Menyentil Cak Imin, Mengingat Nasihat Kiai
berandalappung.com— Jakarta, Siapa nyana, tensi panas Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, ikut memancing geram seorang Anas Urbaningrum. Mantan Ketua Umum PB HMI itu tak tahan untuk tidak bersuara setelah mencium aroma persaingan sempit yang diembuskan Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin.
Di hadapan adik-adik kadernya di Jakarta, Minggu, 30 Agustus 2026, Anas melempar “surat cinta” yang bernada sentilan tajam namun dibalut kelakar satire.
“Santai aja, Sahabatku. HMI itu bisa kok dipanjangkan jadi Haji Muhaimin Iskandar,” kelakarnya, menyindir manuver Cak Imin yang terkesan menyekat relasi antarafiliasi organisasi pergerakan.
Bukan Lahan Pembuktian Sempit
Anas menegaskan, tak ada alasan historis maupun akademis bagi HMI dan PMII untuk saling bermusuhan.
Kompetisi antarorganisasi mahasiswa berebut pengaruh di ranah publik maupun di tubuh NU organisasi Islam terbesar di Indonesia seharusnya matang dan dewasa, bukan kekanak-kanakan.
“Mau pakai teori sosial, kajian demokrasi, civil society, apalagi prinsip ukhuwah, tidak ada argumen yang valid untuk berseteru kecuali berlomba-lomba menghadirkan kemaslahatan,” tegas Anas.
Persoalan siapa yang kelak memimpin NU apakah alumni PMII, HMI, GMNI, IPNU, atau Fatayat seharusnya sudah selesai di tingkat pemikiran mature. Menjadikan latar belakang organisasi sebagai benteng eksklusif di tubuh NU adalah langkah mundur bagi demokrasi internal nahdliyin.
Wasiat dari Pondok PETA
Menarik garis mundur ke masa lalu, Anas membeberkan kenangan sentimental yang personal. Ia mengaku pernah dipersaudarakan secara khusus dengan Cak Imin oleh almarhum Kiai Abdul Jalil Mustaqim di Pondok PETA, Tulungagung. Moment itu terjadi tatkala Cak Imin berada di penghujung jabatannya sebagai Ketua Umum PB PMII dan Anas baru saja memulai kepemimpinannya di PB HMI.
Pesan sang kiai saat itu begitu ringkas namun menohok: “PMII dan HMI yang rukun, ya.”
Pesan sederhana yang tampaknya mulai terlupakan di tengah riuk-pikuk perebutan pengaruh politik dan kekuasaan saat ini. Sentilan Anas ini menjadi peringatan terbuka: jangan sampai ego faksional merusak spirit paseduluran yang sudah ditanamkan para sepuh.(***)
Editor : Alex Buay Sako











