Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

- Jurnalis

Minggu, 19 April 2026 - 08:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Kampus Lupa Mengajarkan Batas

berandalappung.com—Tanjung Karang, belakangan ini, nama kampus-kampus besar yang biasanya kita dengar karena prestasi, justru muncul dalam konteks yang agak memalukan. Bukan soal riset, bukan soal capaian akademik, tapi hal yang sebenarnya paling dasar: etika.

Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung cukup membuat banyak orang mengernyit. Tempat yang kita bayangkan sebagai ruang orang-orang terdidik, ternyata tidak selalu bebas dari persoalan yang kalau dipikir-pikir sederhana: tahu batas atau tidak!.

Di satu sisi, mahasiswa hukum yang kelak bicara soal keadilan, justru terseret dalam percakapan yang merendahkan perempuan. Di sisi lain, ada budaya organisasi yang dianggap biasa saja, padahal ketika dilihat ulang, jelas bermasalah. Ini bukan sekadar soal siapa yang salah. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Dulu, tanpa teori macam-macam, orang sudah paham satu hal sederhana: ada batas dalam bersikap. Tidak semua hal pantas dijadikan candaan. Tidak semua ruang bisa diperlakukan seenaknya.

Sekarang, batas itu terasa makin kabur. Hal-hal yang dulu jelas tidak pantas, pelan-pelan dianggap wajar.

Yang seharusnya ditegur, sering dibiarkan.

Yang mestinya membuat orang merasa tidak nyaman, justru dianggap lucu.

Dan yang agak mengganggu, semua ini terjadi di lingkungan kampus.

Mungkin mudah untuk mengatakan ini ulah oknum. Tapi rasanya terlalu cepat. Kalau sesuatu terjadi dalam ruang bersama misal grup, organisasi, tradisi itu biasanya bukan kejadian sekali dua kali.

Baca Juga :  Promovendous Paparkan Implementasi Kecerdasan Buatan untuk Identifikasi dan Klasifikasi Sperma Manusia

Artinya, ada yang terbiasa. Ada yang dibiarkan. Dan di situ letak masalahnya.

Banyak budaya di kampus berjalan begitu saja tanpa pernah benar-benar ditanya: ini masih layak atau tidak? Kadang, solidaritas membuat orang memilih diam. Kadang juga, senioritas membuat yang lain enggan bicara.

Padahal, mestinya kampus justru jadi tempat paling aman untuk saling mengingatkan.

Lalu kita sampai pada pertanyaan yang agak mengganggu: sebenarnya kampus sedang membentuk apa?

Selama ini, ukuran keberhasilan terasa cukup jelas—nilai bagus, cepat lulus, punya prestasi. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi sering kali, hal-hal yang lebih mendasar tidak ikut diperhatikan dengan serius.

Baca Juga :  Dosen Unila Beri Solusi Ramah Lingkungan Atasi Hama Ulat Grayak di Lampung Timur

Orang dilatih berpikir kritis, tapi tidak selalu dibiasakan menjaga cara bicara.

Didorong untuk berani berpendapat, tapi tidak cukup diingatkan soal batas.

Akhirnya, kita melihat sesuatu yang agak janggal: pintar, tapi tidak selalu peka.

Kasus seperti ini seharusnya tidak berhenti di sanksi atau klarifikasi. Ada yang perlu dilihat lebih dalam, terutama soal budaya yang selama ini dianggap biasa.

Karena justru dari hal-hal yang dianggap “biasa” itu, masalah sering tumbuh tanpa terasa.

Kampus mungkin tidak kekurangan orang cerdas. Tapi kalau kepekaan dan etika tidak ikut tumbuh, hasilnya akan terasa timpang.

Pada akhirnya, yang keluar dari kampus bukan hanya lulusan, tapi manusia yang nanti hidup di tengah masyarakat.

Dan masyarakat, sering kali, tidak hanya menilai dari seberapa pintar seseorang berbicara—tapi dari bagaimana ia menjaga sikap.

Mungkin itu yang perlu diingat kembali, Bahwa pendidikan tidak cukup membuat orang menjadi mampu, Ia juga harus membuat orang tahu batas!.

Penulis M. Abdullah Umar, M.A
Dosen STIES ALIFA PRINGSEWU. (***)

Editor : alex jefri

Berita Terkait

Dewan Pendidikan Lampung Gandeng Komisi X DPR RI, Soroti Data Desil Mahasiswa Penerima KIP
Dosen FH Saburai Perkuat Literatur Hukum Acara Perdata lewat Book Chapter
500 Mahasiswa Masuk LK I HMI, Apa yang Akan Mereka Bawa Pulang?
Mahasiswa FP Unila Diduga Dikeroyok Usai Kericuhan Parade, Keluarga Desak Polisi Usut Pelaku
Ikaperta Unila Buka Jalan Talenta Muda Pertanian Menembus Dunia Industri
Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT
Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo
Kwarda Lampung Buka Bumbung Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 05:45 WIB

Dewan Pendidikan Lampung Gandeng Komisi X DPR RI, Soroti Data Desil Mahasiswa Penerima KIP

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Dosen FH Saburai Perkuat Literatur Hukum Acara Perdata lewat Book Chapter

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:30 WIB

500 Mahasiswa Masuk LK I HMI, Apa yang Akan Mereka Bawa Pulang?

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Mahasiswa FP Unila Diduga Dikeroyok Usai Kericuhan Parade, Keluarga Desak Polisi Usut Pelaku

Senin, 28 September 2026 - 11:34 WIB

Ikaperta Unila Buka Jalan Talenta Muda Pertanian Menembus Dunia Industri

Berita Terbaru

Hukum

Usut Korupsi Dana BNPB, KPK Segera Surati Panglima TNI

Minggu, 18 Okt 2026 - 12:44 WIB