Jeep, Ramadan, dan Jalan Kepedulian di Gunung Terang
berandalappung.com— Langkapura, deru mesin jeep yang biasanya identik dengan lintasan terjal dan petualangan ekstrem, Minggu (1/3/2025), terdengar berbeda di kawasan Gunung Terang, Bandar Lampung. Bukan konvoi hobi yang dipamerkan, melainkan rombongan yang membawa paket bantuan untuk mereka yang hidup dalam sunyi dan keterbatasan.
Para anggota Willys Lampung Community (WLC) memilih memaknai Ramadan dengan cara yang lebih membumi: menyambangi tunanetra, fakir miskin, dan para lanjut usia yang nyaris luput dari sorotan.
Kegiatan sosial itu digelar bekerja sama dengan Detasemen Kesehatan wilayah Lampung, menghadirkan bantuan langsung bagi warga yang membutuhkan.
Ketua Umum WLC, Henry K. Yuza, menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari komitmen komunitasnya untuk tidak terjebak dalam romantisme otomotif semata.
“Kami ingin Ramadan ini tidak hanya menjadi rutinitas ibadah personal, tetapi juga momentum berbagi. Kegiatan seperti ini sudah menjadi agenda tetap kami,” ujarnya.
Bagi komunitas jeep yang selama ini lebih dikenal lewat kegiatan off-road dan ekspedisi, langkah turun langsung ke permukiman warga menjadi pergeseran yang patut dicatat.
Henry menambahkan, keberadaan komunitas otomotif seharusnya memberi dampak sosial yang nyata. “Silaturahmi tidak cukup di internal komunitas. Justru harus diperluas ke masyarakat,” katanya.
Di salah satu rumah sederhana, Lek Pardi penerima manfaat mengaku terharu. Bantuan yang diterimanya mungkin tidak besar secara nominal, tetapi cukup berarti bagi kebutuhan hariannya. “Terima kasih kepada WLC. Bantuan ini sangat membantu kami,” ujarnya pelan.
Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial dan tekanan ekonomi, aksi-aksi seperti ini memang tidak menyelesaikan persoalan struktural.
Namun setidaknya, di sudut kota Bandar Lampung, ada sekelompok orang yang memilih menjadikan hobi sebagai jembatan empati.
Ramadan, pada akhirnya, menemukan maknanya bukan pada gegap gempita, melainkan pada langkah-langkah kecil yang menyentuh mereka yang sering kali tak terdengar.
Editor : Alex Buay Sako

“Kami ingin Ramadan ini tidak hanya menjadi rutinitas ibadah personal, tetapi juga momentum berbagi. Kegiatan seperti ini sudah menjadi agenda tetap kami,” ujarnya.









