Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 06:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Unila Tantang Ketergantungan Petani pada Pestisida, Kenalkan APH sebagai “Senjata”


berandalappung.com
— Pringsewu, ketergantungan petani terhadap pestisida untuk membasmi hama dan penyakit tanaman (HPT) mulai ditantang. Di lahan pertanian Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) memperkenalkan agensia pengendali hayati (APH) sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Para dosen tidak datang sekadar membawa teori tapi membawa “senjata” alternatif bagi petani. Mereka turun langsung ke lahan, berdiskusi dengan petani, dan memperagakan cara memanfaatkan organisme hayati untuk menekan serangan hama serta penyakit tanaman.

Kegiatan yang berlangsung pada 12 September 2026 itu diikuti lebih dari 35 petani. Program tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan Universitas Lampung yang didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unila melalui skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan.

Tim pengabdi dipimpin Dr. Puji Lestari, bersama Ir. Lestari Wibowo, M.P., Selvi Helina, S.P., M.Sc., Prof. Dr. Radix Suharjo, Prof. Dr. Yuyun Fitriana, dan Ni Kadek Emi Sintha Dewi, S.P., M.P.

Baca Juga :  HMI Komisariat Pertanian Unila di Lantik, Ini Pesan Prof Wan Abbas

Dalam kegiatan tersebut, tim membahas pengelolaan dan mitigasi hama serta penyakit tanaman. Petani didorong untuk tidak terus-menerus menjadikan bahan kimia sebagai satu-satunya andalan dalam melindungi tanaman.

Salah satu praktik yang diperkenalkan ialah perbanyakan APH menggunakan kompos sebagai media hidup. Melalui praktik ini, petani mempelajari cara mengembangkan agensia hayati yang dapat membantu menekan penyakit tanaman.

Tim turut mendistribusikan APH berbasis Trichoderma sp. dan konsorsium bakteri yang diformulasikan Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Unila.

APH tersebut telah melalui pengujian dan menunjukkan kemampuan mendukung pertumbuhan serta meningkatkan ketahanan tanaman atau plant growth promoting.

Bagi petani, teknologi baru tidak cukup hanya dijelaskan dari balik meja. Karena itu, kegiatan dikemas dalam bentuk diskusi, praktik, dan evaluasi. Pengetahuan peserta diukur melalui pretest dan post-test, yang menunjukkan peningkatan pengetahuan serta kemampuan setelah kegiatan berlangsung.

Pendekatan ini sekaligus menguji cara lama dalam pengendalian hama. Jika selama ini pestisida kerap menjadi pilihan pertama, APH ditawarkan sebagai pilihan lain yang dapat dikembangkan dari bahan dan organisme yang lebih bersahabat dengan lingkungan.

Baca Juga :  Senator Datang ke Kampus, Tapi Apakah Pendidikan Swasta Benar-Benar Didengar?

Hubungan antara kampus dan petani pun dibangun bukan dalam pola satu arah. Pengetahuan dibawa ke lahan, dipraktikkan bersama, dan diuji untuk menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi petani sehari-hari.

Tim pengabdi berharap APH dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap pengendalian berbasis bahan kimia.

Sebab, pertanian berkelanjutan tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen. Tanah, air, lingkungan, dan kesehatan juga menjadi taruhan ketika pengendalian hama dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Dari Adiluwih, dosen Pertanian Unila menyampaikan pesan tegas: hama tidak harus dilawan dengan pestisida, dan petani tidak harus menghadapi persoalan itu sendirian. Kampus hadir untuk berkawan, menguji cara baru, dan mencari solusi bersama.(***)

Penulis : Tim Proteksi Pertanian

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo
Kwarda Lampung Buka Bumbung Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT
Soal Tudingan Santri Kabur, Pengelola Darul Fattah Natar Buka Suara
Ketua Kwarda Lampung Lantik Rektor UIN Raden Intan Jadi Kamabigus
Tulang Bawang Ukir Sejarah, Hibahkan Lahan 19,17 Hektare untuk Sekolah Nasional Terintegrasi
Ketua Kwarda Lampung Buka KPDK 2026, Resmikan Program “Garis Depan”
Senat Unila Tetapkan Muhammad Akib Jadi Ketua Panitia Pemilihan Rektor 2027–2031
Dosen STAI Ibnu Rusyd Kotabumi: Kolaborasi Orang Tua Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak Usia Dini
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 06:40 WIB

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Kamis, 10 September 2026 - 13:13 WIB

Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:40 WIB

Kwarda Lampung Buka Bumbung Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:22 WIB

Soal Tudingan Santri Kabur, Pengelola Darul Fattah Natar Buka Suara

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 05:51 WIB

Ketua Kwarda Lampung Lantik Rektor UIN Raden Intan Jadi Kamabigus

Berita Terbaru

Pendidikan

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:40 WIB

Politik

Saran Ringan untuk UU Politik 2029, Dari Anas Urbaningrum

Senin, 14 Sep 2026 - 14:45 WIB

Hukum

Ada Apa? Welly Mendadak Cabut Praperadilan

Jumat, 11 Sep 2026 - 10:18 WIB

Pendidikan

Disdikbud Lampung Imbau Sekolah Gelar Sholat Istisqo

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:13 WIB