Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

- Jurnalis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

berandalappung.com— Raja Basa, Dunia tengah diguncang gelombang kecerdasan buatan. Banyak yang menduga, masa depan pekerjaan hanya milik mereka yang menguasai kode algoritma atau memegang gelar doktor ilmu komputer.

Namun pandangan itu dibantah tegas oleh bos raksasa teknologi Nvidia, Jensen Huang. Di Forum Ekonomi Dunia Davos, Swiss, Huang menyampaikan hal yang mungkin mengejutkan banyak pihak: di era AI yang semakin melesat, yang paling dicari justru bukan hanya para insinyur perangkat lunak, melainkan tenaga kerja teknis lapangan teknisi listrik, tukang ledeng, pekerja konstruksi, dan pekerja baja.

Pernyataan itu disampaikan Huang dalam dialog bersama Ketua BlackRock, Larry Fink. Menurutnya, pembangunan dan pengoperasian sistem AI tidak lepas dari fondasi fisik yang kokoh: pusat data yang membutuhkan pasokan listrik besar, sistem pendingin canggih, bangunan kokoh, serta jaringan pipa dan struktur penopang yang presisi.

Seiring percepatan pembangunan infrastruktur AI di seluruh dunia, keempat profesi teknis kerah biru itu menjadi kelompok yang kebutuhannya melonjak tajam.

Yang menarik, gaji tahunan untuk profesi-profesi ini diprediksi bisa melampaui 100.000 dolar AS setara ratusan juta rupiah tanpa syarat wajib memiliki gelar sarjana. “Setiap orang berpeluang meraih penghasilan tinggi.

Baca Juga :  Buka Rakerda 2026, Jihan Sebut Pramuka Mitra Strategis Cetak SDM Unggul

Tak perlu bergelar doktor ilmu komputer,” tegas Huang. Ia bahkan memproyeksikan, pada 2030 pengeluaran global untuk membangun pusat data AI bisa menyentuh angka 7 triliun dolar AS.

Sebuah gelombang pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia, yang otomatis melahirkan permintaan tenaga kerja teknis yang masif.

Namun kenyataan pahit pun mulai terlihat. Kekurangan tenaga kerja terampil di bidang-bidang tersebut sudah muncul saat pengembangan AI baru berada di tahap awal.

Laporan lembaga riset McKinsey memperkirakan, dalam rentang 2023–2030 saja, Amerika Serikat diperkirakan kekurangan tambahan sekitar 130.000 teknisi listrik, 240.000 pekerja konstruksi, serta 150.000 pengawas lapangan konstruksi.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS juga memproyeksikan lowongan di bidang kelistrikan akan tumbuh 9 persen dalam sepuluh tahun ke depan.

Larry Fink sendiri bahkan memperingatkan, keterbatasan tenaga ahli listrik justru bisa menjadi penghambat utama perluasan infrastruktur AI.

Situasi ini menyoroti sebuah ironi. Sementara kebutuhan tenaga teknis lapangan melonjak tajam, sistem pendidikan di banyak negara justru terus mendorong jalur gelar akademis empat tahun. CEO produsen otomotif Ford, Jim Farley, menyampaikan keprihatinan serupa. Dalam pidatonya di Aspen Ideas Festival, ia mengingatkan bahwa AI perlahan mulai mengikis posisi tingkat pemula di ranah pekerjaan kerah putih.

Sejak 2019, peluang kerja tingkat pemula di perusahaan teknologi pun dilaporkan turun hingga 50 persen.

Baca Juga :  Puskesmas Kemiling Bersama Dinkes Kota Bandar Lampung Gelar Gerakan Aksi Bergizi di SMA Negeri 14 Bandar Lampung

“Apakah kita sungguh ingin mengarahkan semua anak muda menempuh jalur yang sama?” tanya Farley. Di saat yang sama, kekosongan tenaga kerja kerah biru terus melebar: hingga Juni lalu, sektor manufaktur dan konstruksi AS masing-masing tercatat kekurangan tenaga sekitar 600.000 dan 500.000 orang. Padahal, tenaga kerja inilah yang menjadi kunci kebangkitan industri dan pembangunan infrastruktur.

Narasi lama yang menganggap gelar sarjana adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan tampaknya mulai bergeser.

Di tengah ledakan pembangunan infrastruktur AI, keterampilan teknis praktis justru menjadi komoditas yang makin berharga dan sulit dicari. Peluang karier bergaji tinggi kini terbuka lebar bagi siapa saja yang menguasai keahlian teknis tersebut tanpa harus terjebak dalam satu jalur pendidikan semata. Dunia teknologi masa depan ternyata tidak hanya dibangun dari kode di balik layar, melainkan juga dari ketangkasan tangan di lapangan.

Apakah gaya bahasa dan kedalaman tulisan ini sudah sesuai dengan harapan Anda sebagai wartawan senior Tempo? Jika ada bagian yang ingin diperhalus atau ditambahkan, silakan sampaikan saja.(THE EPOCH TIMES)(***)

Editor : Alex Jefri

Berita Terkait

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah
Bantah Tuduhan, Pemprov Lampung Ungkap Fakta Status Lahan Kawasan Ryacudu
Truk Muatan Paving Block Terperosok di Raden Intan, Lalu Lintas Bandar Lampung Lumpuh
Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Presiden Prabowo Teken Keppres Pengganti Febrie Adriansyah
Persiapkan Suksesi Kepemimpinan, Senat Unila Gelar Rapat Penetapan Aturan dan Panitia Pemilihan Rektor 2027–2031
Komjen Rudi Setiawan Dukung HPN dan Porwanas 2027 Digelar di Lampung
IKWI Lampung Juara 2 Fashion Show Pakaian Adat HUT ke-65 IKWI
Putri Zulhas Siap Dukung Penuh HPN dan Porwanas 2027 di Lampung
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:15 WIB

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 05:58 WIB

Dipecat Burger King Gegara ‘Free Palestine’, Karyawan Ini Justru ‘Panen’ Solidaritas Ratusan Juta Rupiah

Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Truk Muatan Paving Block Terperosok di Raden Intan, Lalu Lintas Bandar Lampung Lumpuh

Kamis, 23 Juli 2026 - 05:45 WIB

Kuntadi Resmi Jadi Jampidsus, Presiden Prabowo Teken Keppres Pengganti Febrie Adriansyah

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:23 WIB

Persiapkan Suksesi Kepemimpinan, Senat Unila Gelar Rapat Penetapan Aturan dan Panitia Pemilihan Rektor 2027–2031

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Di Balik Ledakan AI: Profesi Kerah Biru Justru Jadi Bintang Baru

Sabtu, 8 Agu 2026 - 22:15 WIB