Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik
berandalappung.com— Jakarta, pernyataan mantan Menteri Komunikasi dan Digital Budi Arie Setiadi di hadapan Presiden ke-7 RI Joko Widodo soal dinamika politik pra-2029 memicu riak di ruang publik. Namun bagi Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Anas Urbaningrum, gaduh wacana itu tak lebih dari silat kata yang tak substansial.
Daripada terjebak dalam perdebatan klise dan saling tuding, Anas mendesak pemerintah fokus pada satu hal: perbaikan kinerja nyata.
Anas menilai Indonesia membutuhkan “modifikasi cuaca politik” yang signifikan.
Langkah ini hanya bisa dicapai jika Kabinet Presiden Prabowo Subianto bertindak cepat memperbaiki performa tata kelola pemerintahan, alih-alih sibuk berselancar di atas polemik.
Fokus Kinerja dan Koreksi Kebijakan
Dalam pandangannya, kunci utama menjaga kepercayaan publik ada pada eksekusi kebijakan yang optimal. Kebijakan yang sudah baik harus direalisasikan secara presisi, sementara kebijakan yang menuai kritik publik tidak boleh dipertahankan secara tegar tengkuk.
• Revaluasi Kebijakan: Keberanian melakukan koreksi teknis maupun substansial terhadap program yang bermasalah adalah bentuk kepemimpinan yang sehat.
• Juga Komunikasi Elegan: Narasi pemerintah kerap memicu residu politik karena penyampaian yang serampangan. Kebijakan publik yang baik harus dipresentasikan secara lugas dan elegan tanpa nada defensif.
Menyapu Laporan “Asal Bapak Senang”
Kritik paling tajam Anas tertuju pada kultur birokrasi yang gemar menyetor laporan pemanis. Ia mengingatkan Presiden untuk menajamkan power of scrutiny atau daya periksa terhadap jajaran pembantunya guna mengikis habis praktik Asal Bapak Senang (ABS).
“Presiden membutuhkan informasi yang objektif untuk mengambil langkah yang tepat, bukan polesan kosmetik. Para pembantu Presiden di bidang pengawasan harus bekerja berbasis data autentik, bukan sekadar memberikan laporan manis.”
Menuju Demokrasi yang Stabil dan Produktif
Bagi mantan Ketua Umum HMI ini, indikator demokrasi yang berhasil bukan sekadar tiadanya konflik, melainkan hadirnya kemanfaatan konkret bagi masyarakat. Jika tingkat kepuasan publik terjaga lewat kerja nyata, cuaca politik secara otomatis akan teduh dan stabil.
Demokrasi Indonesia tidak boleh terus berjalan di tempat apalagi terancam mengalami retakan sosial. Energi bangsa harus digeser dari pertikaian elit menuju pembentukan Demokrasi Produktif yang memberikan nilai tambah nyata bagi kesejahteraan rakyat.(***)
Penulis : Anas Urbaningrum
Editor : Alex Buay Sako











