BEM Unila Desak Presiden Prabowo Pecat Kapolri dan Menteri Problematik

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 20:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BEM Unila Desak Presiden Prabowo Pecat Kapolri dan Menteri Problematik

Kematian Affan Kurniawan Jadi Simbol Negara yang Gagal Mengurus Demokrasi

berandalappung.com — Kedaton, gelombang microwave 25–28 Agustus 2025 di berbagai kota besar Indonesia membuka wajah buram republik ini. Jalanan yang dipenuhi mahasiswa, buruh, petani, dan masyarakat sipil yang muak di negara yang terus-menerus gagal menepati janji demokrasi.

Mereka turun bukan karena sekadar marah, tetapi karena ruang aspirasi sudah ditutup rapat oleh kekuasaan yang alergi kritik.

Namun, di tengah suara rakyat yang menggema, bangsa kembali kehilangan anak mudanya. Affan Kurniawan meregang nyawa. Ia bukan sekedar korban bentrokan, melainkan simbol bagaimana negara telah berubah menjadi mesin kekerasan.

Aparat kepolisian yang digaji dari uang rakyat, alih-alih mengayomi, justru menebar ketakutan di jalanan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM Unila) menyebut tragedi Affan sebagai bukti telanjang kegagalan struktural negara. Presiden BEM Unila, M. Ammar Fauzan, menilai kematian itu adalah hasil dari negara yang lebih sibuk melindungi elite dibandingkan rakyatnya sendiri.

“Jika tragedi ini dibiarkan tanpa koreksi tegas, negara hanya akan melanggengkan siklus kekerasan. Kematian Affan adalah alarm keras bagi Presiden Prabowo,” ujar Ammar, Sabtu (30/8).

Kabinet Jadi Panggung Transaksi Politik

Tuntutan BEM Unila tak main-main. Pertama, Presiden Prabowo diminta segera mencopot menteri-menteri problematis. Selama ini publik melihat kabinet bukan sebagai tim kerja rakyat, melainkan panggung politik yang kompromis. Menteri yang gagal menjalankan mandat konstitusi tetap terpelihara, hanya karena mempunyai beking partai atau pengaruh di lingkaran kekuasaan.

“Pembiaran terhadap menteri yang gagal adalah bentuk pengkhianatan Presiden terhadap rakyat,” tegas Ammar.

DPR Terjebak Jadi Mesin Oligarki

Kedua, DPR RI dianggap sebagai lembaga yang kian kehilangan legitimasi. Bukan lagi rahasia, parlemen lebih sibuk mengurus kepentingan partai dan konglomerat, daripada mendengar menyembunyikan rakyat. Dari berbagai isu strategis RUU kontroversial, pengesahan anggaran, hingga pengawasan pemerintah DPR kerap tampil sebagai batang kekuasaan belaka.

“Ketua partai politik harus menyalakan kadernya yang mempertahankan fungsi representasi rakyat. Tanpa itu, DPR hanya akan dianggap sebagai perpanjangan tangan oligarki,” ucapnya.

Polisi Berubah Jadi Mesin Represi

Tuntutan ketiga dan paling keras adalah pencopotan Kapolri. Bagi mahasiswa, institusi kepolisian telah kehilangan wajah humanisnya. Rekam jejaknya menunjukkan pola berulang: represif di setiap gelombang protes.

Baca Juga :  Triga Lampung Desak Periksa Bupati Lampung Timur dan Tetapkan Tersangka Kasus Suap Zarof Ricar

Aksi 25–28 Agustus yang berakhir pada kematian Affan hanyalah puncak gunung es. Catatan berbagai lembaga advokasi HAM menunjukkan dalam beberapa tahun terakhir, korban luka, kriminalisasi aktivisme, dan penggunaan kekuatan berlebihan aparat terus meningkat.

Polisi yang seharusnya melindungi malah menjadi tembok kekuasaan yang siap memukul siapa pun yang berbeda suara.

“Represifitas aparat sudah melampaui batas. Presiden tidak boleh lagi menutup mata,” kata Ammar.

Baca Juga :  Demo di Kejati Lampung, Mahasiswa Desak Pengusutan Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Pertanyaan Besar: Negara Milik Siapa?

Pernyataan BEM Unila menegaskan bahwa suara mahasiswa adalah suara nurani bangsa. Tetapi ketika kritik dijawab dengan gas air mata dan peluru, pertanyaan yang lebih mendasar muncul: negara ini sebenarnya bekerja untuk siapa?

Kematian Affan Kurniawan menjadi pengingat pahit bahwa demokrasi Indonesia tengah berada di tepi jurang. Jika Presiden Prabowo dan elit politik tetap menutup telinga, sejarah akan mencatat rezim ini bukan sebagai penyelamat bangsa, melainkan sebagai pengulang tragedi.

“Kami tidak akan berhenti bersuara, kami tidak akan tunduk pada intimidasi. Demokrasi sejati hanya lahir bila suara rakyat benar-benar didengar, bukan dibungkam,” pungkas Ammar.

Di tengah duka, suara mahasiswa Lampung menggema. Mereka menolak persetujuan pada politik transaksional, pada parlemen yang abai, dan pada aparat yang brutal. Yang dipertaruhkan bukan sekadar nasib satu generasi, tetapi arah republik: apakah Indonesia akan menjadi negara demokratis yang melindungi rakyatnya, atau menjadi negara represif yang hanya melayani segelintir elite?
Sumber be1lampung.com

Editor : Alex Buay Sako

Sumber Berita: be1lampung.com

Berita Terkait

Pantai Tanjung Gading Punya Potensi Wisata, KKN UML Dorong Promosi dan Perhatian Infrastruktur
Lawan Limbah Dapur, Mahasiswa Malahayati Ajarkan Warga Tejo Agung Racik Sabun Eco-Enzyme
Kampus Unggul IIB Darmajaya Resmi Buka Program Doktor Informatika
Demo di Kejati Lampung, Mahasiswa Desak Pengusutan Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
HMPS Ilmu Pemerintahan UM Lampung Belajar Partisipasi Pemilih di KPU Kota Bandar Lampung
Jihan dan Marindo Duduk Bersama Pergerakan Mahasiswa, Siap Tindaklanjuti Aspirasi!
BEM FEB Unila Gelar Diskusi Terbuka Bahas Indonesia Emas 2045, Transisi Energi hingga Makan Bergizi Gratis
Gelar Aksi Demo, Aliansi Mahasiswa Lampung Gaungkan 8 Tuntutan Rakyat
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 22:25 WIB

Pantai Tanjung Gading Punya Potensi Wisata, KKN UML Dorong Promosi dan Perhatian Infrastruktur

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:51 WIB

Lawan Limbah Dapur, Mahasiswa Malahayati Ajarkan Warga Tejo Agung Racik Sabun Eco-Enzyme

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:50 WIB

Kampus Unggul IIB Darmajaya Resmi Buka Program Doktor Informatika

Rabu, 22 Juli 2026 - 23:02 WIB

Demo di Kejati Lampung, Mahasiswa Desak Pengusutan Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:30 WIB

HMPS Ilmu Pemerintahan UM Lampung Belajar Partisipasi Pemilih di KPU Kota Bandar Lampung

Berita Terbaru

Pendidikan

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:40 WIB

Politik

Saran Ringan untuk UU Politik 2029, Dari Anas Urbaningrum

Senin, 14 Sep 2026 - 14:45 WIB

Hukum

Ada Apa? Welly Mendadak Cabut Praperadilan

Jumat, 11 Sep 2026 - 10:18 WIB

Pendidikan

Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:13 WIB