Banjir Datang Lagi, Warga Bandar Lampung Tenggelam dalam Janji

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 7 Maret 2026 - 07:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir Datang Lagi, Warga Bandar Lampung Tenggelam dalam Janji

 

berandalappung.com— Tanjung Karang, hujan turun seperti cerita lama yang berulang di Kota Tapis Berseri. Langit gelap menggantung sejak siang, dan ketika rintik berubah menjadi deras, warga Bandar Lampung tahu air akan datang lagi. Bukan sekadar menggenang, tetapi menguji kesabaran sebuah kota yang terlalu sering dibiarkan berdamai dengan banjir.

Pada Jumat siang, 6 Maret 2026, air kembali menguasai jalan-jalan, gang sempit, dan perumahan warga. Drainase yang tak sanggup menampung derasnya hujan berubah menjadi sungai dadakan.

Dalam hitungan jam, kota yang biasanya riuh oleh kendaraan berubah menjadi lautan kecil yang menelan harapan warga.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyebutkan banjir melanda 38 titik di Bandar Lampung. Di balik angka itu, ada kisah yang lebih getir: tiga warga terseret arus.

Analis Bencana BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa dua korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

“Korban meninggal berinisial S (10) dan satu orang dewasa yang masih belum teridentifikasi,” ujarnya.

Sementara itu, seorang anak laki-laki berusia enam tahun masih dalam pencarian, menyisakan kecemasan yang menggantung di antara keluarga dan tim penyelamat.

Banjir kali ini bukan sekadar bencana alam. Ia menjadi pengingat pahit atas janji yang pernah diucapkan di panggung politik beberapa tahun lalu.
Saat mencalonkan diri sebagai wali kota lima tahun silam, Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana pernah menyampaikan komitmen tegas untuk menuntaskan persoalan banjir yang selama ini menjadi luka lama kota ini.

Baca Juga :  Dewan Kota Bandar Lampung Akan Panggil Kepala Puskesmas Segala Mider Diduga Markup Dana BOK dan BLUD

Kala itu ia menjelaskan bahwa banjir terjadi karena aliran air dari dataran tinggi yang mengarah ke kota. Solusi yang ditawarkan terdengar sederhana namun menjanjikan membelokkan aliran sungai, memperbesar talud, serta memperkuat bronjong agar air tidak lagi meluap ke permukiman warga.
“Air yang banyak dikirimkan itu melalui dataran tinggi makanya ke kita. Jika nanti saya jadi wali kota, akan saya ambil solusi bagaimana caranya supaya tidak banjir lagi. Nanti kalinya akan kita pengkolkan, terus juga nanti talud akan kita perbesar,” ujarnya kala itu dengan nada optimistis.

Namun waktu berjalan. Janji itu perlahan tenggelam dalam rutinitas birokrasi, sementara air terus datang setiap musim hujan.

Banjir yang terjadi pada Jumat sore menjadi semacam antiklimaks dari komitmen tersebut. Talud yang dijanjikan tak banyak terlihat berubah, sungai tetap mengalir dengan jalurnya yang lama, dan bronjong yang diharapkan menjadi benteng kota tak pernah cukup kuat menahan limpahan air.

Ironisnya, banjir kini bukan lagi kejadian musiman yang jarang terjadi. Ia telah menjadi ritual tahunan yang hampir bisa diprediksi.

Di sejumlah wilayah, air menggenangi jalan utama, perumahan, hingga fasilitas umum. Beberapa lokasi yang terdampak antara lain Jalan Pulau Singkep Sukarame Baru, Jalan Pangeran Senopati Korpri Jaya, Jalan Taurus Rajabasa Nunyai, Jalan Ratu Dibalau Tanjungsenang, Jalan Gatot Subroto Enggal, hingga kawasan Wayhalim dan Sukarame.

Tak hanya kawasan padat penduduk, genangan juga terjadi di titik-titik strategis kota seperti depan Hotel Asoka Way Halim, kawasan Bank Unila, hingga sejumlah perumahan di Campang Raya dan Jagabaya.

Totalnya, 38 lokasi tercatat terdampak banjir. Angka yang bukan kecil untuk ukuran sebuah kota yang telah lama menjadikan penanganan banjir sebagai agenda prioritas.

Baca Juga :  Salat Idulfitri Perdana Sebagai Gubernur, Mirza Akan Tunaikan Salat Ied di Lapangan Enggal

Setiap banjir datang, narasi yang sama kembali terdengar: hujan ekstrem, kiriman air dari dataran tinggi, dan kapasitas drainase yang tak memadai. Namun bagi warga, alasan-alasan itu terasa semakin usang.

Sebab banjir bukan hanya soal curah hujan, melainkan juga soal perencanaan kota, pengendalian tata ruang, serta keberanian mengambil keputusan besar untuk menata sungai dan drainase secara menyeluruh.

Di tengah kota yang terus berkembang, pembangunan perumahan dan pusat bisnis seringkali berjalan lebih cepat dibandingkan pembangunan sistem pengendalian air. Sungai menyempit, ruang resapan menghilang, dan drainase tak pernah benar-benar diperbarui secara sistemik.

Ketika hujan datang, semua kelemahan itu berkumpul dalam satu peristiwa: banjir.

Tragedi yang menelan korban jiwa pada Jumat sore seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah kota. Bukan sekadar untuk melakukan penanganan darurat, tetapi untuk kembali membuka lembar lama tentang janji yang pernah diucapkan kepada publik.

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Wira Garden Perkuat Sistem Keamanan Pasca Insiden 1 April 2026
Dua Mahasiswi Unila Hanyut di Wira Garden, Alarm Keras Lemahnya Sistem Peringatan Wisata Alam
Pengelola Wira Garden Tanggap Darurat Cepat, Dukung Penuh Pencarian Korban
Ketua DPRD dan Gubernur Lampung Dampingi Kapolri Tinjau Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni
RSUD Abdul Moeloek Tetap Siaga di Libur Lebaran 2026
PWI Lampung Santuni Anak Yatim dan Terima Sertifikat Tanah Kantor, Lampung Siap Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
RSUD Abdul Moeloek Perkuat Layanan HIV Melalui Poli Kanca Sehati, Hadirkan Pelayanan Holistik Tanpa Diskriminasi
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Perkuat Layanan Kesehatan Anak Lewat Poli Eksekutif Ramah Keluarga
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 20:18 WIB

Wira Garden Perkuat Sistem Keamanan Pasca Insiden 1 April 2026

Kamis, 2 April 2026 - 08:25 WIB

Dua Mahasiswi Unila Hanyut di Wira Garden, Alarm Keras Lemahnya Sistem Peringatan Wisata Alam

Kamis, 2 April 2026 - 06:34 WIB

Pengelola Wira Garden Tanggap Darurat Cepat, Dukung Penuh Pencarian Korban

Minggu, 29 Maret 2026 - 10:38 WIB

Ketua DPRD dan Gubernur Lampung Dampingi Kapolri Tinjau Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:21 WIB

RSUD Abdul Moeloek Tetap Siaga di Libur Lebaran 2026

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Thio Sulistio: Kriminalisasi Ini Menghancurkan Mental Saya

Kamis, 23 Apr 2026 - 19:53 WIB

error: Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi berandalappung.com