Bandar Lampung (berandalappung.com) – Pengamat Pemberdayaan Masyarakat Indonesia, Hengki Irawan, menegaskan pentingnya peran wartawan dalam menjaga demokrasi yang sehat.
Sebagai pilar keempat, wartawan memiliki tugas penting untuk menyediakan informasi yang akurat, mengawasi kekuasaan, dan memastikan transparansi dalam sistem pemerintahan.
Namun, menurut Hengki, dalam kondisi demokrasi “mati suri” di mana sistem hanya berjalan secara formal tanpa esensi sebenarnya wartawan kerap menjadi korban utama dari berbagai bentuk represi.
Faktor Penyebab Demokrasi “Mati Suri”
1. Represi terhadap Kebebasan Pers
Hengki mengungkapkan bahwa pemerintah atau elit berkuasa sering kali membungkam pers melalui sensor, kriminalisasi, hingga ancaman kekerasan.
“Akibatnya, wartawan bekerja di bawah tekanan ketakutan, kehilangan kebebasan untuk menyuarakan kebenaran,” paparnya pada media berandalappung.com Sabtu, (7/12/2024) di acara HUT Fajar Sumatra ke- 14 di Hotel Golden Tulip.
2. Polarisasi dan Disinformasi
Media sering menjadi arena pertempuran narasi di tengah polarisasi politik.
Disinformasi yang terus merajalela juga melemahkan peran pers sebagai sumber fakta.
“Jurnalis independen menghadapi serangan dari berbagai pihak, semakin sulit menjalankan tugasnya,” ungkap Hengki.
3. Korporatisasi Media
Hegemoni korporasi dan oligarki terhadap media menjadi tantangan besar lainnya.
“Korporasi kerap mendistorsi agenda berita untuk kepentingan mereka, membuat wartawan independen terisolasi tanpa dukungan,” tambahnya.
4. Menurunnya Kepercayaan Publik
Hengki juga menyoroti apatisme masyarakat terhadap informasi yang semakin buruk akibat kasus bias dan manipulasi berita.
“Kepercayaan publik terhadap media menurun, membuat posisi pers semakin terpinggirkan,” paparnya.
Langkah untuk Menghidupkan Kembali Demokrasi
Untuk mengatasi kondisi ini, Hengki menyarankan beberapa langkah strategis:
1. Melindungi Kebebasan Pers:
“Regulasi yang kuat diperlukan untuk melindungi wartawan dari ancaman fisik maupun hukum,” tegas Hengki.
2. Mendukung Media Independen:
Pemerintah dan masyarakat perlu memberikan dukungan finansial kepada media yang tidak terikat pada kepentingan politik maupun ekonomi.
3. Meningkatkan Literasi Media:
“Edukasi publik sangat penting agar masyarakat mampu menyaring informasi dan menghargai jurnalisme berkualitas,” ujarnya.
4. Solidaritas Antarmedia:
Kerja sama lintas institusi media diperlukan untuk menghadapi ancaman represi dan disinformasi secara kolektif.
Masa Depan Demokrasi
“Wartawan adalah garda terdepan dalam menjaga demokrasi tetap hidup,” ujar Hengki.
Ia menegaskan bahwa pemberdayaan jurnalis adalah kunci untuk mengembalikan demokrasi pada esensi aslinya.
“Namun, jika kebebasan pers terus dirampas, demokrasi hanya akan menjadi formalitas tanpa jiwa, terjebak dalam kondisi ‘mati suri’ yang semakin memperkuat otoritarianisme,” tandas Hengki.











