Sambut HUT ke-81 RI, Bundo Kanduang Lampung Hidupkan Tradisi Bajamba
berandalappung.com— Lampung Tengah, gergetar dan gemuruh lagu marsekal dan aroma khas bumbu rendang menyatu di Bandar Jaya, Lampung Tengah, Sabtu (15/8/2026). Ribuan kilometer dari tanah leluhurnya di Sumatera Barat, perempuan-perempuan Minangkabau yang tergabung dalam Perkumpulan Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung merayakan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara yang berakar kuat pada tradisi: Lomba Paduan Suara Mars Bundokanduang dan penyajian Menu Makan Bajamba.
Acara yang diikuti oleh perwakilan Bundokanduang dari seluruh kabupaten dan kota se-Provinsi Lampung ini bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik lantunan nada dan jajaran piring yang tertata rapi di atas kain seprah, terdapat pesannya yang jelas: mempererat tali silaturahmi sekaligus merawat ingatan sejarah tentang kontribusi perempuan Minang bagi Republik.
Ketua Perkumpulan Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung, Citra Persada, menegaskan bahwa momen perayaan kemerdekaan adalah ajang merefleksikan kembali jejak langkah para pahlawan wanita asal Minangkabau.
“Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran penting perempuan Minangkabau. Nama-nama besar seperti Rasuna Said, Rohana Kudus, hingga Siti Manggopoh adalah bukti nyata bahwa perempuan Minang sejak dulu berjuang lewat pena, pendidikan, hingga perlawanan fisik demi tegaknya kedaulatan bangsa,” ujar Citra di sela-sela acara.
Ia menambahkan, estafet perjuangan tersebut terus berlanjut hingga hari ini di berbagai sektor, mulai dari keagamaan melalui figur seperti Fauziah Fauzan, ranah politik lewat Fahira Idris dan Meutya Hafid, hingga sektor ekonomi yang digerakkan oleh tokoh pengusaha seperti Nurhayati Subakat dan Ria Miranda.
Tradisi Kesetaraan di tanah rantau fokus utama perayaan kali ini tertuju pada tradisi Makan Bajamba prosesi makan bersama yang menuntut para pesertanya duduk melingkar mengelilingi hidangan.
Tradisi kuno Minangkabau ini sarat makna simbolis: menghapus sekat strata sosial dan mengajarkan tata krama, kesetaraan, serta rasa saling menghargai.
Semangat berbaur dan berkontribusi di tanah perantauan ini ditegaskan pula oleh Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Bundokanduang Lampung, Merry Warti.
Saat membuka acara, ia mengingatkan pentingnya memegang teguh falsafah adat “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.”
“Bundokanduang sebagai penjaga keluarga, nagari, dan masyarakat memiliki peran yang luar biasa. Ke depan, peran ini perlu terus ditingkatkan sebagai bentuk kontribusi nyata kita untuk kemajuan Provinsi Lampung,” kata Merry.
Melalui perpaduan seni suara dan ritual kuliner bernilai luhur ini, pengurus Bundokanduang Lampung berharap generasi muda tidak kehilangan akar budayanya di tengah arus modernisasi, sekaligus tetap menjaga semangat nasionalisme untuk memajukan daerah tempat mereka bernaung.(***)
Editor : Alex Buay Sako

Ketua Perkumpulan Bundokanduang Minangkabau Provinsi Lampung, Citra Persada, menegaskan bahwa momen perayaan kemerdekaan adalah ajang merefleksikan kembali jejak langkah para pahlawan wanita asal Minangkabau.
Saat membuka acara, ia mengingatkan pentingnya memegang teguh falsafah adat “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung.”









