Aroma Uang Minyak di Rumah Sang Gubernur

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 September 2025 - 09:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Investigasi dugaan korupsi PT Lampung Energi Berjaya yang menyeret Arinal Djunaidi

 

 

berandalappung.com— Rumah mewah bercat krem di Jalan Sultan Agung, Sepang Jaya, Kedaton, Bandar Lampung, mendadak ramai didatangi aparat berseragam hitam-hitam, Rabu siang, 3 September 2025. Warga sekitar hanya bisa menonton dari kejauhan ketika tim penyidik Kejaksaan Tinggi Lampung keluar-masuk membawa dus dan koper. Dari dalam rumah, mereka mengangkut dokumen, perhiasan, hingga kunci mobil.

Rumah itu bukan rumah biasa. Pemiliknya adalah Arinal Djunaidi, mantan Gubernur Lampung periode 2019–2024, sekaligus Ketua DPD Golkar Lampung yang lama dikenal punya pengaruh kuat di birokrasi maupun politik lokal.

Hari itu, status Arinal bergeser, dari tokoh politik yang disegani, menjadi saksi kunci kasus dugaan korupsi PT Lampung Energi Berjaya (LEB).

Tumpukan Harta

Dari penggeledahan, penyidik menemukan harta mencolok: tujuh mobil mewah senilai Rp3,5 miliar, logam mulia hampir 650 gram, deposito Rp4,4 miliar, uang tunai dalam berbagai mata uang Rp1,35 miliar, serta 29 sertifikat tanah dan bangunan dengan nilai Rp28 miliar lebih. Total sitaan menembus Rp38,5 miliar.

Asisten Pidana Khusus Kejati Lampung, Armen Wijaya, menyebut temuan ini “baru awal”. Ia mengisyaratkan penyidik masih menelusuri jejak aliran dana lain. Arinal sendiri diperiksa berjam-jam sejak Kamis siang, 4 September 2025, terkait dugaan penyimpangan pengelolaan keuangan PT LEB.

Baca Juga :  PPI Serukan Pendinginan Suasana, Anas Urbaningrum: “Di Atas Politik adalah Kemanusiaan”

Jejak Uang PI

Kasus ini berawal dari dana participating interest (PI) 10 persen di blok minyak Offshore South East Sumatera (WK OSES). Dana sebesar USD 17,28 juta setara Rp271,5 miliar, seharusnya menjadi berkah bagi kas daerah Lampung.

Mekanismenya jelas, dana itu disalurkan Pertamina Hulu Energi kepada PT LEB, anak usaha BUMD PT Lampung Jasa Utama (LJU), sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 37 Tahun 2016.

Namun, sejak 2022, tanda-tanda penyimpangan mulai tercium. Laporan keuangan PT LEB menunjukkan anomali: setoran besar tidak diikuti transparansi penggunaan. Audit internal BUMD tak pernah dipublikasikan. Beberapa pejabat kunci yang terlibat, seperti Dirut LJU, Plt Dirut LJU, dan Kepala Biro Perekonomian, kini telah diperiksa Kejati.

Seorang pejabat Pemprov Lampung yang ditemui awak media mengakui bahwa “dana PI menguap tanpa jelas arahnya.” Ia menyebut adanya praktik mark-up, transfer ke rekening pribadi, hingga penempatan di deposito atas nama pihak tertentu.

Pola Lama, Wajah Baru

Kasus PT LEB bukan anomali tunggal. Pola penggerogotan dana BUMD ini berulang di banyak daerah. Skemanya serupa, pemerintah daerah membentuk BUMD untuk mengelola sumber daya strategis, dari migas hingga tambang, namun perusahaan itu berubah jadi sapi perah elite politik lokal.

Di Lampung, aroma politik kental mewarnai. Arinal Djunaidi, selain sebagai gubernur, juga patron partai. Posisi ini memberi ruang kendali atas penempatan direksi BUMD. “BUMD jadi bancakan, bukan badan usaha,” kata seorang aktivis antikorupsi Lampung.

Arinal sendiri selama menjabat dikenal dekat dengan sejumlah pengusaha energi dan perbankan. Penyidik kini menelusuri apakah jaringan itu ikut menampung aliran dana.

Baca Juga :  Pelan Tapi Pasti Perbaikan Pendidikan Lampung, Berjalan Sesuai Harapan

Ujian Kejati

Sejak perkara ini naik penyidikan pada Oktober 2024, Kejati Lampung sudah menggeledah tujuh lokasi berbeda dan memeriksa sembilan saksi kunci. Namun publik Lampung masih ragu, apakah kasus ini akan benar-benar tuntas atau berhenti di tengah jalan.

Sejarah menunjukkan, kasus besar sering berakhir mandek ketika menyentuh nama besar. Tak sedikit perkara BUMD di daerah lain yang kandas karena intervensi politik.

“Kalau Kejati berani membawa ini sampai ke meja hijau dengan terdakwa Arinal, itu baru preseden,” kata  Tokoh Pres Setempat. “Kalau tidak, ya hanya jadi etalase pemberantasan korupsi.”

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Gerbong Mutasi Kejagung Bergerak: Dua Asisten dan Tiga Kajari di Lampung Bergeser
Ada Apa Gedung Bundar Tarik Pimpinan Kejati Lampung di Tengah Pengusutan Kasus Korupsi
Prahara di Talang Padang: Mengapa Pemkab Tanggamus Kehilangan Taring?
Pakar Hukum Pidana Nilai Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Calon Belum Diperiksa
Membidik Keraguan di Proyek SPAM Pesawaran: Pembelaan Terakhir Adal Linardo
LPW Desak Evaluasi Penyidik Polresta, Soroti Dugaan Intimidasi Jurnalis oleh Febrizal Levi
Berhenti di Polresta Bandar Lampung, Kasus Wildan Masuk Polda
PB HMI dan Praktisi Hukum Dukung Kortas Tipidkor Polri Ungkap Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara Penyebab Blackout di Sumatera
Berita ini 118 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:13 WIB

Gerbong Mutasi Kejagung Bergerak: Dua Asisten dan Tiga Kajari di Lampung Bergeser

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:55 WIB

Ada Apa Gedung Bundar Tarik Pimpinan Kejati Lampung di Tengah Pengusutan Kasus Korupsi

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:15 WIB

Prahara di Talang Padang: Mengapa Pemkab Tanggamus Kehilangan Taring?

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:46 WIB

Pakar Hukum Pidana Nilai Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Calon Belum Diperiksa

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:42 WIB

Membidik Keraguan di Proyek SPAM Pesawaran: Pembelaan Terakhir Adal Linardo

Berita Terbaru

Pemerintahan

Ketat Ikat Pinggang Salah Tempat, di Ruang Parlemen atau Dirakyat

Minggu, 2 Agu 2026 - 13:04 WIB