Dian–Vina Pimpin AJI Bandar Lampung “Kemerdekaan Pers Bukan Lagi Cukup Diperingati, Tapi Harus Diperjuangkan”
berandalappung.com— Bandar Lampung, 20 Juli 2025 di tengah arus deras digitalisasi dan makin sempitnya ruang kritis media, Konferensi Kota X AJI Bandar Lampung menetapkan Dian Wahyu Kusuma (Lampung Geh) dan Vina Oktavia (Kompas) sebagai Ketua dan Sekretaris periode 2025–2028. Tapi pemilihan ini bukan sekadar suksesi organisasi. Ini adalah penegasan sikap AJI tak akan tunduk di bawah tekanan kekuasaan maupun kepentingan pemilik modal.
Dian kembali memimpin untuk periode kedua, sebuah mandat politik dari komunitas jurnalis independen yang tak ingin dikekang. Dalam pidatonya, ia tak memilih kata-kata manis. Ia bicara soal kekerasan, sensor, dan kemiskinan struktural yang masih membayangi profesi jurnalis di daerah.
“Kebebasan pers hari ini terjepit di antara ancaman kekuasaan dan tirani klik. Kami tidak bisa hanya memperingati Hari Pers. Kami harus turun tangan, melindungi jurnalis yang dilaporkan ke polisi, yang dibayar murah, yang dibungkam tanpa suara,” tegas Dian.
Vina Oktavia menambahkan, program ke depan tak hanya soal pelatihan dan workshop. Mereka ingin membangun ekosistem solidaritas yang nyata antarjurnalis, antarwilayah, bahkan lintas isu.
“Kita tidak bisa lagi bekerja dalam silo. Pers harus bersatu, progresif, dan cepat menjawab tantangan zaman. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penumpang dalam sejarah media yang dikendalikan algoritma dan kekuasaan,” kata Vina.
Dr. Dewi Nurhayati, pengajar komunikasi dan media Universitas Lampung, menilai regenerasi kepemimpinan di AJI sangat krusial, terutama di daerah.
“AJI harus memainkan dua peran sekaligus: watchdog terhadap kekuasaan dan pelindung terhadap jurnalis yang terancam. Apalagi di daerah, di mana tekanan terhadap kebebasan berekspresi kerap kali tak terlihat tapi terasa,” ujar Dewi.
Ia menambahkan, salah satu tantangan besar adalah hilangnya ruang independen di ruang digital. “Media sekarang banyak disetir oleh algoritma. Tanpa independensi redaksi, jurnalisme akan kehilangan taring. Dan di sinilah organisasi seperti AJI penting: menjadi benteng terakhir.”
Di bawah kepemimpinan Dian–Vina, AJI Bandar Lampung menjanjikan wajah baru bukan hanya progresif di permukaan, tapi juga berani menantang status quo. Sebuah posisi yang tak populer, tapi justru sangat dibutuhkan saat ini. Ketika banyak organisasi profesi memilih diam, AJI justru memilih melawan.
“Kami tidak sedang membangun klub jurnalis,” kata Dian. “Kami sedang membangun benteng.”
Editor : Alex Buay Sako











