Ratusan Mundur dari Sekolah Rakyat: Antara Idealisme Program dan Realitas Lapangan
berandalappung.com— Jakarta, Program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial baru saja menghadapi ujian awal. Dalam waktu singkat, 114 siswa dan 143 guru memutuskan mundur. Meski Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan kegiatan tetap berjalan, angka pengunduran diri itu memunculkan tanda tanya apa yang sebenarnya terjadi di lapangan?
Kementerian mencatat para guru yang mundur sebagian besar adalah mereka yang sudah lolos seleksi, namun memilih hengkang sebelum penempatan. Sumber internal menyebutkan, sebagian calon pengajar merasa penjelasan teknis mengenai konsep Sekolah Rakyat minim.
“Ada yang mengira ini sekolah formal dengan kurikulum akademik, ternyata fokusnya pembinaan bakat dan masa matrikulasi panjang,” ujar seorang pejabat daerah yang terlibat persiapan, kepada awak media.
Bagi siswa, alasan mundur beragam. Beberapa wali murid mempertanyakan kelanjutan jenjang pendidikan, karena Sekolah Rakyat tak mengeluarkan ijazah formal. “Kami takut nanti anak tidak bisa melanjutkan ke sekolah negeri,” kata seorang orang tua siswa di Jawa Timur.
Program ini sejatinya dirancang tanpa tes akademik, menggantinya dengan pemetaan bakat atau talent mapping. Namun, di sejumlah daerah, persiapan sarana dan prasarana berjalan lambat. Target 159 titik sekolah yang beroperasi tahun ini membuat panitia daerah berpacu dengan waktu.
Akibatnya, ada sekolah yang belum siap menerima siswa tepat waktu.
Akademisi dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Nurhayati, menilai gelombang pengunduran diri ini adalah sinyal bahwa konsep belum sepenuhnya dipahami publik. “Program seperti ini membutuhkan sosialisasi yang matang dan keterlibatan komunitas sejak awal. Tanpa itu, orang tua dan guru akan kesulitan memahami tujuan sebenarnya, apalagi jika tak ada kejelasan soal keberlanjutan pendidikan anak,” ujarnya.
Gus Ipul menepis kekhawatiran program akan mandek. “Kami hormati yang mundur. Tapi program ini akan terus berjalan. Kami siapkan pengganti guru dan terus menambah titik sekolah,” katanya. Pada 15 Agustus mendatang, pemerintah menargetkan 100 titik beroperasi, sisanya pada September.
Meski gagasannya berangkat dari idealisme memberi ruang belajar tanpa tekanan akademik Sekolah Rakyat kini memasuki fase krusial membuktikan bahwa metode ini bisa diterima publik. Tantangannya, membangun kepercayaan masyarakat sebelum lebih banyak kursi kosong yang muncul.
Editor : Alex Buay Sako











