Di Balik ‘Mencari Muka’ Mengapa Budaya Ini Merusak Pemerintahan?

- Jurnalis

Rabu, 11 Desember 2024 - 09:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Gubernur BEM UTB sekaligus Kader Genus HMI Komisariat Pertanian Unila Hengki Irawan dokumen: berandalappung.com

Mantan Gubernur BEM UTB sekaligus Kader Genus HMI Komisariat Pertanian Unila Hengki Irawan dokumen: berandalappung.com

Bandar Lampung (berandalappung.com) – Pengamat pemberdayaan masyarakat Indonesia, Hengki Irawan, menyoroti fenomena pejabat yang terlibat dalam praktik “mencari muka” atau “mencari kerja” di lingkungan pemerintahan.

Menurutnya, tindakan ini merusak integritas, efektivitas pelayanan publik, dan budaya kerja yang sehat dalam birokrasi.

Hengki menjelaskan bahwa praktik “mencari muka” sering dilakukan untuk meraih simpati atasan, masyarakat, atau kelompok tertentu, terutama menjelang promosi jabatan atau pemilu.

Tindakan ini cenderung manipulatif dan lebih berfokus pada pencitraan diri, sementara kinerja nyata yang bermanfaat bagi masyarakat diabaikan.

Di sisi lain, “mencari kerja” sering melibatkan upaya mengamankan posisi atau promosi dengan cara-cara yang mengorbankan etika dan kepentingan publik demi keuntungan pribadi.

Fenomena ini, lanjut Hengki, menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat, di mana loyalitas kepada atasan lebih dihargai dibanding kompetensi dan integritas.

Baca Juga :  Nasib Angkot Bandar Lampung, Terdesak oleh Layanan Berbasis Aplikasi

“Budaya ini merusak hubungan antarrekan kerja, menghambat kolaborasi, dan pada akhirnya menurunkan kualitas pelayanan publik,” ungkapnya.

Hengki juga menegaskan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip etika pemerintahan. Pejabat publik seharusnya mengutamakan kepentingan umum, bukan ambisi pribadi.

Bahkan, praktik ini berpotensi melanggar hukum, seperti Undang-Undang Administrasi Pemerintahan dan UU Tindak Pidana Korupsi, apabila jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Ia menilai bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah tidak berfungsinya sistem meritokrasi.

“Penilaian kinerja yang lebih mengutamakan kedekatan personal daripada capaian objektif mendorong pejabat fokus pada pencitraan,” papar Hengki pada media berandalappung.com pada Rabu, (11/12/2024).

Baca Juga :  KPU Kab/Kota Se-Lampung Dilantik, Afifuddin: Jangan Berleha-leha, Pilkada Sudah di Depan Mata

Selain itu, ketidakstabilan politik juga menjadi faktor pendorong karena pejabat merasa perlu membangun citra untuk bertahan di tengah dinamika kekuasaan.

Untuk mengatasi masalah ini, Hengki mengusulkan tiga langkah:

1. Penerapan sistem meritokrasi yang menilai kinerja secara objektif, bukan berdasarkan kedekatan personal.

2. Penguatan integritas dan etika melalui pelatihan intensif serta pengawasan ketat.

3. Meningkatkan transparansi publik agar masyarakat dapat berperan sebagai kontrol sosial yang efektif.

Ia menekankan bahwa pejabat harus memprioritaskan kepentingan masyarakat.

“Dengan menerapkan sistem meritokrasi, memperkuat etika, dan meningkatkan transparansi, diharapkan birokrasi dapat menciptakan budaya kerja yang sehat, pelayanan publik yang lebih berkualitas, dan pemerintahan yang berintegritas,” tandas Hengki.

Berita Terkait

Aksi Damai di Titik Nol Yogyakarta: Menagih Komitmen Publik untuk Ibu Menyusui
Legislator Cantik Ini Dukung Penuh PWI Lampung Sukseskan HPN dan Porwanas 2027
“Mundur dari Kepala BGN, Nanik Deyang Mengaku Trauma Pegang Uang”
Pencegahan Rampung, KPK Buru Motif Penyuapan Suhardiman Amby ke Menhut Raja Juli
HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah
Peringatan 1 Muharam 1448 H di Pendopo Agung Nuswantoro Berlangsung Khidmat
Selamat, Tiga Hari Lagi DR Budiyono Nahkodai Hijau-Hitam di Provinsi Lampung
Mengurai Antrean, RSUD Abdul Moeloek Andalkan Poli Gigi Eksekutif
Berita ini 113 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 17:45 WIB

Aksi Damai di Titik Nol Yogyakarta: Menagih Komitmen Publik untuk Ibu Menyusui

Rabu, 22 Juli 2026 - 22:51 WIB

Legislator Cantik Ini Dukung Penuh PWI Lampung Sukseskan HPN dan Porwanas 2027

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:58 WIB

“Mundur dari Kepala BGN, Nanik Deyang Mengaku Trauma Pegang Uang”

Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:57 WIB

Pencegahan Rampung, KPK Buru Motif Penyuapan Suhardiman Amby ke Menhut Raja Juli

Senin, 13 Juli 2026 - 19:07 WIB

HPN dan Porwanas 2027 Jadi Momentum Kebangkitan Pers, Pariwisata, dan Ekonomi Daerah

Berita Terbaru