Pengerjaan RSPTN Unila Abaikan K3, Rektor Unila Klaim Sudah Sesuai Prosedur

- Jurnalis

Selasa, 10 September 2024 - 21:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekerja proyek diduga tidak menggunakan alat pelindung diri K3. Foto : berandalappung.com

Pekerja proyek diduga tidak menggunakan alat pelindung diri K3. Foto : berandalappung.com

Bandar Lampung (berandalappung.com) – Rekanan PT Nindya Karya diduga mengabaikan kewajiban terkait penerapan Alat Pelindung Diri (APD) dan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam proyek pembangunan RSPTN, IRC, dan WWTP di Universitas Lampung, Selasa, (10/9/ 2024).

Berdasarkan pantauan Berandalampung.com, para pekerja terlihat bekerja tanpa menggunakan APD yang seharusnya wajib dikenakan demi menjaga keselamatan. Hal ini menandakan kelalaian dalam mematuhi prosedur K3 yang semestinya menjadi prioritas utama.

Tanggung jawab moral dan hukum atas keselamatan pekerja berada pada penyedia jasa dan pemberi kerja. Dalam proyek senilai Rp198.865.665.859 ini, pelanggaran aturan K3 menunjukkan sikap tidak profesional yang dapat berakibat fatal.

Aturan K3 telah diatur dalam berbagai regulasi, seperti Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Permenaker No. 5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen K3, serta Permenaker No. 4 Tahun 1987 tentang Panitia Pembina K3 (P2K3).

Mengabaikan aturan ini bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga berpotensi mengancam nyawa pekerja.

Saat dikonfirmasi, Rektor Universitas Lampung, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., mengatakan bahwa didalam pengerjaan proyek tersebut sudah di jaga ketat oleh pengawas lapangan.

Baca Juga :  Duta Mahasiswa FP Unila 2025 Dilantik: Bukan Sekadar Simbol, tapi Representasi Nilai dan Integritas

“Itu ada helm kuning pekerja dan APDnya di lokasi kerja ketat dan ada pengawasnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya mengklaim bahwa dokumentasi yang di ambil oleh jurnalis bukan pekerja melainkan tukang yang membenarkan mesin mobil di sekitar lokasi.

“Kalau saya lihat ini bukan sedang mengerjakan CW kg benerin mesin mobil he he mungkin. Ya beritakan saja baik baik,” pungkas Rektor Unila.

Selain itu, PPK RSPTN Unila, Andius D Putra, saat dikonfirmasi, menambahkan bahwa pihaknya akan segera melakukan peneguran kepada vendor.

“Ya terima kasih nanti akan saya beri teguran mengenai hal ini,” tuturnya.

Namun saat ditanyakan sanksi lainnya karna mengingat K3 bagian syarat penting yang harus dipenuhi rekanan justru sangat disayangkan dirinya enggan berkomentar dan terkesan mengabaikan pertanyaan yang diajukan jurnalis berandalappung.com.

Sebelumnya, proyek CWU pembangunan RSPTN, IRC, dan WWTP Universitas Lampung juga ramai diberitakan terkait dugaan korupsi. Laporan menyebutkan indikasi mark up sebesar 40 persen.

Baca Juga :  Dr. Albet Maydiantoro: Dari Desa ke Kampus, Menjadi Akademisi dan Dekan FKIP Unila

Gapeksindo Lampung menerima tembusan surat dari Lembaga Gerakan Rakyat Peduli Pembangunan Lampung (GRPPL) yang menuduh PT Nindya Karya melakukan mark up pada kualitas mutu beton proyek CWU, sehingga terjadi selisih hingga 40% dari Rencana Anggaran Biaya (RAB).

“Tim kami sudah melakukan investigasi terkait harga readymix di seluruh produsen, dan harga termurah masih di atas satu juta. Jadi, hampir bisa dipastikan mutu beton di proyek RSPTN dikurangi,” ujar Johan Budi, Ketua GRPPL.

Johan menambahkan, keuntungan yang diambil pihak rekanan proyek mencapai 40% dari harga RAB, sehingga ada indikasi penurunan kualitas material yang digunakan.

GRPPL meminta pihak penegak hukum dan BPK Perwakilan Lampung untuk mengusut dugaan penyimpangan dalam proyek ini. Mereka juga mendesak agar uji laboratorium dilakukan terhadap mutu beton yang digunakan.

“Jika hasil uji menunjukkan adanya mark up dan mutu beton yang tidak standar, proyek ini bisa dianggap gagal konstruksi dan harus dibongkar,” tutup Doni Barata, Ketua Dewan Pembina Gapeksindo Lampung.

Berita Terkait

Brutal Ngancam Tembak Karena Miliki Pistol, Polisi Harus Segera Amankan Pelaku
Menteri Pigai soal Feri Amsari Dipolisikan: Kritik Dijamin Konstitusi
Somasi Terbuka di Tengah Amuk Publik Panji Padang Ratu Ingatkan, Hukum Bukan Milik Massa
Kapolsek Muara Sungkai Disanksi Disiplin, Terkait Penolakan Laporan KDRT
Audit Terlambat, Penyidikan Terlanjur Jalan Publik Pertanyakan Sinkronisasi Kasus Honorer Fiktif Metro
PERADI Bandar Lampung Gelar Halal Bihalal, H. Marindo Kurniawan Sampaikan Amanah Gubernur
Sekjend Laskar Lampung Desak Evaluasi Total PTPN 7 Padangratu Puluhan Tahun Beroperasi, Rakyat Tak Dapat Apa-Apa
Skandal SPAM Pesawaran Mengguncang Kerugian Negara Dipersoalkan, Advokat Serang ‘Cacat Logika Hukum’
Berita ini 266 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 14:32 WIB

Brutal Ngancam Tembak Karena Miliki Pistol, Polisi Harus Segera Amankan Pelaku

Sabtu, 18 April 2026 - 21:53 WIB

Somasi Terbuka di Tengah Amuk Publik Panji Padang Ratu Ingatkan, Hukum Bukan Milik Massa

Sabtu, 18 April 2026 - 20:19 WIB

Kapolsek Muara Sungkai Disanksi Disiplin, Terkait Penolakan Laporan KDRT

Kamis, 16 April 2026 - 21:55 WIB

Audit Terlambat, Penyidikan Terlanjur Jalan Publik Pertanyakan Sinkronisasi Kasus Honorer Fiktif Metro

Minggu, 12 April 2026 - 07:40 WIB

PERADI Bandar Lampung Gelar Halal Bihalal, H. Marindo Kurniawan Sampaikan Amanah Gubernur

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Kekerasan di EPA Memalukan, Sikambara Minta Sanksi Tegas

Senin, 20 Apr 2026 - 08:24 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com