Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 20 Oktober 2025 - 18:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung


berandalappung.com — Tanjung Karang, Menolak menara gading, menyalakan api kesadaran di tengah rakyat. Di tengah derasnya arus pragmatisme kampus dan komersialisasi pendidikan, Budiyono berdiri di jalur yang berbeda.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung itu menolak menjadikan ilmu sebagai komoditas akademik. Ia memilih detak jantung dengan denyut nadi rakyat yang menghidupkan teori dalam praktik sosial.

Bagi Budiyono, ruang kuliah bukanlah tempat meluasnya teori, melainkan arena perlawanan terhadap formalisme pengetahuan. Ia tidak sekadar mengajar hukum, tetapi mengungkap bagaimana hukum bekerja sebagai alat kekuasaan. Siswa diajak membaca pasal-pasal dengan mata kritis, bukan sekadar menghafal.

“Hukum tak lahir di atas kertas,” katanya di ruang diskusi fakultas. “Ia tumbuh dari pertarungan kepentingan.”

Kalimat itu menggambarkan dengan tepat wataknya pembeli yang menolak diam di menara gading. Ia lebih nyaman berada di lapangan, di tengah masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem yang katanya adil tapi sering pincang.

Di Antara Rakyat dan Kekuasaan

Dalam kacamata Antonio Gramsci, setiap kelas sosial memerlukan intelektualnya sendiri yang berpikir sekaligus berjuang. Gramsci menyebut intelektual organik: orang yang memiliki pengetahuan dengan perjuangan sosial.

Budiyono menjelma menjadi sosok itu di Lampung. Ia tak berhenti pada kritik verbal. Ia turun ke lapangan, mendampingi warga yang digusur, buruh yang diabaikan, dan mahasiswa yang menolak ketimpangan. Ia tidak datang sebagai pengamat netral, tapi bagian dari perjuangan itu sendiri.

“Netralitas itu mitos,” katanya. “Pengetahuan selalu berpihak. Dan saya tahu di mana saya berdiri.”

Sikapnya membuatnya berbeda di tengah budaya akademik yang kian pragmatis. Ketika banyak dosen sibuk mengejar publikasi jurnal dan akreditasi kampus, Budiyono menambatkan reputasinya pada pekerjaan sosial yang konkret. Ia sedang mencari nama. Ia mencari makna.

Baca Juga :  Sekda Provinsi Lampung, Sambangi Rumah Duka Akibat Pohon Tumbang

Melawan Pasar Pengetahuan

Dalam banyak forum, Budiyono dikenal kritis terhadap neoliberalisasi pendidikan tinggi. Ia tidak menganggap kampus sebagai korporasi pengetahuan, tempat mahasiswa diperlakukan layaknya konsumen.

“Universitas seharusnya ruang publik kritis, bukan pabrik ijazah,” ungkapnya dalam satu forum diskusi.

Pandangan itu sejalan dengan gagasan kritis pedagogi Paulo Freire: pendidikan sebagai praksis kebebasan. Budiyono menerjemahkan ide itu dalam konteks lokal menjadikan pendidikan hukum sebagai alat emansipasi, bukan legitimasi kekuasaan.

Baginya, Tri Dharma Perguruan Tinggi bukan daftar tanggung jawab administratif, melainkan jalan perlawanan terhadap hegemoni pengetahuan. Penelitian dan pengabdian bukan untuk laporan akreditasi, tapi untuk mengembalikan makna ilmu kepada rakyat.

Baca Juga :  Peringatan untuk Nanik S. Deyang: Jangan Diulangi

Api yang Tak Pernah Padam

Kini, di usianya yang ke 51 tahun, Budiyono masih menyalakan bara yang sama. Ia tetap mengajar, menulis, dan mendampingi masyarakat yang terpinggirkan. Ia hidup sederhana, tetapi pikirannya menjulang tinggi.

Ia tahu, perjuangan intelektual bukan soal pangkat akademik, tapi soal keberpihakan. “Ilmu tanpa keberpihakan adalah kesia-siaan,” katanya, suatu kali.

Di ruang kuliahnya, siswa belajar bahwa hukum bukan kumpulan pasal, tapi medan pertempuran moral. Di lapangan, masyarakat mengenalnya bukan sebagai “Pak Dosen”, tapi “kawan seperjuangan”.

Budiyono mungkin tak sering muncul di media nasional, tapi di Lampung, namanya hidup di antara cerita-cerita advokasi rakyat. Ia menjelma simbol dari apa yang disebut Gramsci sebagai hegemoni tandingan: perlawanan intelektual terhadap dominasi kekuasaan.

Ketika banyak ilmuwan sibuk membangun karir di atas kesunyian rakyat, Budiyono menumbuhkan ilmu di tengah penderitaan mereka. Ia membuktikan bahwa berpikir dan berjuang bukanlah dua dunia yang terpisah. Dalam dirinya, keduanya menyatu—dalam kesadaran bahwa pengetahuan sejati bukanlah yang menghiasi rak jurnal, tapi yang menyalakan kesadaran.

Dan dari Lampung, api kecil itu masih menyala. Tak padam, bahkan di tengah angin kekuasaan yang terus berubah arah.

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Membaca Nalar Komisi V: Ketika Dewan Pendidikan Dianggap LSM
Jatuh Bangun Welly Adiwantra: Diuji di Pansel, Tersangka di Polda
Ryacudu
Peringatan untuk Nanik S. Deyang: Jangan Diulangi
Anak-Anak Muda Statistik
Membongkar Tabu: Menengok Kembali Riwayat Masjid Inklusif Pertama di Paris
Sebuah Madrasah Cinta dan Pengorbanan
MENAKAR KEADILAN DI POLDA LAMPUNG: MENGAPA SANKSI ETIK SAJA TIDAK CUKUP BAGI OKNUM POLISI PENGANIAYA?
Berita ini 151 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:56 WIB

Membaca Nalar Komisi V: Ketika Dewan Pendidikan Dianggap LSM

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:26 WIB

Jatuh Bangun Welly Adiwantra: Diuji di Pansel, Tersangka di Polda

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:45 WIB

Ryacudu

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:22 WIB

Peringatan untuk Nanik S. Deyang: Jangan Diulangi

Kamis, 4 Juni 2026 - 09:34 WIB

Anak-Anak Muda Statistik

Berita Terbaru

Berita Lainnya

IKWI Lampung Juara 2 Fashion Show Pakaian Adat HUT ke-65 IKWI

Selasa, 21 Jul 2026 - 22:34 WIB

Berita Lainnya

Putri Zulhas Siap Dukung Penuh HPN dan Porwanas 2027 di Lampung

Selasa, 21 Jul 2026 - 18:24 WIB

Berita Lainnya

Manuver Kuno Mengincar Oegroseno

Selasa, 21 Jul 2026 - 18:20 WIB