Meledak.

Peristiwa berdarah ini menguak borok lama: lemahnya pengawasan terhadap aparatur kampung, ketimpangan distribusi bantuan, serta ketidakmampuan pemerintah daerah membaca dan merespons gejala sosial.

Akar masalahnya jelas: dugaan penyelewengan bansos oleh elite lokal yang dibiarkan tanpa tindakan hukum. Warga marah karena hak mereka disunat, dan suara mereka tidak pernah didengar. Ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, maka rakyat mencari keadilan dengan caranya sendiri, dan konflik pun tak terelakkan.

Baca Juga :  KKJ Laporkan Teror Terhadap Tempo ke Komnas HAM

Pemerintah Daerah Disorot: Diam Sama dengan Membiarkan.

Bupati Lampung Tengah dr. Ardito Wijayamenjadi sorotan tajam. Pasalnya, M.K.M hingga tragedi ini terjadi, tidak ada tindakan tegas terhadap Kepala Kampung Gunung Agung yang telah dilaporkan warga. Padahal UU Desa memberi kepala daerah kewenangan penuh untuk melakukan pembinaan, investigasi, hingga pemberhentian terhadap kepala kampung yang terlibat pelanggaran berat, baik administratif maupun pidana.

Lambatnya gerak pemerintah daerah menunjukkan kepekaan sosial yang tumpul. Saat rakyat berteriak soal hak dasar, seperti bantuan sosial, yang datang bukan perlindungan, tapi pembiaran.

Ancaman Demokrasi dan Kebebasan Bersuara.

Tragedi ini tak hanya soal nyawa yang hilang, tapi juga soal mati surinya kebebasan berekspresi di tingkat desa. Ketika warga yang bersuara kritis dibungkam dengan kekerasan, maka pesan yang sampai ke publik adalah jelas: jangan bersuara, atau bersiap menjadi korban berikutnya.

Baca Juga :  Vonis yang Menguap: Misteri Eksekusi Silfester

Efek domino dari kasus ini bisa sangat berbahaya. Masyarakat bisa mengalami chilling effect yaitu takut bicara, takut bertanya, takut melapor. Ini adalah kondisi yang membunuh demokrasi lokal secara perlahan tapi pasti.

Negara Harus Hadir, Sekarang atau Tunggu Ledakan Berikutnya.

Tragedi Gunung Agung adalah peringatan keras bahwa keadilan tidak boleh ditunda-tunda. Jika aparat hukum dan pemerintah daerah gagal menunjukkan kehadiran nyata dan keberpihakan pada rakyat kecil, maka konflik horizontal serupa tinggal menunggu giliran.

Negara harus hadir, bukan sebagai simbol kekuasaan, tapi sebagai pelindung hak-hak sipil. Bupati Lampung Tengah harus mengambil langkah tegas, perintahkan audit investigatif, copot kepala kampung jika terbukti bersalah, dan buka ruang dialog untuk meredam kemarahan publik.

Rakyat miskin bukan minta belas kasihan. Mereka hanya ingin keadilan ditegakkan dan suara mereka tidak dibalas dengan senjata.

Oleh Rosim Nyerupa, S.IP
Akrivis Pemuda Lampung, Pemerhati Politik dan Pemerintahan Daerah Lampung Tengah

Editor : Hengki Padang Ratu

Berita Terkait

Usai Penyegelan Toko Mas, Polda Lampung Kejar Aktor Besar di Balik Tambang Emas Ilegal Way Kanan
Laskar Lampung “Gugat” Ketegasan Kapolda Tambang Ilegal, Dari Lubang Tanah ke Jejak Uang
Warga Jati Agung Laporkan Pencurian Motor di Parkiran Alfamart ke Polsek Tanjung Senang
DPRD Bandar Lampung Minta Dinkes Kota Periksa Terkait Dugaan Meninggal Dunia Pasen di RSIA Puri Betik Hati
Kuasa Hukum RSUAM Bantah Klaim Inisiatif Uang dari Direktur, Sebut Permintaan Berawal dari Terdakwa
Kasus Pupuk Bersubsidi: Polisi Tetapkan Pemilik Kios hingga Perantara sebagai Tersangka
BAKAS MATI DI KANDANG, BUKTI GAGALNYA KONSERVASI! — GERMASI: “HARIMAUNYA YANG DIPENJARA, PERAMBAHNYA DIBIARKAN!
BNNP Lampung Akan Dikepung, Tuntut Mantan Pengurus HIPMI Pemakai Narkoba Ditahan
Berita ini 207 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 08:00 WIB

Usai Penyegelan Toko Mas, Polda Lampung Kejar Aktor Besar di Balik Tambang Emas Ilegal Way Kanan

Kamis, 26 Maret 2026 - 20:13 WIB

Laskar Lampung “Gugat” Ketegasan Kapolda Tambang Ilegal, Dari Lubang Tanah ke Jejak Uang

Rabu, 18 Maret 2026 - 08:48 WIB

Warga Jati Agung Laporkan Pencurian Motor di Parkiran Alfamart ke Polsek Tanjung Senang

Senin, 16 Maret 2026 - 15:00 WIB

DPRD Bandar Lampung Minta Dinkes Kota Periksa Terkait Dugaan Meninggal Dunia Pasen di RSIA Puri Betik Hati

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:24 WIB

Kuasa Hukum RSUAM Bantah Klaim Inisiatif Uang dari Direktur, Sebut Permintaan Berawal dari Terdakwa

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Pin Up Casino İncelemesi: Güvenilir ve Eğlenceli Bir Bahis Deneyimi

Kamis, 30 Apr 2026 - 05:37 WIB

Berita Lainnya

NV Casino: Recenzja unikalnej platformy hazardowej

Kamis, 30 Apr 2026 - 05:02 WIB

Berita Lainnya

Spinmama Casino: Análisis Completo y Opiniones Actualizadas

Kamis, 30 Apr 2026 - 04:49 WIB

Berita Lainnya

Spinmama Casino: Análisis Completo y Opiniones Actualizadas

Kamis, 30 Apr 2026 - 04:44 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com