Lampung Timur (berandalappung.com) – Pengabdian dari Jurusan Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Gunung Tiga, Kecamatan Batanghari Nuban, Kabupaten Lampung Timur.
Kegiatan ini dipimpin oleh Puji Lestari dan melibatkan sejumlah dosen ahli hama dan penyakit tumbuhan, termasuk Prof Radix Suharjo, Lestari Wibowo dan Tri Maryono.
Tema pengabdian kali ini adalah pengendalian hama ulat grayak jagung Spodoptera frugiperda yang ramah lingkungan.
Puji Lestari mengatakan, Hama ulat grayak jagung belakangan menjadi masalah serius bagi petani, termasuk di Lampung Timur, karena menyerang tanaman mulai dari awal tanam hingga menjelang panen.
“Serangan hama ini menyebabkan kerugian yang signifikan bagi para petani. Petani biasanya mengatasi serangan hama ini dengan menyemprotkan insektisida berbahan aktif tertentu,” ujarnya pada media berandalappung.com Sabtu, (21/9/2024).
Namun, penggunaan insektisida yang sama dalam jangka waktu panjang menyebabkan hama mengalami resistensi, sehingga efektivitas pengendalian menurun.
Hal ini juga dikonfirmasi oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lampung Timur, Muhammad Syaiful Akhdar yang menyebutkan bahwa hama ulat grayak di wilayah Batanghari Nuban telah mengalami resistensi.
Menanggapi permasalahan ini, Tim Pengabdian Unila memberikan solusi alternatif pengendalian hama dengan menggunakan perangkap feromon.
“Perangkap ini memanfaatkan feromon untuk menarik imago jantan hama ke dalam perangkap, yang disebut bucket trap, sehingga mengurangi peluang perkawinan dengan serangga betina,” urainya.
Penggunaan perangkap ini diharapkan dapat menekan populasi hama ulat grayak dan mengurangi kerusakan tanaman jagung secara signifikan.
“Selain lebih efektif, perangkap feromon juga mendukung pertanian berkelanjutan karena bisa dipasang sejak awal penanaman dan mengurangi ketergantungan petani pada insektisida kimia,” katanya.
Perangkap dipasang sesuai tinggi tanaman jagung dan terbukti mampu menurunkan biaya pengendalian hama.
Pada kegiatan ini, Tim Pengabdian Unila juga memaparkan tentang pentingnya musuh alami dalam ekosistem pertanian serta cara menjaga keberadaan musuh alami di lahan jagung.
“Untuk memastikan efektivitas program ini, dilakukan pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman petani,” urainya.
Hasilnya, terdapat peningkatan signifikan dalam pemahaman petani mengenai pengendalian hama yang ramah lingkungan.
“Kegiatan diakhiri dengan diskusi interaktif yang membahas berbagai masalah pada tanaman jagung, memberikan ruang bagi petani untuk berdialog langsung dengan para ahli,” pungkasnya.











