Pers Sekarat, Negara Diam Gelombang PHK Jurnalis Kian Meluas, DPR Desak Negara Turun Tangan

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 10 Juli 2025 - 14:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pers Sekarat, Negara Diam Gelombang PHK Jurnalis Kian Meluas, DPR Desak Negara Turun Tangan

 

berandalappung.com— Jakarta, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap jurnalis dan pekerja media terus membengkak dalam senyap. Di ruang redaksi yang makin sunyi, satu per satu wartawan tersingkir oleh realitas industri yang tak lagi berpihak. Kini, giliran parlemen yang angkat suara negara tak boleh abai.

“Ini bukan sekadar krisis iklan, ini krisis demokrasi. Ketika jurnalis dipaksa meninggalkan ruang redaksi karena perusahaan tak mampu menggaji, maka yang hilang bukan hanya pekerjaan, tapi suara kebenaran,” kata anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal MI, Rabu (9/7).

Ia menyebut, dalam dua tahun terakhir, setidaknya 1.200 jurnalis dan pekerja media dirumahkan tercatat maupun tak tercatat. Penyebabnya satu arus belanja iklan kini sepenuhnya dikuasai oleh platform media sosial dan raksasa digital global yang tak tersentuh regulasi nasional.

Data Gelombang PHK Jurnalis (2023–2024) Sumber Dewan Pers, AJI Indonesia
2023: ± 600 jurnalis dan pekerja media dirumahkan
2024 (hingga Q2): ± 650 jurnalis terdampak

Mayoritas PHK terjadi di media daring dan lokal
75% belanja iklan nasional dikuasai platform digital asing

Baca Juga :  Minim Pelanggaran Pemilu, Bawaslu Bandar Lampung Ajak Warganet Aktif Berpartisipasi

“Yang terjadi saat ini adalah kolonialisme digital. Platform asing memanen keuntungan dari konten yang diproduksi jurnalis kita, tapi tidak menyumbang sepeser pun untuk keberlanjutan pers nasional,” tegas Rizal.

Negara Tidak Hadir

Menurut Rizal, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tidak bisa lagi bersikap pasif. Regulasi usang tak mampu membendung dominasi algoritma. Saat media sosial menjadi lawan tanpa batas, negara justru masih terjebak dalam narasi netralitas teknologi.

“Negara ini cepat mengatur hoaks, tapi lambat melindungi ruang redaksi,” katanya tajam.

Rizal mendorong pemerintah segera merevisi Undang-Undang Pers dan Undang-Undang Penyiaran agar memasukkan klausul perlindungan ekosistem media nasional, termasuk regulasi pembagian belanja iklan digital dan kewajiban kontribusi dari platform asing.

Kepentingan Publik Dikorbankan

Sorotan juga datang dari TB Hasanuddin, anggota Komisi I lainnya. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dewan Pers, KPI, dan KIP, ia menegaskan bahwa selama ini negara terlalu fokus pada kepentingan korporasi media, namun abai pada nasib jurnalis sebagai pilar keempat demokrasi.

“Kesejahteraan prajurit TNI kita jaga bersama. Tapi bagaimana dengan para jurnalis yang menjaga garis depan informasi? Mengapa negara membiarkan mereka dihantam gelombang PHK tanpa perlindungan?” ucap Hasanuddin.

Ia menyebut ekosistem pers saat ini tidak sehat. Ketika pemilik modal lebih sibuk mengejar traffic dan cuan, jurnalis dibiarkan tanpa kontrak kerja, tanpa BPJS, tanpa jaminan hukum jika terancam karena berita yang ditulisnya.

Baca Juga :  Mengurai Antrean, RSUD Abdul Moeloek Andalkan Poli Gigi Eksekutif

DPR Desak Langkah Konkret

Komisi I DPR RI mendesak agar:

1. Pemerintah segera membentuk tim lintas kementerian untuk menyusun kebijakan perlindungan jurnalis dan media nasional.

2. Revisi UU Pers dan Penyiaran dipercepat untuk menyesuaikan dengan tantangan digital.

3. Platform digital asing diwajibkan berkontribusi dalam bentuk pajak khusus atau Dana Jurnalisme Publik.

4. Media diwajibkan melaporkan data PHK dan memberikan hak-hak pekerja sesuai ketentuan.

Penutup, Di tengah ledakan konten tanpa etika dan informasi tanpa verifikasi, wartawan tetap menjadi jangkar kebenaran. Namun jangkar itu kini nyaris tenggelam, ditarik oleh arus pasar yang tak kenal nurani.

Jika negara terus diam, bukan hanya jurnalis yang kehilangan pekerjaan. Publiklah yang akan kehilangan suara kebenaran.

“Pers tak boleh mati pelan-pelan karena negara terlalu lama berpikir.” ujar Syamsu Rizal.

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Pencegahan Rampung, KPK Buru Motif Penyuapan Suhardiman Amby ke Menhut Raja Juli
HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah
Peringatan 1 Muharam 1448 H di Pendopo Agung Nuswantoro Berlangsung Khidmat
Selamat, Tiga Hari Lagi DR Budiyono Nahkodai Hijau-Hitam di Provinsi Lampung
Mengurai Antrean, RSUD Abdul Moeloek Andalkan Poli Gigi Eksekutif
Germasi Bongkar Dugaan Penyimpangan Dana Desa Pekon Sinar Jaya Uang Rakyat Diduga Lenyap, Aparat Diminta Bertindak Tegas
Menepis Narasi Mangkrak: IKN Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi
Hangatkan Kebersamaan, Rutan Kelas I Bandar Lampung Laksanakan Sholat Iduladha 1447 H dengan Hikmat
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:57 WIB

Pencegahan Rampung, KPK Buru Motif Penyuapan Suhardiman Amby ke Menhut Raja Juli

Senin, 13 Juli 2026 - 19:07 WIB

HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah

Senin, 6 Juli 2026 - 10:06 WIB

Peringatan 1 Muharam 1448 H di Pendopo Agung Nuswantoro Berlangsung Khidmat

Senin, 29 Juni 2026 - 18:34 WIB

Selamat, Tiga Hari Lagi DR Budiyono Nahkodai Hijau-Hitam di Provinsi Lampung

Senin, 29 Juni 2026 - 18:00 WIB

Mengurai Antrean, RSUD Abdul Moeloek Andalkan Poli Gigi Eksekutif

Berita Terbaru

Berita Lainnya

IKWI Lampung Juara 2 Fashion Show Pakaian Adat HUT ke-65 IKWI

Selasa, 21 Jul 2026 - 22:34 WIB

Berita Lainnya

Putri Zulhas Siap Dukung Penuh HPN dan Porwanas 2027 di Lampung

Selasa, 21 Jul 2026 - 18:24 WIB

Berita Lainnya

Manuver Kuno Mengincar Oegroseno

Selasa, 21 Jul 2026 - 18:20 WIB