Kopi Keliling di Lampung Fest Warnai Dinamika Ekonomi Rakyat

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 25 November 2025 - 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kopi Keliling di Lampung Fest Warnai Dinamika Ekonomi Rakyat


berandalappung.com
— Way Halim, Lampung Fest 2025 yang mengusung tema “Kopi dan Pariwisata” menampilkan ragam kopi premium lewat lomba manual brew, coffee pairing Competition, hingga kopi tubruk kreasi. Namun di luar Paviliun Kopi, delapan pedagang kopi keliling justru mencuri perhatian dengan penjualan yang tak kalah tinggi, mencapai ratusan cangkir per hari selama festival.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kopi di Lampung bukan hanya komoditas ekspor berkelas, tetapi juga bagian dari ekonomi rakyat yang hidup dan pergerakan dari pinggir jalan.

Penjualan Capai 50–100 Cangkir Per Hari

Dengan harga Rp 8.000–12.000 per cangkir, para pedagang keliling menjadi pilihan banyak pengunjung yang membutuhkan kopi cepat dan terjangkau.

Adi (28), pedagang asal Bandar Lampung, mengaku penjualannya melonjak selama festival.

“Di hari biasa selama festival, bisa 50–70 cup. Tapi pas Sabtu dan Minggu, bisa sampai 100 cup, bahkan emoat 150 cup. Dari sore sampai malam nggak berhenti,” ujarnya, Kamis (23/11/2025).

Yusuf (32), pedagang dari Metro, mengatakan kopi keliling menyasar segmen yang berbeda dari booth premium.

“Kami tidak bersaing sama kafe atau barista. Kami jual kopi cepat, murah, dan cukup membuat orang yang butuh minum langsung. Hasil dari sini lumayan buat kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga :  Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung

Baik Adi dan Yusuf mengaku Lampung Fest menjadi momentum bagus bagi pedagang seperti mereka.

“Di festval ini kami tidak perlu bepergian, orang yang datang. Ada ribuan pengunjung setiap hari, itu sangat terasa bagi kami,” ujar Yusuf.

Jika dihitung, delapan pedagang keliling yang beroperasi di sekitar area festival bisa menjual ratusan higga seribuan cangkir per hari secara total, menunjukkan tingginya permintaan kopi di tingkat pedagang kaki lima.

Diminati pengunjung karena Murah dan Aksesibel

Beberapa pengunjung mengaku memilih kopi keliling karena kepraktisan.

“Jujur, saya bukan pecinta kopi serius. Beli saja, yang penting cepat dan murah. Kalau sedang lelah berjalan begini, es kopi susu Rp 10.000 ya sudah cukup,” ujar Nanda (22), pengunjung asal Sukarame.

Pendapat berbeda disampaikan Rusdy (45), pengunjung asal Bukit Kemiling Permai. Menurutnya, pedagang keliling tetap memiliki tempat selama mereka menjaga kebersihan dan konsistensi rasa.

“Tidak harus seenak kopi di kafe-kafe. Buat saya yang penting bersih, harganya masuk akal, dan tidak terlalu manis. Ada dua pedagang di sini yang rasanya lumayan,” katanya.

Baca Juga :  Agung Muharam Terpilih Secara Aklamasi Ketua DPD KNPI Pesawaran

Rusdy menilai, kontras antara booth kopi premium dan kopi keliling menampilkan rentang pelaku dalam ekosistem kopi Lampung, dari industri kreatif hingga pelaku mikro di jalanan.

“Keduanya mencerminkan wajah kopi Lampung yang berlapis dan dinamis,” ujarnya.

Bagian dari Festival Ekosistem

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, Bobby Irawan, menilai keberadaan kopi keliling justru memperkaya ekosistem festival.

Menurutnya, keberagaman pelaku, mulai dari barista profesional hingga pedagang mikro, menunjukkan bahwa budaya kopi Lampung hidup di semua lapisan masyarakat.

“Festival ini punya banyak lapisan pengunjung. Ada yang datang untuk mencicip kopi premium, ada yang hanya ingin menikmati suasana sambil minum kopi sederhana. Pedagang keliling mengisi kebutuhan itu,” ujarnya.

Ia menegaskan, dalam kegiatan berskala besar seperti Lampung Fest, keragaman pelaku ekonomi kreatif adalah hal yang tidak bisa dihindari dan justru berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat.

“Festival seperti ini kami rancang sebagai ruang besar. Di sini pelaku bisa bertemu, belajar, dan melihat peluang. Soal peningkatan teknik atau kualitas, itu bagian yang bisa didorong oleh komunitas dan industrinya,” katanya.

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Generasi Muda Lampung Dilibatkan dalam Festival Tari Cangget
PKD Lampung Dimulai Hari Ini, Isbedy dan Dzafira Tampil Sabtu
Mahasiswa Diuji Tekanan, Webinar Ungkap Cara Mengelola Stres Akademik
“Mewahnya Festival Krakatau, Tapi Apa Kabar Radin Inten?”
Potensi Mengubah Kayu Cepat Tumbuh Jadi Tangguh, Solusi Ramah Lingkungan dari Heat Treatment
Metode Menyelam Bawah Air di Irak Kuno, Prasasti Assyria
Jepang Dan Etika Yang Menginspirasi
Kisah Scarface: Raja Maasai Mara Yang Menolak Takdir Alam
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 8 Desember 2025 - 13:45 WIB

Generasi Muda Lampung Dilibatkan dalam Festival Tari Cangget

Selasa, 25 November 2025 - 12:31 WIB

Kopi Keliling di Lampung Fest Warnai Dinamika Ekonomi Rakyat

Senin, 20 Oktober 2025 - 20:01 WIB

PKD Lampung Dimulai Hari Ini, Isbedy dan Dzafira Tampil Sabtu

Selasa, 14 Oktober 2025 - 14:58 WIB

Mahasiswa Diuji Tekanan, Webinar Ungkap Cara Mengelola Stres Akademik

Senin, 7 Juli 2025 - 06:33 WIB

“Mewahnya Festival Krakatau, Tapi Apa Kabar Radin Inten?”

Berita Terbaru

Pendidikan

Kwarda Lampung Sambut Racana UIM

Rabu, 10 Des 2025 - 07:29 WIB

Art - Edukasi

Generasi Muda Lampung Dilibatkan dalam Festival Tari Cangget

Senin, 8 Des 2025 - 13:45 WIB