Sebuah Madrasah Cinta dan Pengorbanan
berandalappung.com- Raja Basa. Di padang pasir yang sunyi itu, Allah sedang mendidik dunia melalui sebuah keluarga kecil. Tidak ada istana. Tidak ada singgasana. Tidak ada gemerlap kekuasaan. Yang ada hanyalah seorang ayah yang taat, seorang ibu yang sabar, dan seorang anak yang saleh. Namun dari keluarga itulah lahir pelajaran yang lebih abadi daripada bangunan batu dan lebih hidup daripada sejarah manusia.
Ibrahim mengajarkan bahwa cinta sejati kepada keluarga bukanlah memanjakan mereka dengan dunia, melainkan menuntun mereka menuju Tuhan. Ketika ia meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah yang tandus, hatinya sesungguhnya sedang pecah oleh cinta. Tetapi ada cinta yang lebih tinggi daripada pelukan seorang ayah, yaitu ketaatan kepada Allah. Maka Ibrahim pergi dengan langkah yang berat, sementara langit menyaksikan air mata yang jatuh diam-diam dari seorang nabi.
Dan Hajar… Perempuan itu tidak menjerit kepada manusia. Ia tidak menyalahkan takdir. Ia berdiri di tengah padang gersang dengan keyakinan yang lebih kuat daripada gunung. Ketika haus membakar kerongkongan Ismail kecil, ia berlari antara Shafa dan Marwah. Ia berlari bukan hanya mencari air, tetapi sedang mengajarkan kepada dunia bahwa kasih sayang seorang ibu adalah doa yang memiliki kaki.
Betapa agung langkah seorang ibu…
Sebab Tuhan mengabadikan larinya menjadi ibadah bagi jutaan manusia hingga akhir zaman.
Dari kaki yang lelah itu lahirlah zamzam.
Dan dari kesabaran yang panjang itu lahirlah kehidupan.
Begitulah pendidikan sejati.
Ia tidak selalu lahir di ruang sekolah.
Kadang ia lahir dari luka, dari air mata, dari perut yang lapar, dan dari hati yang tetap percaya kepada Allah meski dunia tampak gelap.
Lalu Ismail tumbuh…
Bukan menjadi anak manja yang dibesarkan oleh kemewahan, tetapi menjadi jiwa yang ditempa oleh iman. Ia belajar bahwa ayahnya tidak pernah mencintai dunia melebihi Tuhan. Ia belajar dari ibunya tentang kesabaran yang tidak banyak bicara.
Maka ketika Ibrahim berkata,
“Wahai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku harus menyembelihmu…”
Langit seakan menahan napasnya.
Namun Ismail tidak memberontak.
Ia tidak bertanya mengapa dirinya yang dipilih.
Ia hanya berkata lembut,
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu.”
Alangkah indahnya jiwa yang dididik dengan cinta dan tauhid.
Sebab anak yang saleh tidak lahir dari kemarahan.
Ia tumbuh dari keteladanan.
Hari ini manusia begitu sibuk mendidik kepala anak-anak mereka, tetapi lupa mendidik hati mereka. Mereka ingin anak-anaknya pandai berbicara tentang dunia, tetapi tidak mengajarkan bagaimana berbicara dengan Tuhan dalam sepi malam. Mereka bangga melihat anak-anaknya tinggi ilmu, tetapi lupa bertanya apakah akhlaknya juga bertumbuh.
Padahal Ibrahim tidak mewariskan istana kepada Ismail.
Ia mewariskan iman.
Dan Hajar tidak meninggalkan emas bagi anaknya.
Ia meninggalkan keteguhan hati.
Karena itu qurban bukan sekadar darah yang mengalir dari leher hewan. Qurban adalah keberanian memotong kesombongan dalam diri manusia. Ia adalah latihan melepaskan apa yang paling dicintai demi sesuatu yang lebih mulia.
Dan haji bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah. Ia adalah perjalanan pulang menuju jiwa yang bersih.
Di dalam tawaf manusia belajar bahwa hidup harus berputar mengelilingi Allah, bukan ego.
Di dalam sa’i manusia belajar bahwa harapan harus terus berlari meski kehausan.
Di dalam qurban manusia belajar bahwa cinta kepada Tuhan harus lebih tinggi daripada cinta kepada dunia.
Maka apabila engkau ingin membangun generasi yang kuat, jangan hanya ajarkan anakmu bagaimana mencari penghidupan.
Ajarkan pula bagaimana menjaga iman di tengah kehilangan.
Sebab dunia selalu melahirkan manusia cerdas.
Tetapi zaman sangat merindukan manusia yang hatinya hidup.(***)
M.Abdullah Umar, M.A Dosen Tetap STIES ALIFA PRINGSEWU
Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen Tetap STIES ALIFA PRINGSEWU
Editor : alex jefri











