“Kartini yang Dirayakan, Pikiran yang Ditinggalkan”

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 19:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Kartini yang Dirayakan, Pikiran yang Ditinggalkan”

 

berandalappung.com— Kedaton, hari Kartini itu setiap tahun dirayakan, tapi jarang dipikirkan. Kita sibuk pakai kebaya, bikin lomba, unggah foto lalu merasa sudah selesai dengan sejarah. Padahal, Raden Ajeng Kartini bukan peristiwa seremoni, dia adalah peristiwa intelektual. Kartini itu menggugat, bukan merayakan.

Masalahnya, bangsa ini memang punya kecenderungan merawat simbol, tapi malas merawat gagasan. Kartini dijadikan ikon emansipasi, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar dibaca. Kita hafal namanya, tapi gagal memahami kecemasannya. Ini problem klasik kita memuseumkan tokoh, bukan melanjutkan pikirannya.

Kartini bicara soal pendidikan, soal kebebasan berpikir. Tapi hari ini, pendidikan justru sering memproduksi kepatuhan, bukan keberanian berpikir. Perempuan memang sudah masuk kampus, masuk ruang publik, tapi apakah betul mereka merdeka secara intelektual? Atau hanya pindah dari satu bentuk tekanan ke tekanan lain yang lebih halus standar sosial, ekspektasi publik, bahkan algoritma media sosial?

Di situ ironi kita. Dulu perempuan dipingit secara fisik, sekarang dipingit secara mental. Dulu temboknya nyata, sekarang temboknya ada di kepala. Dan yang berbahaya justru yang kedua, karena tidak terlihat tapi mengendalikan.

Baca Juga :  Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung

Kalau kita tarik ke dalam perspektif Islam, problemnya juga sama: kita sering mencampuradukkan nilai dengan tradisi. Islam jelas memuliakan ilmu dan memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang. Tapi dalam praktik sosial, tafsirnya sering menyempit. Jadi yang salah bukan ajarannya, tapi cara kita memahami dan menggunakannya.

Negara? Ya, negara selalu datang belakangan. Konstitusi bicara kesetaraan, tapi realitasnya masih penuh ketimpangan. Perempuan masih berhadapan dengan kekerasan, diskriminasi kerja, dan akses pendidikan yang tidak merata. Artinya, kita ini rajin memperingati, tapi malas memperbaiki.

Jadi Hari Kartini seharusnya bukan soal nostalgia, tapi soal kegelisahan. Pertanyaannya bukan “apa yang sudah kita rayakan?”, tapi “apa yang belum kita selesaikan?”. Kalau pertanyaan itu tidak muncul, maka setiap perayaan Kartini hanya jadi ritual tahunan ramai, tapi kosong. (***)

Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Banjir Bandar Lampung, Tragedi Hujan Deras dan Persoalan Tata Kelola Sungai
GERAKAN LITERASI MODERASI, Sebuah Pelurusan Terhadap Mainstream dan Implementasi Nilai-Nilai Islam Dalam Bingkai Pluralisme di Indonesia
Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Pelaku Usaha Lewat Ngopi Pagi
Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung
Polda Lampung Diminta Ambil Alih Kasus Narkoba HIPMI
OTT Wamen, Noel yang Dikorbankan, dan Silverstel yang Tak Tersentuh
Kemerdekaan Bukan Hanya Untuk Pers, Tapi Pilar Demokrasi, dan Tanggung Jawab Wartawan
Pengelolaan Hama Berbasis Ekologi: Kunci Ketahanan dan Keberlanjutan Pertanian
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:43 WIB

“Kartini yang Dirayakan, Pikiran yang Ditinggalkan”

Minggu, 8 Maret 2026 - 21:16 WIB

Banjir Bandar Lampung, Tragedi Hujan Deras dan Persoalan Tata Kelola Sungai

Selasa, 2 Desember 2025 - 18:55 WIB

GERAKAN LITERASI MODERASI, Sebuah Pelurusan Terhadap Mainstream dan Implementasi Nilai-Nilai Islam Dalam Bingkai Pluralisme di Indonesia

Rabu, 26 November 2025 - 20:31 WIB

Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Pelaku Usaha Lewat Ngopi Pagi

Senin, 20 Oktober 2025 - 18:31 WIB

Budiyono, Intelektual Organik dari Lampung

Berita Terbaru

Opini

“Kartini yang Dirayakan, Pikiran yang Ditinggalkan”

Sabtu, 25 Apr 2026 - 19:43 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com