Money Politik: Racun yang Menggerogoti Demokrasi Pilkada 2024

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 November 2024 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi sekaligus Advokat Peradi Bandar Lampung, Hengki Irawan. Dokumen: berandalappung.com

Akademisi sekaligus Advokat Peradi Bandar Lampung, Hengki Irawan. Dokumen: berandalappung.com

Bandar Lampung (berandalappung.com) – Pilkada serentak 2024 menjadi ajang penting untuk menentukan arah kepemimpinan di berbagai daerah, termasuk Lampung.

Namun, bayangan gelap politik uang terus menjadi ancaman serius terhadap integritas demokrasi.

Pengalaman pribadi penulis yang awalnya sempat “shock” menerima amplop putih—yang ternyata hanya berisi undangan mencoblos menggambarkan betapa sensitifnya publik terhadap praktik ini.

Politik Uang: Ancaman Demokrasi yang Nyata

Politik uang tidak hanya mencederai nilai-nilai demokrasi, tetapi juga merusak struktur sosial dan kepercayaan masyarakat terhadap proses pemilu. Beberapa ancaman besar yang ditimbulkan politik uang adalah:

1. Menggantikan Nilai Demokrasi dengan Manipulasi.

Pemilih cenderung tergoda oleh iming-iming materi, bukan menilai kandidat berdasarkan visi, misi, atau rekam jejak mereka. Akibatnya, kompetensi dan integritas kandidat menjadi hal yang tidak relevan. Demokrasi bergeser dari transparansi dan keadilan menuju praktik transaksional.

2. Memperparah Ketimpangan Sosial
Politik uang sering kali menargetkan masyarakat ekonomi lemah. Bukan memberdayakan, praktik ini justru memperburuk kerentanan mereka.

Kelompok yang membutuhkan perhatian malah menjadi alat politik praktis.

Baca Juga :  Ketua DPRD Provinsi Lampung Hadiri Pembukaan Kejuaraan Tinju Amatir Polresta Bandar Lampung

3. Memicu Korupsi Pasca-Pemilu
Kepala daerah yang menang dengan politik uang cenderung memprioritaskan pengembalian modal politik dibandingkan kepentingan rakyat.

Ini membuka peluang besar untuk korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan anggaran.

4. Menurunkan Kualitas Kepemimpinan
Kompetisi politik yang sehat terkikis.

Kandidat dengan sumber daya finansial besar memiliki peluang lebih tinggi untuk menang, meskipun kurang kompeten.

Debat kandidat sering kali hanya menjadi panggung klise dengan janji-janji yang terfokus pada isu umum seperti infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan tanpa strategi konkret.

5. Rendahnya Pendidikan Politik Masyarakat
Politik uang mencerminkan rendahnya kesadaran politik di masyarakat.

Literasi politik yang lemah membuat masyarakat mudah dipengaruhi tanpa memahami konsekuensi jangka panjang.

Solusi dan Harapan: Menuju Demokrasi yang Bersih

Perbaikan demokrasi tidak hanya bergantung pada regulasi yang ketat, tetapi juga pada peran aktif masyarakat sebagai pengawas kekuasaan.

Penting bagi masyarakat untuk memahami konsep seperti RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) dan menilai kepala daerah berdasarkan pelaksanaan visi-misi mereka.

Baca Juga :  PKB Serahkan Rekomendasi B.1KWK ke Kada Pilgub dan Sejumlah Kabupaten/Kota

Di sisi lain, regulasi harus ditegakkan tanpa kompromi. Kepala daerah yang melanggar hukum harus ditindak tegas.

Efek jera tidak hanya diterapkan pada pelaku politik uang, tetapi juga kepada masyarakat yang terlibat sebagai penerima.

Pendidikan politik juga menjadi prioritas utama. Dengan meningkatkan literasi politik, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya hak pilih mereka, serta dampak dari politik uang terhadap kualitas pemimpin dan kebijakan publik.

Refleksi untuk Masa Depan

Pilkada serentak 2024 adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia masih memiliki harapan.

Dengan komitmen bersama dari masyarakat, pemerintah, dan lembaga pengawas, kita bisa memutus rantai politik uang yang telah menjadi penyakit kronis demokrasi.

Mari berharap bahwa pada 27 November 2024, kita dapat memilih pemimpin yang amanah, kompeten, dan jauh dari korupsi.

Pemimpin yang tidak hanya menjanjikan, tetapi juga mampu mewujudkan harapan rakyat. Yakin usaha sampai!

Penulis Hengki Irawan adalah Pengamat Pemberdayaan Masyarakat. 

Berita Terkait

Legislator Cantik Ini Dukung Penuh PWI Lampung Sukseskan HPN dan Porwanas 2027
“Mundur dari Kepala BGN, Nanik Deyang Mengaku Trauma Pegang Uang”
Ujian Berat Menjaga Marwah Pers di Tengah Disrupsi Digital
Politik Harus Hadir dengan Kepedulian Nyata, Firmansyah di Idul Adha PAN Bandar Lampung
Tim PH Arinal Djunaidi Minta Hakim Nyatakan Penahanan Tak Sah
Selamat, Ketua DPD Partai Golkar Lampung Hanan A. Rozak Berhasil Ciptakan Dinasti Golkar di Kabupaten Tulang Bawang Pilih Anak Kandung Jadi Ketua
Suara Anak Muda Bergema di IIB Darmajaya, Verrel Minta Bijak Bermedia Sosial
Menteri Pigai soal Feri Amsari Dipolisikan: Kritik Dijamin Konstitusi
Berita ini 110 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:51 WIB

Legislator Cantik Ini Dukung Penuh PWI Lampung Sukseskan HPN dan Porwanas 2027

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:58 WIB

“Mundur dari Kepala BGN, Nanik Deyang Mengaku Trauma Pegang Uang”

Kamis, 9 Juli 2026 - 16:22 WIB

Ujian Berat Menjaga Marwah Pers di Tengah Disrupsi Digital

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:05 WIB

Politik Harus Hadir dengan Kepedulian Nyata, Firmansyah di Idul Adha PAN Bandar Lampung

Rabu, 20 Mei 2026 - 12:28 WIB

Tim PH Arinal Djunaidi Minta Hakim Nyatakan Penahanan Tak Sah

Berita Terbaru