Bandar Lampung (berandalappung.com) – Provinsi Lampung mencatatkan diri sebagai wilayah dengan jumlah wartawan terbanyak kedua di Indonesia, menurut Oyos Saroso HN, tokoh pers Lampung.
Anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Lampung hanya terpaut tiga anggota dari Jawa Barat yang memimpin.
Namun, pencapaian tersebut beriringan dengan ironi. Lampung juga berada di peringkat kedua terburuk dalam indeks kebebasan pers.
Tantangan besar masih menghadang, termasuk tingginya angka kekerasan terhadap wartawan dan minimnya kebebasan berpendapat serta berekspresi.
“Selain itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) dan performa media di Lampung belum sesuai dengan standar Dewan Pers,” ungkap Oyos dalam sambutan acara HUT Fajar Sumatra ke-14 di Golden Tulip Bandar Lampung pada Sabtu, (7/12/2024).
Perlunya Pelatihan Jurnalistik Berkelanjutan
Untuk memperbaiki situasi ini, Oyos menekankan pentingnya pelatihan jurnalistik yang berkesinambungan.
Ia menyebut, meskipun Lampung memiliki jumlah wartawan yang besar, banyak dari mereka belum mendapatkan pembekalan yang memadai.
“Jika wartawan tidak ditempa dengan keilmuan jurnalistik, situasi bisa menjadi liar dan sangat berbahaya. Ini akan merusak demokrasi dan membuat anggaran negara membengkak tanpa hasil yang jelas,” jelas Oyos.
Ia menambahkan bahwa anggaran yang digunakan untuk pelatihan harus memiliki alat ukur yang jelas serta output konkret.
“Anggaran negara adalah hak rakyat, dan harus dipertanggungjawabkan sebaik mungkin,” tegasnya.
Komitmen Menjaga Integritas Jurnalistik
Sebagai jurnalis senior, Oyos menyoroti pentingnya menjaga integritas dalam dunia jurnalistik.
Meski ia merupakan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Oyos mengaku tetap menghormati wartawan dari organisasi lain yang serius menjalankan profesinya.
Namun, ia memberi peringatan keras bagi siapa saja yang mencoba merusak dunia jurnalistik.
“Kalau ada yang merusak, saya tidak akan ragu melawan, meskipun harus berhadapan sendirian,” ujarnya.
Dedikasi pada Dunia Jurnalistik
Oyos juga berbagi kisah pribadinya dalam memilih profesi sebagai wartawan. Ia bahkan menolak tawaran menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) demi mengejar cita-citanya di dunia pers.
“Saya sempat dianggap bandel oleh orang tua karena mereka ingin saya menjadi guru. Namun, saya percaya apa yang saya lakukan di dunia jurnalistik adalah bagian dari ibadah,” tandas Oyos.
Komitmen Oyos ini menjadi cerminan dedikasi yang diperlukan untuk mendorong perkembangan dunia pers yang sehat dan berintegritas di Lampung.











