Juadah Lapis Legit: Cerita Romantis Lebaran di Lampung

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 28 Maret 2025 - 11:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Photo Pemanis: Ulun Lampung dan Kue Lebaran.

Photo Pemanis: Ulun Lampung dan Kue Lebaran.

Oleh: Prof. Admi Syarif, PhD (Glr. Radjo Mergo) Guru besar Unila dan tukang tulis

SAAT lebaran datang, ada satu momen yang selalu membuat hatiku berdebar—bukan karena kebahagiaan berlebih, melainkan karena kehangatan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Momen itu adalah ketika aku duduk bersama keluarga di meja makan, di tengah tawa dan cerita yang mewarnai suasana, sambil menikmati lapisan legit yang baru saja disiapkan ibu. Setiap potongan legit yang aku ambil seakan membawa aku ke dalam kenangan indah masa kecil, dimana setiap lapisan kue ini terasa seperti lapisan-lapisan kenangan yang membangun kebahagiaan di hati.

Aku selalu ingat bagaimana papah, dengan senyum lembutnya, menyodorkan potongan legit kepada mamah, lalu kepada kami, anak-anaknya. Pandangan mata mereka penuh kasih, seakan berkata, “Lebaran ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang kasih sayang yang kita bagikan.” Setiap gigitan legit yang kami nikmati, seolah menyatu dengan alunan takbir yang menggema di sekeliling kami. Satu momen yang begitu romantis, namun penuh kesederhanaan—kesederhanaan yang penuh kasih sayang di tengah secangkir teh hangat, dan kue legit yang menambah manisnya kebersamaan kami. “*_Kasih sayany selalu saja selamgkah lebih panjang usianya dari Cinta”,*_
kenangku dalam hati.

Baca Juga :  Tidak Diragukan, Bunda Eva Layak Dua Periode

Ada sesuatu yang sangat spesial di balik kelezatan legit ini. Bukan hanya tentang rasa manis yang memenuhi mulut, tetapi tentang kenangan yang tak pernah pudar, tentang masa kecil yang selalu terpatri dalam ingatan. Saat setiap lapisan legit dipanggang dengan penuh kesabaran, aku merasa seperti waktu itu melambat, memberikan kesempatan untuk mengenang kebersamaan dengan orang-orang terkasih.

Setiap kali aku menyantap legit, aku mengingat kembali bagaimana papah dan mamah akan duduk bersama, berbagi cerita tentang masa lalu, tentang harapan yang mereka sematkan untuk kami. Itu adalah saat-saat indah yang tak tergantikan, dan setiap potongan legit adalah perwujudan dari rasa saya g mereka yang tak pernah pudar.

Mungkin, di luar sana banyak kue yang lebih mewah atau lebih modern, tetapi tidak ada yang bisa menandingi keistimewaan legit, terutama legib buatan ibinda tercinta, karena ia lebih dari sekadar kue. Legit adalah simbol kebersamaan, simbol cinta keluarga, dan simbol bahwa dalam kesederhanaan ada kebahagiaan yang tak terhingga.

Diperlukan kuning telur hingga 40 butir atau lebih untuk membuat satu loyang legit, tergantung ukuran loyang. Loyang yang dipakai umumnya loyang berbentuk segi empat berukuran 18 atau 20 cm. Rasanya yang manis, lembut saat digigit dan baunya yang harum menjadikannya “Incredibly Delicious”. Namun demikian, bagi saudaraku dengan kadar gula tinggi saya anjurkan untuk mencicipi sedikit.

Baca Juga :  Kebakaran Hutan, Dan Lahan Di Indonesia

Proses pembuatan legit membutuhkan kesabaran dan ketelitian luar biasa. Setiap lapisan harus dipanggang dengan penuh perasaan sabar dan kehati-hatian.
Pembuatan legit juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Pada jaman dulu oven yang dipakai adalah oven areng. Kini tentu saja ovennya bisa oven gas maupun oven listrik. Setiap lapisan ditekan-tekan dengan sendok atau gelas agar bentuknya bagus.

Untuk pembuatan legit, beberapa bahan yang biasa digunakan afalah telur ayam (25 – 40 butir), gula pasir, mentega (biasanya dicampur dengan wisjman), susu kental manis, vanili dan tepung terigu.

Dengan semua keistimewaannya ini, tidak heran jika kue ini harganya “Mehong”. Harga satu loyang kue ini berkisar 400rb hingga 1jt rupiah.
Bagaimana gaes ? Jangan lupa untuk mencicipi kue yang istimewa ini?

Itulah lebaran di Lampung. Di balik segala hiruk-pikuknya, ada momen-momen indah yang hadir dalam bentuk kehangatan, kasih sayang, dan tentu saja, sepotong legit yang membawa kenangan tak terlupakan.

 

Selamat Lebaran: Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Berita Terkait

Memutus Cemas di Sidomulyo: Cara Ciomas Adisatwa Menyelamatkan Pekerja Lokal
Di Balik Desakan Copot Kadisperindag Lampung: Salah Alamat Memahami Resi Gudang
Pendidik: Profesi yang Diperintahkan Allah
Dari Panggung Rock ke Kuah Pindang: Ikhtiar Baru Hary Kohar di Jantung Bandarlampung
Anggota Satpol PP Laporkan Dugaan Pelanggaran Pimpinan ke Pemprov
Apindo Harap Proses Hukum PSMI Tidak Ganggu Operasional Perusahaan dan Stabilitas Ekonomi Daerah
Dari Limbah Pala Menjadi Harapan Baru Petani Ketibung
“Dr. Dwi Putri Melati, Penegakan Hukum Harus Lebih Tajam dari Parang Begal”
Berita ini 161 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:23 WIB

Memutus Cemas di Sidomulyo: Cara Ciomas Adisatwa Menyelamatkan Pekerja Lokal

Senin, 15 Juni 2026 - 19:50 WIB

Di Balik Desakan Copot Kadisperindag Lampung: Salah Alamat Memahami Resi Gudang

Minggu, 14 Juni 2026 - 22:17 WIB

Pendidik: Profesi yang Diperintahkan Allah

Sabtu, 30 Mei 2026 - 13:36 WIB

Dari Panggung Rock ke Kuah Pindang: Ikhtiar Baru Hary Kohar di Jantung Bandarlampung

Rabu, 29 April 2026 - 11:34 WIB

Anggota Satpol PP Laporkan Dugaan Pelanggaran Pimpinan ke Pemprov

Berita Terbaru

Olahraga

PWI Lampung Gelar Seleksi Catur dan Domino Jelang Porwanas

Minggu, 5 Jul 2026 - 18:30 WIB

Olahraga

Belajar dari Tanjung Verde

Minggu, 5 Jul 2026 - 18:26 WIB

Berita Lainnya

Konsolidasi Partai Buruh Perkuat Komitmen Bersama

Sabtu, 4 Jul 2026 - 17:18 WIB