Selamat, Ketua DPD Partai Golkar Lampung Hanan A. Rozak Berhasil Ciptakan Dinasti Golkar di Kabupaten Tulang Bawang Pilih Anak Kandung Jadi Ketua
berandalappung.com—Menggala, Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD Partai Golkar Kabupaten Tulang Bawang, Kamis (30/4/2026), seharusnya menjadi arena konsolidasi kader. Namun yang tersaji justru lebih mirip seremoni penegasan garis keturunan politik.
Di Gedung Serba Guna Pemkab Tulang Bawang, proses yang disebut “aklamasi” itu berlangsung nyaris tanpa riak. M. Aris Pratama, S.E., ditetapkan sebagai Ketua DPD Golkar Tulang Bawang periode 2026–2031.
Ia menggantikan Edison Thamrin, S.I.Kom. Tidak ada kontestasi berarti. Tidak ada pertarungan gagasan. Semua berjalan terlalu rapi dan terlalu sunyi.
Aris bukan nama asing. Ia adalah anak kandung Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung, Hanan A. Rozak. Dalam politik, relasi darah kerap kali bukan sekadar latar belakang melainkan tiket masuk.
Sulit untuk menyebut ini kebetulan.
Musda yang dihadiri langsung oleh Hanan A. Rozak bersama jajaran elite Golkar Lampung yang Sekretaris Aprozi Alam, Bendahara Toni Eka Candra, Ketua Harian Riza Mirhadi, dan lainnya justru mempertebal kesan bahwa panggung ini telah dipersiapkan jauh hari. Aklamasi menjadi formalitas. Legitimasi diperoleh tanpa perdebatan.
Di titik inilah publik berhak bertanya apakah ini kaderisasi, atau sekadar pewarisan?
Golkar, partai tua yang pernah membanggakan sistem kaderisasi berjenjang, kini terlihat gamang membedakan antara regenerasi dan reproduksi kekuasaan. Ketika jabatan strategis jatuh ke lingkar keluarga, meritokrasi menjadi kabur. Loyalitas personal berpotensi mengalahkan kapasitas.
Fenomena ini bukan barang baru dalam politik Indonesia. Namun setiap kali terjadi, ia tetap menyisakan persoalan serius menyempitnya ruang bagi kader lain, dan semakin terkonsentrasinya kekuasaan pada segelintir elite.
Di Tulang Bawang, “Dinasti Hanan” kini bukan lagi sekadar wacana. Ia telah menemukan bentuknya resmi, sah, dan disahkan melalui mekanisme partai.
Pertanyaannya sederhana, tapi penting sampai kapan partai politik terus memelihara tradisi ini, sambil mengklaim diri sebagai rumah demokrasi?
Editor : Alex Buay Sako











