Memelihara Toleransi dalam Setiap Sabetan Parang: Mengapa Warga Kudus Memilih Kerbau

- Jurnalis

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memelihara Toleransi dalam Setiap Sabetan Parang: Mengapa Warga Kudus Memilih Kerbau

berandalappung.com- Raja Basa— Di sebagian besar pelosok Nusantara, gemuruh takbir Idul Adha jamak diikuti oleh lenguhan sapi yang bersiap menuju tempat penjagalan. Namun, jika Anda melangkah ke Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, atmosfernya sungguh berbeda. Alih-alih sapi, mata Anda akan lebih sering menangkap siluet legam kerbau-kerbau gemuk yang menanti giliran dikurbankan.

Ini bukan soal selera lidah, melainkan sebuah prasasti toleransi yang hidup, yang dirawat tanpa putus sejak lima abad silam.

Akar dari tradisi unik ini bermuara pada figur Ja’far Shadiq, sang Wali Songo yang lebih karib menyandang gelar Sunan Kudus. Datang pada abad ke-16, Sunan Kudus berhadapan dengan realitas sosiologis masyarakat setempat yang mayoritasnya adalah pemeluk Hindu taat.

Dalam teologi Hindu, sapi bukanlah sekadar hewan ternak; ia adalah lembu suci, simbol kesuburan, dan kendaraan para dewa yang tabu untuk disakiti, apalagi dikonsumsi.

Memahami sensitivitas religius tersebut, Sunan Kudus memilih jalan dakwah yang tidak konfrontatif. Ia melarang pengikutnya menyembelih sapi demi menghormati tetangga mereka yang beragama Hindu. Sebagai gantinya, kerbau didapuk menjadi alternatif hewan kurban.

Strategi kultural yang jenius ini melahirkan simpati besar. Perlahan namun pasti, warga Hindu kala itu mulai membuka hati terhadap syiar Islam yang dibawa sang wali.

Baca Juga :  Pj. Gubernur Lampung Dorong Alumni FKIP Kimia Unila Jadi Pelopor Inovasi Pendidikan dan Teknologi

“Berkurban dengan menyembelih kerbau dilakukan karena masyarakat Kudus sampai saat ini masih memegang teguh ajaran Sunan Kudus,” ujar Denny Nur Hakim, Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), saat ditemui di pelataran menara batu bata merah yang ikonik itu.

Berkah Ekonomi di Balik Tradisi
Ratusan tahun berlalu, peta demografi telah berbalik total. Mayoritas warga Kudus kini adalah muslim, namun warisan toleransi Ja’far Shadiq tak lantas menguap. Saban menjelang Hari Raya Kurban, denyut nadi perekonomian di pasar-pasar hewan Kudus langsung berdetak kencang, dipicu oleh lonjakan permintaan kerbau.

Kasrum, seorang belantik (pedagang) kerbau di pasar hewan setempat, tersenyum lebar saat menceritakan omzetnya. Dalam dua pekan terakhir, ia sanggup melego hingga seratus ekor kerbau.
Hukum pasar pun berlaku. Tingginya animo masyarakat mendongkrak harga jual kerbau sebesar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per ekor dari hari biasa.

“Saat ini, harga satu ekor kerbau berkisar antara Rp23 juta hingga Rp30 juta, tergantung ukuran dan kondisi fisik hewan,” kata Kasrum.

Bagi warga setempat seperti H. Suparjo, merogoh kocek lebih dalam demi seekor kerbau adalah bentuk kepatuhan kultural yang tak ternilai harganya. “Berkurban dengan kerbau adalah upaya kami menjaga ajaran dan warisan budaya religius dari Sunan Kudus,” tuturnya filosofis.

Kuliner dan Modernitas yang Cair
Pengaruh kebijakan Sunan Kudus nyatanya merembes jauh melampaui batas ritual keagamaan. Ia membentuk lanskap gastronomi Kota Kretek. Hingga hari ini, kuliner khas Kudus didominasi oleh olahan daging kerbau—mulai dari soto kerbau yang gurih, nasi pindang yang pekat, hingga sate daging kerbau yang empuk. Sapi seolah-olah menjadi “orang asing” di dapur-dapur tradisional Kudus.

Baca Juga :  Masyarakat dan Guru Mengeluh, SDN 5 Way Khilau Jadi Langanan Banjir

Meski demikian, tradisi ini bukannya kedap terhadap perubahan zaman. Di era modern, riak-riak baru mulai muncul di beberapa desa. Mulai ada warga muslim yang memilih menyembelih sapi sebagai hewan kurban. Secara hukum fikih Islam, hal ini tentu sah-sah saja, sebab Sunan Kudus pun dahulu tidak pernah mengeluarkan fatwa haram, melainkan sebuah imbauan moral demi harmoni sosial.

Menariknya, pergeseran kecil ini tidak memicu gesekan. Di tanah Kudus, dialektika antara tradisi lama dan pilihan baru disikapi dengan kedewasaan yang sama: saling menghormati.

Kudus hari ini adalah bukti konkret bahwa toleransi bukan sekadar jargon di atas kertas seminar, melainkan sesuatu yang dipraktikkan, dikunyah dalam makanan sehari-hari, dan dirayakan dalam tiap tetes darah kurban yang mengalir ke bumi.(***)

Editor : alex jefri

Sumber Berita: Liputan6.com

Berita Terkait

Bursa Calon Ketua Karang Taruna Lampung Memanas, Empat Nama Kuat Mengemuka
Bonatua Silalahi Klaim Tak Temukan Verifikasi Ijazah Jokowi, Dibukukan dalam Karya Terbaru
Lurah Gunung Terang Intensifkan Patroli Malam, dan Poskamling Kembali Diaktifkan
PWI Lampung dan Kemenag Perkuat Sinergi, Dukung Sukses HPN-Porwanas 2027
Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026* Oleh: Dr. Budiyono, S.H., M.H.
Laskar Lampung Boxing Cup 2026 Digelar, Perebutkan Piala Gubernur Lampung
Kelola 365 Madrasah, Kemenag Lampung Tengah Didorong Tampil Lebih Unggul
Komitmen Dukung Sarana Olahraga dan Pendidikan Karakter Generasi Muda, BRI Kanca Bengkulu Bangun Lapangan Mini Soccer untuk Yayasan Al-Fida Bengkulu Melalui CSR*
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:55 WIB

Memelihara Toleransi dalam Setiap Sabetan Parang: Mengapa Warga Kudus Memilih Kerbau

Sabtu, 23 Mei 2026 - 16:34 WIB

Bursa Calon Ketua Karang Taruna Lampung Memanas, Empat Nama Kuat Mengemuka

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:45 WIB

Bonatua Silalahi Klaim Tak Temukan Verifikasi Ijazah Jokowi, Dibukukan dalam Karya Terbaru

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:37 WIB

Lurah Gunung Terang Intensifkan Patroli Malam, dan Poskamling Kembali Diaktifkan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 05:10 WIB

PWI Lampung dan Kemenag Perkuat Sinergi, Dukung Sukses HPN-Porwanas 2027

Berita Terbaru

Pemerintahan

Gubernur Lampung, Serahkan Sapi Qurban dari Presiden Prabowo

Kamis, 28 Mei 2026 - 06:20 WIB