Amplop Putih dan Masa Depan Kerajaan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 November 2024 - 21:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Ist

Ilustrasi: Ist

Bandar Lampung (berandalappung.com) – Di sebuah desa kecil di bawah naungan Kerajaan Nusakerti, dua calon kepala kerajaan, Aryo (calon 08) dan Mohir (calon 09), sedang berlomba mendapatkan dukungan rakyat.

Desa-desa ramai memperbincangkan siapa yang layak memimpin. Di tengah kampanye sengit, terselip kisah menarik di sebuah warung sayur milik Ibu Rani.

Pagi itu, warung sayur ramai oleh pembeli. Ibu Ina, Ibu Ami, dan Ibu Nida tengah berbelanja kebutuhan dapur sambil mengobrol.

“Aduh, nanti pilih siapa ya? Aryo atau Mohir?” tanya Ibu Ina, sambil memilih tomat.

Ibu Ami menimpali, “Katanya, ada yang bagi-bagi amplop putih. Isinya lima rupiah. Kalau dapat, mau pilih yang mana?”

Baca Juga :  Ketika Amplop Mengalahkan Otak, Drama Seleksi di Negeri Pura-Pura

Ibu Nida, yang sedang menghitung cabai, tertawa kecil.

“Kalau cuma lima rupiah, mau buat apa? Lagipula, masa pemimpin kita dihargai segitu?”

Ibu Rani, sang pemilik warung, tersenyum sambil menyusun kangkung. “Ibu-ibu, jangan sampai suara kita dibeli.

Lima rupiah hari ini tidak akan menyelesaikan masalah kita lima tahun ke depan.”

“Tapi, Bu Rani,” ujar Ibu Ina, “kadang, orang tergoda juga. Uang itu kan butuh.”

Ibu Rani menatap mereka serius. “Betul, uang butuh.

Tapi pemimpin yang baik lebih penting. Kalau kita memilih karena uang, kita menggadaikan masa depan anak-anak kita.

Pemimpin yang benar akan memikirkan rakyat, bukan hanya dirinya sendiri.”

Percakapan itu membuat suasana warung hening sejenak. Ibu Ami akhirnya bersuara, “Kalau begitu, saya pilih yang programnya jelas. Yang benar-benar peduli pada rakyat.”

Baca Juga :  Bayangan di Wajah Kota 

Ibu Nida mengangguk. “Saya juga. Tidak mau suara saya dibeli murah. Suara saya berharga, untuk masa depan kerajaan ini.”

Percakapan berlanjut tentang siapa yang lebih pantas memimpin.

Namun satu hal pasti, mereka sepakat: suara mereka tidak akan dibeli.

Pesan Moral:

Politik uang merugikan masyarakat. Lima rupiah hari ini tidak sebanding dengan lima tahun penderitaan akibat salah memilih pemimpin.

Sebagai rakyat, kita harus menggunakan hak suara dengan bijak, memilih berdasarkan kualitas, program, dan integritas calon, bukan karena iming-iming sesaat.

Suara adalah amanah, bukan barang dagangan.

Berita Terkait

Uncle Sul, PJK Negeri Ngapung
Rapat Kabinet, Negara Kaya Vs Negara Miskin
Es Dingin di Bawah Langit Malam
Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi
Bayangan di Wajah Kota 
Penjaga Suara, Pengangguran Setelah Pesta
Ketika Amplop Mengalahkan Otak, Drama Seleksi di Negeri Pura-Pura
Parlente di Negeri Aman Sentosa
Berita ini 115 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 18 Desember 2024 - 11:28 WIB

Uncle Sul, PJK Negeri Ngapung

Rabu, 4 Desember 2024 - 17:53 WIB

Rapat Kabinet, Negara Kaya Vs Negara Miskin

Rabu, 4 Desember 2024 - 11:28 WIB

Es Dingin di Bawah Langit Malam

Selasa, 3 Desember 2024 - 13:30 WIB

Pemilihan Kepala Sekolah dan Secangkir Kopi

Minggu, 1 Desember 2024 - 17:11 WIB

Bayangan di Wajah Kota 

Berita Terbaru

Berita Lainnya

400 Jemaah Haji Lampung Utara Siap Berangkat

Minggu, 3 Mei 2026 - 12:41 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com