Erick Thohir Digeser Jadi Menpora, Djamari Chaniago Resmi Menko Polkam
berandalappung.com— Jakarta, Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle kabinet yang menyedot perhatian publik. Dalam upacara di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/9), Prabowo melantik Jenderal (Hor) (Purn) Djamari Chaniago sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polkam). Bersamaan dengan itu, Erick Thohir digeser dari kursi Menteri BUMN ke jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
Pelantikan itu berlangsung berdasarkan tiga keputusan presiden: Keppres Nomor 96P/2025, Keppres Nomor 97P/2025, dan Keppres Nomor 152/TPA 2025. Presiden sendiri memimpin prosesi dan membacakan sumpah jabatan yang diikuti para pejabat baru. Total ada sebelas pejabat yang dilantik, namun sorotan utama tetap tertuju pada dua nama besar: Erick Thohir dan Djamari Chaniago.
Erick: Dari BUMN ke Olahraga
Erick Thohir bukan nama asing di panggung kekuasaan. Di era Presiden Joko Widodo, ia menjelma sebagai technocrat berpengaruh, mengendalikan Kementerian BUMN sejak 2019 dengan jaringan bisnis dan politik yang luas.
Erick bahkan tetap dipertahankan Prabowo pada Oktober 2024 untuk memimpin BUMN. Karena itu, keputusan memindahkannya ke Menpora memunculkan tafsir politik: Erick seakan “diturunkan kelasnya.”
Di BUMN, Erick mengelola aset triliunan rupiah dan menguasai ruang strategis perekonomian nasional. Kini, di Menpora, ruang manuvernya lebih sempit. Namun, penempatan ini juga bisa dibaca sebagai cara Prabowo menjaga Erick tetap berada di lingkaran kabinet tanpa menimbulkan friksi dengan kelompok kekuasaan lain.
Djamari: Jenderal Tua di Panggung Baru
Sementara itu, penunjukan Djamari Chaniago menandai kembalinya figur militer senior ke pusat kekuasaan sipil. Lahir di Padang, 8 April 1949, Djamari merupakan lulusan Akabri 1971 dari kecabangan infanteri.
Rekam jejaknya sebagai jenderal tempur membuatnya dipercaya mengelola isu-isu sensitif di bidang politik, hukum, dan keamanan.
Di tengah situasi geopolitik yang memanas mulai dari ketegangan Laut Cina Selatan hingga ancaman keamanan dalam negeri kehadiran Djamari dianggap sebagai simbol stabilitas. Penunjukannya juga memperlihatkan pola lama: dominasi figur militer di sektor keamanan, mirip warisan Orde Baru.
Implikasi Politik Reshuffle
Perombakan ini memuat beberapa pesan politik.
Pertama, Prabowo mulai mereduksi bayangan pengaruh Jokowi. Erick, yang kerap disebut sebagai orang kepercayaan Jokowi, kini tak lagi mengendalikan sektor BUMN yang strategis. Pergeseran ini memberi ruang lebih lapang bagi Prabowo untuk mengisi pos-pos ekonomi dengan loyalisnya.
Kedua, militer kembali menguat di lingkaran inti kekuasaan. Penempatan Djamari menegaskan preferensi Prabowo pada figur-figur purnawirawan untuk menangani sektor strategis.
Ketiga, Erick tetap dijaga di orbit kekuasaan. Meski perannya menyusut, Erick masih disimpan dalam kabinet—mungkin sebagai “cadangan politik” untuk masa depan. Dengan posisinya di Menpora, Erick masih bisa membangun basis dukungan di kalangan muda, yang bisa saja berguna bila ia kembali mencalonkan diri di kontestasi politik 2029.
Arah Kabinet Prabowo
Reshuffle ini memperlihatkan upaya Prabowo meramu ulang keseimbangan: technocrat versus militer, warisan Jokowi versus loyalis baru. Namun, arah ini juga menimbulkan risiko: persepsi publik bahwa technocrat tengah terpinggirkan, sementara dominasi militer kembali menebal.
Ke depan, reshuffle ini bisa menjadi titik awal perubahan struktur kekuasaan di kabinet Prabowo. Erick mungkin hanya “diparkir sementara,” sementara Djamari adalah simbol bahwa stabilitas dan keamanan tetap menjadi prioritas utama pemerintahan baru.
Editor : Alex Buay Sako
Sumber Berita: detiknews











