Produksi Ternak Lampung Naik 5,85 Persen, DPKH Jelaskan Capaian dan Anggaran
berandalappung.com— Teluk Betung, produksi peternakan Lampung pada 2025 tumbuh 5,85 persen. Produksi naik dari 404.992,65 ton pada 2024 menjadi 428.667,49 ton atau bertambah 23.674,84 ton.
Capaian itu jauh di atas target pertumbuhan 1,36 persen. Dalam laporan kinerja, realisasi tersebut tercatat 430,15 persen dari target.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Lampung menegaskan angka 430,15 persen bukan berarti produksi ternak naik 430 persen, melainkan persentase capaian terhadap target yang ditetapkan.
Kenaikan produksi terjadi pada sejumlah komoditas. Produksi daging tumbuh 6,21 persen menjadi 165.262,42 ton. Produksi telur naik 5,65 persen menjadi 259.353,19 ton, sedangkan susu tumbuh 3,56 persen menjadi 4.051,88 ton.
Pada daging, kenaikan terbesar berasal dari kambing yang tumbuh 12,46 persen dan domba 10,28 persen. Daging sapi hanya tumbuh 0,27 persen, kerbau 3,67 persen dan babi 0,70 persen. Produksi telur ayam ras petelur naik 6,18 persen.
Menurut DPKH, pertumbuhan tersebut didukung peningkatan ternak produktif, pembibitan, perbaikan mutu genetik, inseminasi buatan (IB), pakan, biosekuriti dan pelayanan kesehatan hewan.
Kelahiran Sapi Lampaui Target
Program reproduksi juga mencatat capaian tinggi. Kelahiran sapi dan kerbau mencapai 125.350 ekor, dari target 62.726 ekor.
DPKH menyebut target tersebut disusun dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan keterbatasan dukungan pemerintah pusat, termasuk nitrogen cair dan semen beku. Capaian juga didorong meningkatnya kesadaran peternak menggunakan IB.
DPKH menegaskan angka 125.350 ekor merupakan jumlah kelahiran, bukan pertumbuhan populasi sebesar hampir 200 persen.
Produksi semen beku mencapai 58.236 straw atau 116,24 persen dari target. Distribusinya mencapai 49.843 straw atau 142 persen dari target. Penjualan sapi UPTD Pembibitan Ternak Sapi mencapai 21 ekor atau 191 persen dari target 11 ekor.
Target Kinerja Jadi Evaluasi
DPKH menjelaskan tingginya capaian terhadap target dipengaruhi perubahan target kinerja. Target pertumbuhan produksi yang sebelumnya 6,95 persen dalam Renstra 2025–2026 menjadi 1,36 persen dalam Renstra 2025–2029 setelah mempertimbangkan Sensus Pertanian 2023.
Karena target relatif rendah, pertumbuhan 5,85 persen menghasilkan capaian 430,15 persen terhadap target. DPKH menyatakan perbedaan tersebut menjadi bahan evaluasi agar target berikutnya lebih realistis dan berbasis data.
Produksi produk olahan peternakan juga tumbuh 14,35 persen, dari 2.202,99 ton menjadi 2.519,14 ton. Dengan target hanya 2,5 persen, capaian terhadap target mencapai 574,11 persen.
Pertumbuhan itu antara lain didukung produksi susu Koperasi Juang Jaya Abdi Alam di Lampung Selatan setelah mendatangkan 50 sapi perah pada Mei 2025 untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Sejumlah Program Belum Optimal
DPKH menyebut laporan kinerja 2025 telah melalui asistensi Biro Organisasi, Bappeda dan Inspektorat serta verifikasi berjenjang dari lapangan hingga nasional.
Namun, sejumlah kegiatan belum terserap optimal. Penyebabnya antara lain pergantian PPTK, perubahan rencana anggaran, keterbatasan waktu dan efisiensi anggaran.
Sertifikasi GFP/GBP, misalnya, baru terealisasi satu unit usaha dari target dua unit.
DPKH juga menjelaskan indikator output sejumlah kegiatan tidak selalu berupa barang fisik, tetapi dapat berupa laporan, dokumen atau unit kegiatan.
Pagu DPKH 2026 Rp25,5 Miliar
Pada 2026, DPKH menargetkan PAD Rp1,341 miliar. Target itu naik dari Rp552,032 juta pada 2025 dan Rp466,5 juta pada 2024.
PAD berasal dari penjualan semen beku, ternak bibit kambing dan sapi, layanan laboratorium serta sertifikasi. Pendapatan tersebut disetorkan ke kas daerah dan tidak dikelola langsung untuk membiayai program DPKH.
Pagu DPKH dalam APBD 2026 mencapai Rp25,549 miliar. Sebanyak Rp18,091 miliar atau 70,8 persen merupakan belanja pegawai.
Belanja modal sebesar Rp1,143 miliar digunakan antara lain untuk mendukung pakan, laboratorium, penyimpanan obat, pengolahan limbah dan pengadaan chopper pakan.
Anggaran pemberantasan penyakit hewan menular dan zoonosis mencapai Rp427,332 juta, sedangkan pengujian laboratorium Rp193 juta.
Rencana pembangunan atau rehabilitasi gedung UPTD senilai sekitar Rp1,11 miliar di Gedong Tataan, Labuhan Ratu, Sidomulyo dan Terbanggi Besar tidak dilaksanakan karena masuk program efisiensi.
Produksi Naik, Pengelolaan Harus Diperkuat
DPKH menilai pertumbuhan produksi 5,85 persen menunjukkan sektor peternakan Lampung masih memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan dan kebutuhan protein hewani.
Namun, capaian produksi perlu diikuti perencanaan yang lebih tepat, target yang realistis, penyerapan anggaran yang efektif dan akuntabilitas program.
DPKH menyatakan akan mengevaluasi target yang belum tercapai serta memperkuat pembibitan, pakan, kesehatan hewan, produktivitas dan kelembagaan peternak.
Keberhasilan sektor peternakan, pada akhirnya, bukan hanya soal produksi yang meningkat, tetapi juga seberapa besar manfaatnya dirasakan peternak dan masyarakat Lampung.(***)
Editor : Alex Buay Sako











