Bentrok FPI dan PWI-LS Di Pemalang, Bentuk Lemahnya Mitigasi Dari Polri

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 26 Juli 2025 - 14:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bentrok FPI dan PWI-LS Di Pemalang, Bentuk Lemahnya Mitigasi Dari Polri

 

 

berandalappung.co—Pemalang, kegiatan ceramah yang diisi oleh tokoh Front Persaudaraan Islam (FPI), Rizieq Shihab, di Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Rabu (23/7/2025), berujung bentrokan. Insiden ini menewaskan suasana peringatan bulan Muharam dan menimbulkan luka-luka pada sedikitnya 15 orang.

Bentrok terjadi antara massa Front Persaudaraan Islam dan kelompok dari Perwakilan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS). Polisi mengonfirmasi bahwa dari jumlah korban, empat di antaranya adalah anggota Polri yang terluka saat mengamankan situasi. Sementara sembilan korban berasal dari PWI-LS dan dua lainnya dari simpatisan FPI.

Kapolres Pemalang AKBP Andri Ananta Yudhistira menyatakan, polisi saat ini tengah mendalami pemicu utama kerusuhan dan memburu pihak yang diduga menjadi provokator.

“Kami sedang memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti. Proses hukum akan berjalan secara profesional,” ujarnya.

Sorotan ke Lemahnya Mitigasi Intelijen

Namun, di balik penanganan cepat aparat, sorotan tajam mengarah pada lemahnya sistem mitigasi dini yang seharusnya dapat mencegah terjadinya bentrokan fisik. Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis menyebut, insiden ini menunjukkan kegagalan koordinasi intelijen Polres dan unsur kewilayahan lainnya.

“Informasi penolakan terhadap kehadiran HRS sudah lama beredar. Bahkan sudah ada sinyal ketegangan sejak jauh hari.

Tapi nyatanya tidak ada langkah konkret yang mampu meredam potensi konflik,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

Kritik serupa juga datang dari Koordinator Komunikasi PWI-LS, Andi Rustono. Ia menyebut bahwa peringatan dan keberatan terhadap kehadiran Rizieq telah disampaikan dalam forum resmi, termasuk pada pertemuan dengan Kesbangpol, Dandim, dan Polres.

Baca Juga :  Hadiri Latpraops Matap Brata Karakatau, Agus Tomi: Polri Mitra Sekaligus Objek Pengawasan Pemilu

“Sejak awal kami tidak menginginkan kekerasan. Tapi jangan salahkan jika massa kami akhirnya terpancing, karena peringatan kami diabaikan. Apakah ini karena kelalaian, atau memang sengaja dibiarkan?” kata Andi.

Isu Rekayasa Konflik oleh Oknum

Lebih jauh, sejumlah kalangan mulai mempertanyakan netralitas sebagian aparat keamanan. Beredar spekulasi di media sosial dan forum warga bahwa bentrokan seolah “dibiarkan” pecah sebagai bentuk pembiaran terstruktur atau bahkan rekayasa.

“Di beberapa titik, personel tampak tidak sigap menghalau massa yang sudah terlihat bersitegang sejak sore. Beberapa bahkan seperti mundur di awal bentrok,” ujar seorang warga Desa Pegundan yang menyaksikan insiden tersebut.

Ia menyebut adanya ketimpangan pengamanan di sisi belakang panggung, tempat massa PWI-LS sempat menerobos.

Menanggapi hal ini, pihak Polres membantah adanya unsur kesengajaan atau kelalaian. “Kami bekerja sesuai prosedur dan fokus pada pencegahan. Kalau ada aparat yang lalai, tentu akan diperiksa internal,” tegas AKBP Andri.

Baca Juga :  TIM Kuasa Hukum PBH IKA Unila, Bung Osep Doddy : Mengecam Keras Penahanan Wawan Kurnian

GP Ansor Ajak Jaga Kedamaian

Sementara itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyesalkan peristiwa tersebut dan menyerukan seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri. Kepala Satkornas Banser, Muhammad Syafiq Syauqi, menekankan pentingnya merawat ruang dialog, bukan membuka ruang konflik.

“Kekerasan tidak bisa dibenarkan dalam bentuk apapun. Ini jadi momentum evaluasi semua pihak, termasuk aparat negara, agar bisa lebih bijak dan tanggap,” ujar Syauqi.

GP Ansor juga menyatakan siap menjadi fasilitator dialog antarormas untuk mencegah disinformasi yang bisa berujung bentrok berulang.

Pemerintah Daerah Diminta Aktif

Dari sisi pemerintahan, Pemkab Pemalang diminta tidak berdiam diri atas konflik horizontal yang terjadi di wilayahnya. Akademisi kebijakan publik dari Universitas Negeri Semarang, Dimas Prasetyo, menilai Pemda perlu turun langsung membuka ruang dialog dan menegaskan posisi netral negara di antara organisasi keagamaan.

“Kalau tidak ditangani dari hulu, ini bisa menular ke tempat lain. Apalagi di tahun-tahun politik seperti sekarang, insiden seperti ini rawan dipolitisasi,” ujar Dimas.

Polisi masih melanjutkan penyelidikan. Sejumlah rekaman video dan keterangan saksi menjadi bahan utama penelusuran. Masyarakat diminta tidak terprovokasi oleh narasi sepihak di media sosial.

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Kemarau Memanjang, Pemprov Lampung Ketuk Pintu Langit
Sambut HUT ke-81 RI, Bundo Kanduang Lampung Hidupkan Tradisi Bajamba
Api Kembali Terjang Kawasan TNBTS, Akses Bromo dari Malang dan Lumajang Ditutup
Pencegahan Rampung, KPK Buru Motif Penyuapan Suhardiman Amby ke Menhut Raja Juli
HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah
Peringatan 1 Muharam 1448 H di Pendopo Agung Nuswantoro Berlangsung Khidmat
Selamat, Tiga Hari Lagi DR Budiyono Nahkodai Hijau-Hitam di Provinsi Lampung
Mengurai Antrean, RSUD Abdul Moeloek Andalkan Poli Gigi Eksekutif
Berita ini 88 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, Bundo Kanduang Lampung Hidupkan Tradisi Bajamba

Selasa, 4 Agustus 2026 - 20:50 WIB

Api Kembali Terjang Kawasan TNBTS, Akses Bromo dari Malang dan Lumajang Ditutup

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:57 WIB

Pencegahan Rampung, KPK Buru Motif Penyuapan Suhardiman Amby ke Menhut Raja Juli

Senin, 13 Juli 2026 - 19:07 WIB

HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah

Senin, 6 Juli 2026 - 10:06 WIB

Peringatan 1 Muharam 1448 H di Pendopo Agung Nuswantoro Berlangsung Khidmat

Berita Terbaru

Pendidikan

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:40 WIB

Politik

Saran Ringan untuk UU Politik 2029, Dari Anas Urbaningrum

Senin, 14 Sep 2026 - 14:45 WIB

Hukum

Ada Apa? Welly Mendadak Cabut Praperadilan

Jumat, 11 Sep 2026 - 10:18 WIB

Pendidikan

Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:13 WIB