Makna Politik di Balik Niat Prancis Akui Palestina
berandalappung.com – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan rencananya untuk mengakui Negara Palestina dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September mendatang. Bila realisasi itu terwujud, Prancis akan menjadi negara kesepuluh yang menyatakan pengakuan resmi terhadap Palestina dalam setahun terakhir sejak agresi brutal Israel ke Jalur Gaza meletus pada akhir 2023.
Namun di tengah kobaran perang, pembantaian sipil, dan blokade kemanusiaan, pengakuan semacam itu menyisakan tanda tanya besar: apa arti pengakuan negara bila penderitaan tak juga berkurang?
Momentum atau Frustrasi Diplomatik?
Pidato Macron tampaknya disusun untuk membangun momentum. Ia menyampaikan pernyataannya di saat dunia tengah bergulat dengan gambaran memilukan dari Gaza: anak-anak kekurangan gizi, warga sekarat karena kelaparan, dan truk bantuan yang tertahan berhari-hari di perbatasan karena prosedur pemeriksaan Israel.
Sinyal Macron pun datang menjelang pidato penting dari pemimpin Inggris dan Jerman yang menyerukan respons nyata atas krisis kemanusiaan di Palestina. Dalam kerangka itu, Prancis tampak ingin mengambil posisi moral sebagai katalis dalam percakapan global tentang keadilan dan solusi dua negara.
Namun, bagi sebagian pengamat, pengakuan ini bukan semata upaya idealistik, melainkan refleksi keputusasaan diplomatik Eropa. Eropa selama ini condong bergantung pada koalisi geopolitik dalam menanggapi konflik global. Dan jika langkah Prancis sukses mendorong negara-negara kuat Eropa lainnya mengambil sikap serupa, efek domino itu bisa menciptakan tekanan diplomatik yang lebih luas terhadap Israel dan sekutunya.
Simbolik yang Tak Menggoyahkan Agresi
Sayangnya, sejarah satu tahun terakhir menunjukkan bahwa pengakuan negara bukanlah tonggak yang cukup menggoyahkan kebijakan Israel.
Sembilan negara yang lebih dulu mengakui Palestina pada 2024 antara lain Spanyol, Irlandia, Slovenia, Norwegia, hingga negara-negara Karibia seperti Jamaika dan Barbados belum mampu meredam agresi militer Israel, apalagi menghentikannya.
Sebaliknya, Israel justru melanjutkan pencaplokan wilayah di Tepi Barat dan menambah tekanan terhadap warga sipil di Gaza. Bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan masih kerap ditahan atau dibatasi ketat. Pemeriksaan truk bantuan memakan waktu berhari-hari dengan dalih keamanan sementara isinya berupa makanan pokok hingga susu bayi.
“Dengan bantuan yang masih jauh dari jangkauan warga Gaza biasa, mungkin upaya ini tidak akan memberikan sedikit kelegaan,” tulis CNN dalam salah satu laporannya.
Moral Politik yang Diuji
Di titik ini, pengakuan dari negara-negara dunia, termasuk Prancis, lebih menyerupai pesan simbolik terhadap komunitas internasional, alih-alih alat penekan efektif terhadap kekerasan Israel. Meski demikian, simbol tetap penting—terutama dalam diplomasi jangka panjang.
Macron, sebagaimana pemimpin negara lain yang mulai mengambil sikap lebih tegas terhadap konflik Israel-Palestina, tampaknya menyadari bahwa diam bukan lagi pilihan politik yang etis. Dunia, pada akhirnya, menanti apakah simbol ini akan menjelma menjadi solidaritas nyata atau kembali menjadi satu fragmen dalam rangkaian kegagalan diplomasi internasional yang terlalu sering terjadi di atas penderitaan rakyat Palestina.
Editor : Alex Buay Sako











