Basiyo, Tokoh Komedian Lahir Sebelum Srimulat Ada.

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 4 Mei 2025 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

berandalappung.com— Yogyakarta, tahu anda, jauh sebelum kelompok pelawak Srimulat mengocok perut orang karena aksi lawakannya, dulu ada seorang seniman lawak bernama Basijo(Basiyo).

Basiyo aktif bekerja didunia pentas dan hiburan semenjak zaman kolonial Belanda, ikut bersama rombongan Ketoprak sebagai tukang kerek layar.
Karena gaya komunikasinya sering membuat orang ketawa, Basiyo sering didapuk menjadi seorang punakawan pada pentas Ketoprak rombongannya.

Pada tahun 1935, Basiyo melakukan pentas perdana di Kraton Mangkunegaran dan didapuk menjadi seorang punakawan yang melemparkan guyonan guyonan yang lucu.
Lawakannya membuat penonton tertawa bebas sehingga lupa bahwa pertunjukan tersebut berada di dalam keraton.
Semenjak itulah Basiyo mendapatkan banyak tawaran pentas dan siaran radio lokal di daerah Yogya dan Solo.
Lawakannya pada saat itu disebut sebagai Dagelan Mataram.

Baca Juga :  Tanpa Bantuan, Puluhan Warga Inisiatif Buka Akses Jalan Baru

Pada jaman penjajahan Jepang, Basiyo mendirikan grup dagelan bernama Dagelan Tangan Merah.
Karena tentara Jepang menguasai dan Islam menyiarkan siaran radio lokal, Basiyo dan grupnya melakukan pentas jalanan di atas gerobak.

Pada jaman revolusi kemerdekaan Basiyo mendirikan grup Kethoprak Tri Mudhotomo yang berlokasi di Pathuk Yogyakarta.

Basiyo bukan hanya seorang pelawak, tapi juga seorang seniman Karawitan yang berhasil mengkolaborasi gending Jawa dan dagelan sehingga terbentuklah gending Pangkur Jeggleng.

Baca Juga :  Umar Djohan Berpulang, Tokoh HIKAM dan Advokat Senior Lampung Tutup Usia

Basiyo acap berkolaborasi dengan nama-nama seniman kondang di dunia dan masanya, seperti Bagong Kussudihardjo, Ki Nartosabdo, Nyi Tjondrolukito, dan lain-lain.

Basiyo berjaya di dunia perkasetan pada awal era 1970-an hingga akhir hayatnya pada tahun 1979. Berbagai lakon dari lawakannya sering disiarkan di radio-radio swasta pada masa tersebut, terutama di wilayah pengguna bahasa Jawa, seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Lawakan Basiyo juga menginspirasi pelawak pelawak yang muncul selanjutnya, salah satunnya adalah para pelawak dari grup Srimulat.

Berita Terkait

Babak Akhir Sengketa Peradi: Mahkamah Agung Menangkan Kubu Otto Hasibuan
Puskesmas Kemiling Bersama Dinkes Kota Bandar Lampung Gelar Gerakan Aksi Bergizi di SMA Negeri 14 Bandar Lampung
Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Mas Tri
Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000
Marga Buay Pemuka Bangsa Raja Negeri Besar Way Kanan Persoalkan Perluasan Register 44 Sungai Muara Dua Dalam Mufakat Agung
Skandal BPJS di PT CPB Terkuak, Ratusan Pekerja Diduga Dibiarkan Tanpa Jaminan Sosial
Rawat Tradisi Keagamaan, DKD Lampung Gelar Bimtek dan Kurban di Pesawaran
Permintaan Hewan Kurban Naik Tajam, Pengiriman Sapi dari Lampung Tembus 60 Ribu Ekor
Berita ini 157 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 07:34 WIB

Babak Akhir Sengketa Peradi: Mahkamah Agung Menangkan Kubu Otto Hasibuan

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:39 WIB

Puskesmas Kemiling Bersama Dinkes Kota Bandar Lampung Gelar Gerakan Aksi Bergizi di SMA Negeri 14 Bandar Lampung

Senin, 1 Juni 2026 - 20:47 WIB

Petikan Senar Kemanusiaan Irjen Helmy untuk Mas Tri

Sabtu, 30 Mei 2026 - 20:53 WIB

Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:33 WIB

Marga Buay Pemuka Bangsa Raja Negeri Besar Way Kanan Persoalkan Perluasan Register 44 Sungai Muara Dua Dalam Mufakat Agung

Berita Terbaru

Opini

Anak-Anak Muda Statistik

Kamis, 4 Jun 2026 - 09:34 WIB

Pemerintahan

Tidak Transparan di BKD Lampung ada 17 Pejabat Dilantik Diam-Diam

Kamis, 4 Jun 2026 - 07:29 WIB