Karakter Bangsa Tergerus Layar, Andika Wibawa Imbau Orangtua Hidupkan Pancasila dari Rumah

- Jurnalis

Sabtu, 17 Januari 2026 - 21:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah derasnya arus digital dan banjir informasi yang nyaris tanpa sekat, rumah tangga kini menjadi garis depan pertarungan ideologi dan karakter bangsa. Hal inilah yang ditekankan Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kelurahan Garuntang, Kota Bandarlampung, Sabtu (17/1/2026) pagi.

Dalam paparannya, Andika menegaskan bahwa ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila hari ini tidak lagi datang dalam bentuk fisik atau ideologi terbuka, melainkan melalui pola hidup digital yang perlahan menggerus karakter, terutama di lingkungan keluarga.

“Sekarang ini kerusakan karakter dimulai dari rumah. Anaknya sibuk nonton Cocomelon, ibunya asyik nonton drakor. Tidak ada lagi dialog, tidak ada pendidikan karakter. Rumah kehilangan fungsinya sebagai ruang pendidikan paling dasar,” tegas Andika di hadapan peserta sosialisasi.

Menurutnya, keluarga seharusnya menjadi benteng pertama penanaman nilai Pancasila. Namun, tanpa disadari, teknologi justru menjauhkan anggota keluarga dari proses pembentukan karakter, empati, dan kebangsaan.

Andika menegaskan, kegiatan sosialisasi Pancasila bukan sekadar formalitas atau rutinitas politik. Justru, forum seperti ini menjadi ruang penting untuk menghidupkan kembali nilai Pancasila dalam kehidupan nyata masyarakat.

Baca Juga :  Investasi Anak Daerah, Syukron: Pabrik HS Harus Taat Aturan

“Bukan karena kita tidak tahu Pancasila. Tapi karena Pancasila harus terus dibicarakan, dipraktikkan, dan diingatkan. Kalau tidak ada Pancasila, kita tidak saling mengenal, tidak saling menghormati,” ujarnya.

Ia menambahkan, di era digital saat ini, masyarakat kerap lebih mudah terprovokasi, terpolarisasi, bahkan terpecah hanya karena perbedaan pandangan di media sosial. Tanpa fondasi ideologi yang kuat, kebhinekaan justru bisa berubah menjadi sumber konflik.

Sementara itu, narasumber Agustiono menegaskan bahwa Pancasila bukan konsep abstrak, melainkan lahir dari akar terdalam kehidupan bangsa Indonesia: keberagaman dan nilai keagamaan yang dihayati masyarakat.

“Pancasila itu lahir dari keberagaman dan ketuhanan. Kalau rakyat sudah berketuhanan, pasti beradab. Kita ini sudah punya agama, seharusnya menjadi manusia yang beradab dan bermoral,” jelasnya.

Ia menilai, kekuatan bangsa Indonesia terletak pada persatuan masyarakatnya. Selama rakyat bersatu, ideologi yang bertentangan dengan nilai bangsa tidak akan mendapat ruang.

“Alhamdulillah bangsa ini masih bersatu. Karena itu, ideologi seperti komunisme tidak berkembang. Bentengnya bukan senjata, tapi persatuan rakyat,” kata Agustiono.

Baca Juga :  Ketua DPRD Lampung Hadiri Gerakan Bersatu Alam di TNWK

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa persatuan itu tidak datang dengan sendirinya. Proses pembentukan adab dan karakter justru bermula dari rumah.

“Ibu-ibu ini adalah benteng sekolah dan madrasah di rumah. Kalau peran ini hilang, budaya kita pelan-pelan terkikis. Jangan salahkan sekolah kalau rumah sudah tidak mendidik,” ujarnya dengan nada mengingatkan.

Narasumber lainnya, M Andi Fachri, menyoroti Lampung sebagai miniatur Indonesia yang berhasil menjaga toleransi di tengah keberagaman. Ia menilai, karakter masyarakat Lampung yang terbuka dan legawa menjadi modal besar dalam menjaga persatuan.

“Lampung ini contoh toleransi. Isu SARA hampir tidak pernah meledak. Karena masyarakat Lampung menerima pendatang dari mana pun, dan hidup berdampingan dengan baik,” katanya.

Menurut Andi, kondisi tersebut harus terus dijaga, terutama di tengah maraknya narasi adu domba di ruang digital yang kerap memanfaatkan isu identitas.

“Kalau rumah sudah kuat, sekolah akan terbantu. Kalau keluarga ber-Pancasila, bangsa ini tidak mudah goyah,” tutupnya.

Berita Terkait

PAN Bandar Lampung Bidik 8 Kursi, Antara Ambisi Elektoral dan Ujian Kerja Nyata
Agus Djumadi Klaim Siap Tampung Aspirasi Warga Bandar Lampung
“Temuan BPK Rp1,2 Miliar Mengendap 10 Bulan, AJP Ingatkan Ancaman Pidana di Sekretariat DPRD Lambar”
Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Hadiri Pengukuhan Pengurus KTNA Lampung
Budiman AS Ajak Masyarakat Kedamaian Hidup Rukun Damai
Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung Hadiri Launching Aplikasi Centurion-21
Ketua DPRD Provinsi Lampung Hadiri Wisuda Purna Bhakti Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandar Lampung
Ketua Komisi V DPRD Provinsi Lampung Hadiri Gelar Wicara Guru Besar FKIP Unila Dies Natalis ke-58
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 13:19 WIB

PAN Bandar Lampung Bidik 8 Kursi, Antara Ambisi Elektoral dan Ujian Kerja Nyata

Kamis, 12 Maret 2026 - 13:34 WIB

Agus Djumadi Klaim Siap Tampung Aspirasi Warga Bandar Lampung

Selasa, 10 Maret 2026 - 09:00 WIB

“Temuan BPK Rp1,2 Miliar Mengendap 10 Bulan, AJP Ingatkan Ancaman Pidana di Sekretariat DPRD Lambar”

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:42 WIB

Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Hadiri Pengukuhan Pengurus KTNA Lampung

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:20 WIB

Budiman AS Ajak Masyarakat Kedamaian Hidup Rukun Damai

Berita Terbaru

Mahasiswa

Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

Minggu, 19 Apr 2026 - 08:48 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com