Budiyono Tawarkan “Unila Go Beyond Achievement”, Delapan Misi Jadi Taruhan
berandalappung.com— Raja Basa, calon Rektor Universitas Lampung (Unila) periode 2027–2031, Budiyono, menawarkan agenda pembenahan tata kelola, penguatan riset, internasionalisasi pendidikan, hingga transformasi digital melalui visi Unila Go Beyond Achievement. Namun, tantangan utama gagasan itu terletak pada bagaimana visi besar tersebut diterjemahkan menjadi program terukur dan berdampak nyata.
Gagasan itu dipaparkan Budiyono dalam sosialisasi calon rektor di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, Kamis, 22 Oktober 2026. Ia mengusung semangat “Melampaui Standar, Memperluas Dampak, Mengangkat Reputasi” untuk mendorong Unila menjadi perguruan tinggi yang unggul, inovatif, berkarakter, dan berdaya saing global.
Budiyono membangun visinya di atas tiga pijakan: Beyond Boundaries, Beyond Impact, dan Beyond Recognition. Ketiganya masing-masing menekankan keberanian meninggalkan pola lama, memperbesar kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat, serta memperkuat reputasi akademik.
Dalam pemaparannya, ia menawarkan delapan misi strategis yang mencakup pembenahan tata kelola, internasionalisasi pendidikan, peningkatan kualitas lulusan, penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perluasan kemitraan, transformasi digital, serta penguatan reputasi global.
Arah kebijakan itu menempatkan Unila bukan semata sebagai institusi pendidikan yang mengejar prestasi akademik, melainkan juga sebagai pusat pengetahuan yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
Membenahi Tata Kelola, Memperkuat Akademik
Pada sektor tata kelola, Budiyono menempatkan transparansi, akuntabilitas, responsivitas, independensi, dan keadilan sebagai prinsip dasar pengelolaan universitas. Reformasi birokrasi serta pembangunan lingkungan kampus yang inklusif dan berkelanjutan juga masuk dalam agenda yang ditawarkan.
Di bidang akademik, ia mendorong internasionalisasi kurikulum, pembelajaran, dan penelitian. Peningkatan kapasitas dosen serta tenaga kependidikan dipandang penting agar Unila mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus merespons kebutuhan dunia kerja.
Budiyono juga menekankan pentingnya menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi memiliki karakter, integritas, prestasi, dan kemampuan bersaing di tingkat global.
Persoalannya, peningkatan daya saing lulusan tidak cukup ditopang oleh kurikulum berorientasi internasional. Kualitas pembelajaran, relevansi kompetensi, akses terhadap pengalaman profesional, dan keterhubungan kampus dengan dunia kerja juga menentukan hasilnya.
Karena itu, perluasan peluang kerja dan mobilitas internasional menjadi bagian dari arah pengembangan yang ia tawarkan.
Riset Tak Berhenti di Publikasi
Di bidang penelitian, Budiyono mendorong penguatan ekosistem riset, peningkatan publikasi ilmiah, dan hilirisasi hasil penelitian. Riset berbasis potensi daerah menjadi salah satu pendekatan agar keunggulan akademik Unila tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah.
Hasil penelitian, dalam gagasan tersebut, diharapkan dapat digunakan untuk menjawab persoalan masyarakat, mendukung pembangunan Lampung, serta menghasilkan inovasi yang memiliki nilai guna.
Agenda serupa juga diterapkan pada pengabdian kepada masyarakat. Pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat, mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Untuk menopang agenda itu, Budiyono menawarkan perluasan kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, industri, dan alumni. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka ruang kerja sama dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Tantangannya adalah memastikan kemitraan tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman. Kerja sama perlu menghasilkan program konkret, pendanaan riset, inovasi yang dimanfaatkan, serta peluang bagi mahasiswa dan lulusan.
AI dan Transformasi Digital
Transformasi digital juga menjadi bagian dari visi Budiyono. Ia mendorong optimalisasi teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pengembangan kewirausahaan, inkubasi bisnis, serta penciptaan produk inovatif berbasis riset.
Agenda ini membuka peluang bagi Unila untuk membangun ekosistem kampus yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Namun, penerapannya juga membutuhkan kesiapan infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia, perlindungan data, dan tata kelola penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Dengan demikian, digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan ke platform elektronik. Teknologi perlu memperbaiki kualitas layanan akademik, meningkatkan efisiensi administrasi, dan memperkuat produktivitas penelitian.
Reputasi Global Bukan Sekadar Peringkat
Budiyono turut menempatkan penguatan reputasi internasional sebagai salah satu sasaran strategis. Upaya itu akan ditempuh melalui peningkatan mobilitas akademik, publikasi ilmiah berskala global, dan perluasan kemitraan dengan perguruan tinggi serta institusi luar negeri.
Internasionalisasi, menurut arah kebijakan yang dipaparkannya, bukan hanya soal memperbanyak hubungan kerja sama. Agenda tersebut juga harus mendorong peningkatan mutu akademik, pertukaran pengetahuan, dan pengakuan atas kontribusi ilmiah sivitas akademika Unila.
Namun, reputasi global tidak dapat dibangun hanya melalui kerja sama internasional atau pencapaian administratif. Kualitas penelitian, konsistensi publikasi, integritas akademik, mutu pengajaran, dan kontribusi terhadap penyelesaian persoalan publik merupakan bagian penting dari fondasinya.
Di titik ini, visi Unila Go Beyond Achievement menghadapi ujian implementasi: sejauh mana ambisi untuk melampaui capaian lama dapat disertai pembenahan mendasar di dalam kampus.
Delapan Misi Menunggu Ukuran Keberhasilan
Dalam pemaparannya, Budiyono menegaskan bahwa kemajuan Unila tidak dapat dibebankan kepada seorang rektor. Ia membutuhkan keterlibatan seluruh unsur kampus, alumni, dan pemangku kepentingan.
“Masa depan Unila tidak dibangun oleh satu orang, melainkan dibangun oleh gerak bersama. Go Beyond bukan sekadar slogan, melainkan semangat untuk memajukan Universitas Lampung menuju universitas inovatif yang berdampak bagi masyarakat luas,” ujar Budiyono.
Pernyataan itu menempatkan kolaborasi sebagai salah satu kunci kepemimpinan yang ia tawarkan. Meski demikian, dukungan bersama perlu ditopang oleh arah kebijakan yang jelas, pembagian tanggung jawab, serta ukuran keberhasilan yang dapat dievaluasi.
Dalam tahapan pemilihan rektor, sosialisasi visi dan misi menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk menilai bukan hanya gagasan setiap kandidat, tetapi juga kesiapan mereka menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kebijakan.
Karena itu, delapan misi Budiyono perlu diuji melalui pertanyaan mendasar: program mana yang menjadi prioritas, berapa target yang hendak dicapai, bagaimana pembiayaannya, dan kapan hasilnya dapat diukur?
Peningkatan reputasi internasional, misalnya, perlu berjalan beriringan dengan perbaikan mutu pembelajaran, produktivitas riset, tata kelola yang berintegritas, dan kesejahteraan sivitas akademika. Sementara itu, klaim tentang dampak sosial perlu dibuktikan melalui manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Visi Unila Go Beyond Achievement menawarkan arah pengembangan yang luas, dari reformasi birokrasi hingga persaingan global. Namun, keberhasilannya kelak tidak ditentukan oleh besarnya slogan, melainkan oleh konsistensi pelaksanaan, keberanian membenahi persoalan internal, dan kemampuan menunjukkan hasil yang terukur.
Bagi Unila, melampaui capaian masa lalu pada akhirnya bukan sekadar memperoleh pengakuan lebih tinggi, melainkan membuktikan bahwa kemajuan universitas sejalan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan manfaat ilmu pengetahuan bagi masyarakat.(tim)
Editor : Alex Buay Sako











