Menatap Lampung dari Menara KAHMI
berandalappung.com— Raja Basa, di bawah pilar-pilar kokoh Mahan Agung, rumah dinas Gubernur Lampung, riuh rendah obrolan para intelektual berbalut kemeja batik mendadak senyap.
Kamis, 2 Juli 2026, ruangan itu menjadi saksi bertemunya jejaring elite lokal dan nasional dalam pusaran agenda Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Lampung.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, tidak ragu menyembunyikan kedekatan emosionalnya malam itu. Di hadapan ratusan pasang mata, ia melempar pujian terhadap soliditas organisasi hijau-hitam ini.
Bagi Mirza sapaan akrab sang gubernur KAHMI bukan sekadar paguyuban alumni, melainkan mesin pencetak kader yang tak pernah kehabisan bahan bakar.
“Kami menilai KAHMI sebagai salah satu organisasi yang sukses dalam melakukan kaderisasi,” ujar Rahmat Mirzani. “Kader-kadernya mampu menempatkan diri di berbagai kultur lapisan masyarakat dan memberikan kontribusi nyata bagi arah pembangunan bangsa.”
Pernyataan Mirza bukan sekadar basa-basi politik.
Di Lampung, diaspora alumni HMI memang menggurita. Mereka menyusup ke dalam urat nadi birokrasi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), menggerakkan roda bisnis di kabupaten dan kota, hingga menduduki pos-pos strategis lainnya. Sadar akan potensi raksasa ini, Mirza langsung menyodorkan proposal kolaborasi.
Ia menantang KAHMI untuk menyatukan kompas perjuangan demi satu muara: membawa Lampung keluar dari bayang-bayang ketertinggalan. “Bagaimana ke depan KAHMI bisa terus berkolaborasi demi mewujudkan Lampung Maju,” cetusnya.
Menjawab Tantangan Ekonomi
Gayung pun bersambut. Koordinator Presidium Majelis Wilayah KAHMI Lampung, Budiyono, menangkap sinyal tersebut sebagai tanggung jawab moral. Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung ini mafhum, isi kepala organisasi ini dipenuhi oleh kombinasi rumit antara akademisi, birokrat, dan politisi.
Namun, di tengah surplus intelektual itu, ada pekerjaan rumah (PR) besar yang menanti di lapangan.
“Tantangan KAHMI saat ini adalah bagaimana menjaga dan mewujudkan program-program yang mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Lampung,” kata Budiyono di sela-sela persiapan pelantikan pengurus baru tersebut.
Ujung Tombak Sumatra dan Titah Asta Cita
Suasana makin berbobot ketika Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI, Abdullah Puteh, naik mimbar. Mantan Gubernur Aceh ini mengingatkan kembali khittah HMI sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam. Dengan nada bicara yang tertata namun tegas, Puteh menegaskan posisi geopolitik KAHMI dalam konstelasi nasional saat ini.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Puteh menyatakan KAHMI berdiri tegak mengawal jalannya pemerintahan. Doktrinnya jelas: menyukseskan delapan misi yang tertuang dalam Asta Cita.
“Ke depan, semua gagasan dan program Presiden Prabowo yang tertuang dalam Asta Cita harus kita dukung penuh, tidak ada toleransi,” tegas Puteh.
Ia membedah sejumlah program mercusuar Jakarta, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga revitalisasi Koperasi Merah Putih. Kendati memuji konsep tersebut, sebagai politikus kawakan, Puteh tak menutup mata pada lubang-lubang kecil di lapangan terutama urusan karut-marut manajemen eksekusi.
Di sinilah, menurut Puteh, peran strategis KAHMI Lampung diuji. Ia meminta para alumni di “Sang Bumi Ruwa Jurai” untuk tidak menjadi penonton di pinggir lapangan, melainkan menjadi benteng utama penyokong kebijakan gubernur.
“Kita perbaiki bersama kelemahan manajemen. Maka dari itu, KAHMI Lampung sangat diperlukan untuk mendukung Gubernur Lampung, karena provinsi ini adalah ujung tombak Sumatra,” pungkas Puteh, menutup malam yang penuh dengan konsolidasi gagasan itu.(***)
Editor : Alex Jefri











