Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 20:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000

berandalappung.com— Raja Basa, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berada dalam tren tiarap. Mata uang Garuda kian tak bertenaga dan bergerak mendekati level psikologis baru yang mengkhawatirkan Rp 18.000 per dolar AS.

Kombinasi memanasnya tensi geopolitik global dan sengkarut pengelolaan fiskal di dalam negeri dituding menjadi sumbu utama rontoknya kurs rupiah.

“Pelemahan rupiah hari ini cukup luar biasa. Ada kemungkinan pada pembukaan pasar besok, Jumat, rupiah akan semakin mendekati level Rp 18.000 per dolar AS,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 28 Mei 2026.

Ibrahim memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga 100 poin dan ditutup di kisaran Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini, sebelum akhirnya rentan menjebol angka Rp 18.000 pada akhir pekan.

Bara Geopolitik dan Doktrin Baru The Fed

Ambruknya nilai tukar ini dipicu oleh faktor eksternal yang eskalatif. Di Timur Tengah, situasi semakin membara setelah militer AS dilaporkan menggempur sejumlah instalasi strategis di wilayah Iran Selatan. Intelijen Rusia bahkan mengendus indikasi bahwa Washington tengah bersiap menggelar perang skala besar melawan Teheran, termasuk dengan memanfaatkan milisi ISIS di Suriah sebagai proksi.

Kehadiran kapal-kapal perang canggih AS di Israel memicu kecurigaan bahwa jeda gencatan senjata saat ini hanyalah kedok untuk menghimpun kekuatan.

Ibrahim mengingatkan, pola ini mirip dengan skenario Perang Teluk beberapa dekade silam saat Irak menjebol Kuwait. Dampaknya langsung terasa di sektor energi. Konflik Timur Tengah yang berkelindan dengan makin sengitnya perang Rusia-Ukraina menyusul hancurnya Kota Kyiv akibat bombardir Rusia telah mengerek harga minyak mentah dunia.

Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak dari 92 dolar AS menjadi 96 dolar AS per barel.

Analisis Dampak Global: Lonjakan harga minyak dan membengkaknya biaya logistik global ini otomatis memicu inflasi tinggi di AS. Akibatnya, Bank Sentral AS (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh diprediksi bakal tetap agresif. Berbeda dengan pendahulunya, Jerome Powell, yang melunak demi menjaga pasar tenaga kerja, Warsh dikenal sangat berfokus pada stabilitas harga (inflasi).

Baca Juga :  Hangatkan Kebersamaan, Rutan Kelas I Bandar Lampung Laksanakan Sholat Iduladha 1447 H dengan Hikmat

Saat ini, sekitar 52,3 persen ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun, bahkan membuka peluang kenaikan satu kali lagi. Ekspektasi inilah yang memicu gap up dan membuat dolar AS kian perkasa di pasar global.

Rapuhnya Fondasi Fiskal Dalam Negeri
Namun, menyalahkan faktor eksternal semata adalah kekeliruan. Dari dalam negeri, sentimen negatif justru berhamburan dari ruang sidang pemerintah sendiri. Pasar menangkap adanya ketidakpastian dari berbagai kebijakan program strategis nasional yang dinilai dipaksakan.

Ibrahim mengkritik keras respons para pengambil kebijakan yang terkesan menyangkal realitas pasar. “Walaupun banyak pejabat, termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan rupiah kemungkinan besar akan menguat, kenyataannya justru terus melemah. Narasi ‘menguat’ ini entah indikatornya apa, apakah hanya sekadar kosmetik untuk menghibur pasar atau bagaimana,” sentil Ibrahim.

Secara fundamental, lambung ekonomi domestik memang sedang robek akibat beberapa faktor krusial:
Defisit Migas & Repatriasi: Kenaikan harga minyak dunia memaksa Indonesia merogoh dolar lebih dalam untuk impor. Di saat yang sama, permintaan dolar melonjak karena musim pembayaran dividen ke luar negeri serta maraknya aksi masyarakat mengalihkan simpanan ke valuta asing.

Baca Juga :  ASN Bandar Lampung Diimbau Bijak Bermedsos Demi Netralitas di Pilkada 2024

Beban Utang: Anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kian sesak oleh kewajiban membayar bunga utang jatuh tempo yang nilainya mencapai Rp 600 triliun.

Sentimen Program MBG dan KDMP: Investor global kian masygul mencermati manajemen pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai bobrok dan berpotensi merugikan keuangan negara hingga puluhan triliun rupiah.

Sengkarut internal inilah yang memicu aksi jual massal (capital outflow) oleh investor asing, terutama memanfaatkan momentum libur panjang.

Pada akhirnya, Bank Indonesia (BI) praktis bertarung sendirian di garda depan. Meski bank sentral telah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melakukan intervensi di pasar internasional, hantaman badai dari luar dan rapuhnya jangkar dari dalam membuat intervensi tersebut kehilangan taji.

Jika tidak ada terobosan kebijakan yang kredibel, level Rp 18.000 per dolar AS bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan kenyataan pahit yang harus segera dihadapi.(***)

Editor : alex jefri

Sumber Berita: Repubilka.co.id

Berita Terkait

Marga Buay Pemuka Bangsa Raja Negeri Besar Way Kanan Persoalkan Perluasan Register 44 Sungai Muara Dua Dalam Mufakat Agung
Skandal BPJS di PT CPB Terkuak, Ratusan Pekerja Diduga Dibiarkan Tanpa Jaminan Sosial
Rawat Tradisi Keagamaan, DKD Lampung Gelar Bimtek dan Kurban di Pesawaran
Permintaan Hewan Kurban Naik Tajam, Pengiriman Sapi dari Lampung Tembus 60 Ribu Ekor
Memelihara Toleransi dalam Setiap Sabetan Parang: Mengapa Warga Kudus Memilih Kerbau
Bursa Calon Ketua Karang Taruna Lampung Memanas, Empat Nama Kuat Mengemuka
Bonatua Silalahi Klaim Tak Temukan Verifikasi Ijazah Jokowi, Dibukukan dalam Karya Terbaru
Lurah Gunung Terang Intensifkan Patroli Malam, dan Poskamling Kembali Diaktifkan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 20:53 WIB

Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:33 WIB

Marga Buay Pemuka Bangsa Raja Negeri Besar Way Kanan Persoalkan Perluasan Register 44 Sungai Muara Dua Dalam Mufakat Agung

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:27 WIB

Skandal BPJS di PT CPB Terkuak, Ratusan Pekerja Diduga Dibiarkan Tanpa Jaminan Sosial

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:12 WIB

Rawat Tradisi Keagamaan, DKD Lampung Gelar Bimtek dan Kurban di Pesawaran

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:55 WIB

Memelihara Toleransi dalam Setiap Sabetan Parang: Mengapa Warga Kudus Memilih Kerbau

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Di Balik Ambruknya Rupiah yang Kian Mendekati Rp 18.000

Sabtu, 30 Mei 2026 - 20:53 WIB