Sorban, Kuasa, dan Sunyinya Nalar di Balik Tembok Pesantren

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 17:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sorban, Kuasa, dan Sunyinya Nalar di Balik Tembok Pesantren

Saya pernah beberapa kali duduk di serambi pesantren saat malam mulai turun. Suara ngaji terdengar pelan dari kamar-kamar santri, sandal berserakan di depan mushala, dan aroma kopi bercampur kitab-kitab tua menghadirkan suasana yang selalu menenangkan.

Di tempat seperti itu, banyak orang tua menitipkan anaknya dengan keyakinan penuh: agar anak mereka tumbuh menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.

Karena itu, selalu terasa menyakitkan ketika mendengar kabar ada santri yang justru pulang membawa trauma. Saya pernah melihat sendiri bagaimana seorang anak memilih diam ketika ditanya tentang kehidupan di pondoknya.

Tatapannya kosong, jawabannya pendek-pendek, seolah ada sesuatu yang ingin ia ceritakan tetapi tertahan oleh rasa takut. Dan yang lebih menyedihkan, di sekitar kita sering kali ada orang-orang yang tahu sesuatu sedang tidak baik-baik saja, tetapi memilih bungkam demi menjaga nama besar lembaga.

Baca Juga :  GERAKAN LITERASI MODERASI, Sebuah Pelurusan Terhadap Mainstream dan Implementasi Nilai-Nilai Islam Dalam Bingkai Pluralisme di Indonesia

Tahun 2026, publik kembali diguncang oleh dugaan kasus pencabulan santriwati yang melibatkan pengasuh pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah. Polisi menetapkan seorang kiai bernama Ashari sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap puluhan santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo.

Bahkan, laporan yang muncul menyebut sebagian korban masih berusia belia dan mengalami tekanan untuk tetap diam.

Yang membuat luka ini terasa lebih pahit bukan hanya tindakan bejatnya, tetapi juga budaya diam yang mengitarinya. Ada santri yang takut bicara karena ancaman.

Ada orang tua yang ragu melapor karena khawatir anaknya dianggap membawa aib. Bahkan kadang masyarakat lebih sibuk membela simbol daripada mendengar jeritan korban. Kita terlalu mudah memuliakan sorban, tetapi terlalu lambat memeluk anak-anak yang terluka.

Baca Juga :  OTT Wamen, Noel yang Dikorbankan, dan Silverstel yang Tak Tersentuh

Padahal agama tidak pernah mengajarkan umatnya memelihara kebusukan atas nama penghormatan. Cahaya Tuhan tidak tinggal di tempat yang membiarkan kezaliman tumbuh dalam diam. Dan ilmu yang kehilangan nurani hanyalah kekuasaan yang sedang mencari korban.

Kita menyaksikan bagaimana santri yang berani jujur justru dianggap pembangkang, sementara pelaku dipeluk oleh budaya takzim yang berlebihan. Di titik itulah kesucian berubah menjadi topeng, dan kuasa menjelma luka bagi mereka yang lemah.

Pesantren tidak akan runtuh karena kritik. Ia justru hancur ketika kebenaran dikubur demi menjaga nama baik. Sebab lembaga yang takut pada kejujuran perlahan hanya akan menjadi bangunan sunyi yang menyimpan busuk di balik doa-doa panjangnya.

Dan ketika sorban lebih dilindungi daripada anak-anak yang terluka, saat itu sebenarnya yang sedang kehilangan kehormatan bukan santrinya melainkan nurani kita sendiri.(***)

Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Menyentil Cak Imin, Mengingat Nasihat Kiai
Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  
Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama
Mengulik Jurnal dari Balik Layout, Ketika Tampilan Menjadi Bagian dari Kredibilitas Ilmiah
Membaca Nalar Komisi V: Ketika Dewan Pendidikan Dianggap LSM
Jatuh Bangun Welly Adiwantra: Diuji di Pansel, Tersangka di Polda
Ryacudu
Peringatan untuk Nanik S. Deyang: Jangan Diulangi
Berita ini 61 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 12:10 WIB

Menyentil Cak Imin, Mengingat Nasihat Kiai

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:25 WIB

Demokrasi Produktif di Tengah Gejolak Politik  

Rabu, 26 Agustus 2026 - 23:15 WIB

Senat Universitas dan GBHN: Guru Besar Hanya Nama

Rabu, 19 Agustus 2026 - 08:47 WIB

Mengulik Jurnal dari Balik Layout, Ketika Tampilan Menjadi Bagian dari Kredibilitas Ilmiah

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:56 WIB

Membaca Nalar Komisi V: Ketika Dewan Pendidikan Dianggap LSM

Berita Terbaru

Screenshot

Pemerintahan

Survey Rakata : Mirza-Jihan Raih Kepuasan Publik Diatas 80 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:10 WIB

Pendidikan

Unila Berkawan dengan Petani, Perkenalkan APH untuk Kendalikan HPT

Selasa, 15 Sep 2026 - 06:40 WIB