Di Ujung Tanduk

- Jurnalis

Kamis, 28 November 2024 - 20:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Desa Sukamaju yang biasanya tenang berubah riuh setelah Pilkada 2024 diumumkan. Dok: Ist

Desa Sukamaju yang biasanya tenang berubah riuh setelah Pilkada 2024 diumumkan. Dok: Ist

Bandar Lampung (berandalappung.com) – Desa Sukamaju yang biasanya tenang berubah riuh setelah Pilkada 2024 diumumkan.

Lina Hartanti, istri Bupati Kabupaten Sejahtera yang selama ini dianggap kuat dan tak tergoyahkan, tiba-tiba tumbang dalam pertarungan yang sengit.

Kalah tipis dari kandidat lawannya, suasana politik menjadi semakin panas, bahkan nyaris membakar seluruh kabupaten.

Di posko kemenangan lawan, yel-yel kemenangan menggema.

Sementara di sisi lain, kantor Panwaslu Kabupaten Sejahtera penuh sesak. Aduan bertubi-tubi datang dari berbagai kubu.

“Ini pasti kecurangan! Ada penggelembungan suara di desa pelosok!” ujar salah satu pendukung Lina dengan nada tinggi.

Tapi itu bukan masalah satu-satunya. Beberapa hari sebelum pencoblosan, Panwaslu sudah dihujani tuduhan tidak netral.

Mulai dari lambannya pengawasan hingga dugaan adanya anggota yang bermain mata dengan kandidat tertentu.

Ketua Panwaslu, Surya Putra, terlihat sibuk di kantornya. Matanya merah, kurang tidur, dan beban di pundaknya semakin berat.

“Bagaimana bisa kita fokus kalau semua orang mencurigai kita?” keluh Surya pada timnya.

Kekalahan Lina membuat suasana semakin panas. Jalanan dipenuhi pendukungnya yang berteriak menuntut keadilan.

Baca Juga :  Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi

Bahkan ada yang membawa spanduk besar bertuliskan, “Panwaslu Tidak Netral, Bubarkan!”

Di tengah kekisruhan itu, Lina Hartanti memilih diam.

Ia duduk di teras rumahnya yang besar, memandang ke arah kebun belakang.

Kekalahannya terasa pahit. Ia tahu, ini bukan hanya soal suara rakyat, tapi juga soal pengkhianatan dari dalam timnya sendiri.

Sore itu, seorang wanita tua mengetuk pintu rumahnya. Wajahnya penuh keriput, namun matanya tajam dan penuh keyakinan.

“Bu Lina, saya hanya rakyat biasa, tapi saya ingin ibu tahu, kekalahan ini bukan akhir.

Kekuasaan tidak bisa diwariskan, tapi kepercayaan rakyat bisa diraih kembali,” ucap wanita itu, sebelum pergi meninggalkan rumah besar itu.

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Lina. Sementara itu, di kantor Panwaslu, Surya Putra harus menghadapi serangkaian investigasi dari Panwaslu pusat.

Laporan yang masuk semakin menggunung, mulai dari intimidasi hingga politik uang. Timnya mulai goyah, beberapa bahkan mengundurkan diri.

“Kalau terus begini, Panwaslu bisa bubar,” ujar salah satu anggotanya dengan nada putus asa.

Namun, Surya tahu, mereka tak bisa menyerah. Di balik semua tuduhan, ada kebenaran yang harus diungkap.

Baca Juga :  Bayangan di Wajah Kota 

Ia memutuskan untuk membuka semua data, termasuk bukti-bukti pelanggaran dari kedua belah pihak.

Di minggu-minggu berikutnya, suasana mulai mereda.

Investigasi membuktikan bahwa kecurangan memang terjadi, tapi tidak terpusat pada satu pihak saja.

Kedua kubu harus menerima kenyataan pahit bahwa politik kotor masih menjadi permainan utama.

Lina, meski kalah, akhirnya muncul kembali ke publik dengan pernyataan yang mengejutkan.

“Kekalahan ini adalah pelajaran bagi saya. Saya tetap berkomitmen untuk membangun Kabupaten Sejahtera, meski tanpa jabatan.”

Di sisi lain, Panwaslu Kabupaten Sejahtera tetap berdiri meski goyah. Surya Putra akhirnya menyampaikan pidato terakhirnya sebelum mengundurkan diri.

“Kami bukan lembaga yang sempurna, tapi kami berdiri untuk keadilan. Jika keadilan itu pahit, kami akan menelan rasa pahit itu dengan kepala tegak.”

Cerita ini mungkin tak berakhir bahagia, tapi meninggalkan satu pelajaran: kekuasaan, kebenaran, dan kepercayaan adalah tiga hal yang selalu berada di ujung tanduk.

Semua orang punya peran untuk menjaganya, atau menyaksikan semuanya jatuh hancur.

Berita Terkait

Uncle Sul, PJK Negeri Ngapung
Rapat Kabinet, Negara Kaya Vs Negara Miskin
Es Dingin di Bawah Langit Malam
Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi
Bayangan di Wajah Kota 
Penjaga Suara, Pengangguran Setelah Pesta
Ketika Amplop Mengalahkan Otak, Drama Seleksi di Negeri Pura-Pura
Parlente di Negeri Aman Sentosa
Berita ini 106 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Desember 2024 - 11:28 WIB

Uncle Sul, PJK Negeri Ngapung

Rabu, 4 Desember 2024 - 17:53 WIB

Rapat Kabinet, Negara Kaya Vs Negara Miskin

Rabu, 4 Desember 2024 - 11:28 WIB

Es Dingin di Bawah Langit Malam

Selasa, 3 Desember 2024 - 13:30 WIB

Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi

Minggu, 1 Desember 2024 - 17:11 WIB

Bayangan di Wajah Kota 

Berita Terbaru

Berita Lainnya

400 Jemaah Haji Lampung Utara Siap Berangkat

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:41 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com