“Kartini yang Dirayakan, Pikiran yang Ditinggalkan”
berandalappung.com— Kedaton, hari Kartini itu setiap tahun dirayakan, tapi jarang dipikirkan. Kita sibuk pakai kebaya, bikin lomba, unggah foto lalu merasa sudah selesai dengan sejarah. Padahal, Raden Ajeng Kartini bukan peristiwa seremoni, dia adalah peristiwa intelektual. Kartini itu menggugat, bukan merayakan.
Masalahnya, bangsa ini memang punya kecenderungan merawat simbol, tapi malas merawat gagasan. Kartini dijadikan ikon emansipasi, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar dibaca. Kita hafal namanya, tapi gagal memahami kecemasannya. Ini problem klasik kita memuseumkan tokoh, bukan melanjutkan pikirannya.
Kartini bicara soal pendidikan, soal kebebasan berpikir. Tapi hari ini, pendidikan justru sering memproduksi kepatuhan, bukan keberanian berpikir. Perempuan memang sudah masuk kampus, masuk ruang publik, tapi apakah betul mereka merdeka secara intelektual? Atau hanya pindah dari satu bentuk tekanan ke tekanan lain yang lebih halus standar sosial, ekspektasi publik, bahkan algoritma media sosial?
Di situ ironi kita. Dulu perempuan dipingit secara fisik, sekarang dipingit secara mental. Dulu temboknya nyata, sekarang temboknya ada di kepala. Dan yang berbahaya justru yang kedua, karena tidak terlihat tapi mengendalikan.
Kalau kita tarik ke dalam perspektif Islam, problemnya juga sama: kita sering mencampuradukkan nilai dengan tradisi. Islam jelas memuliakan ilmu dan memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang. Tapi dalam praktik sosial, tafsirnya sering menyempit. Jadi yang salah bukan ajarannya, tapi cara kita memahami dan menggunakannya.
Negara? Ya, negara selalu datang belakangan. Konstitusi bicara kesetaraan, tapi realitasnya masih penuh ketimpangan. Perempuan masih berhadapan dengan kekerasan, diskriminasi kerja, dan akses pendidikan yang tidak merata. Artinya, kita ini rajin memperingati, tapi malas memperbaiki.
Jadi Hari Kartini seharusnya bukan soal nostalgia, tapi soal kegelisahan. Pertanyaannya bukan “apa yang sudah kita rayakan?”, tapi “apa yang belum kita selesaikan?”. Kalau pertanyaan itu tidak muncul, maka setiap perayaan Kartini hanya jadi ritual tahunan ramai, tapi kosong. (***)
Penulis : M.Abdullah Umar, M.A Dosen STIS Alifa Pringsewu
Editor : Alex Buay Sako











