Lembah Hijau, Lembah Kematian: “Bakas”, Harimau Sumatera Agresif yang Berujung Tragis

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 8 November 2025 - 20:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembah Hijau, Lembah Kematian: “Bakas”, Harimau Sumatera Agresif yang Berujung Tragis

 

berandalappung.com — Bandar Lampung, Seekor harimau sumatera jantan bernama Bakas ditemukan mati di kandang perawatan Lembaga Konservasi (LK)Lembah Hijau, Bandar Lampung, Jumat (7/11).

Satwa dilindungi dengan nomor ID 13 RL Male itu sebelumnya dievakuasi dari kawasan hutan Talang Kali Pasir, Pekon Sukabumi, Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat, setelah disebut-sebut memangsa manusia.

Namun kematian Bakas justru menimbulkan gelombang kritik dari pemerhati lingkungan dan aktivis konservasi. Mereka menuding ada kelalaian dalam proses penanganan hingga berakhir pada terbunuhnya satwa langka tersebut.

“Entah dengan standar ilmu mana harimau itu disebut pemangsa manusia. Tindakan ceroboh hingga menyebabkan kematian satwa dilindungi,” ujar pemerhati lingkungan, Almihery JKEL, Jumat malam.
“Kemenhut harus turun langsung. Jangan hanya bisa mengaum di kantor,” tambahnya tajam.

Dari Evakuasi ke Kematian
Dalam siaran pers bernomor SP.1/K.10/TU/HMS.3/B/11/2025, BKSDA Bengkulu menjelaskan bahwa harimau Bakas sebelumnya telah menunjukkan perilaku agresif sejak proses evakuasi pada 29 Oktober 2025.

Saat ditangkap, tubuhnya penuh luka: bagian pangkal pinggang kiri atas sobek, ada bekas ikatan melingkar di pinggang, serta kehilangan dua jari pada kaki kanan depan.

Baca Juga :  24 Jam Gangguan Blackout Sutet Lubuk Linggau - Lahat, PLN Klaim 16% Kondisi Listrik Menyala di Lampung

Atas alasan keamanan, Bakas kemudian dipindahkan dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Lampung ke Lembaga Konservasi Lembah Hijau. Menurut BKSDA, perpindahan itu dilakukan untuk menjamin keselamatan masyarakat sekaligus memberi ruang perawatan yang lebih memadai.

Namun situasi berubah tragis saat proses pemindahan dari kandang angkut ke kandang perawatan. Harimau itu disebut menabrakkan dirinya ke dinding kandang berulang kali tiga kali secara berturut-turut. Pada benturan, tubuh ketiga terkulai, disusul kejang, lalu tak lagi menunjukkan respons.

Dokter hewan drh. Sugeng Dwi Hastono yang melakukan pemeriksaan menyimpulkan penyebab kematian adalah pendarahan otak akibat benturan benda tumpul yang menyebabkan kematian otak (brain death).

Diam-Diam di Lembah Hijau
Kabar Kematian Bakas sempat tenggelam. Dua hari setelah kejadian, publik baru mengetahui peristiwa itu melalui bocoran informasi dari petugas internal. Aktivis menuding BKSDA, TNBBS, dan pengelola Lembah Hijau berusaha menutup-nutupi kematian tersebut.

“Ini bukan kematian pertama harimau sumatera di tempat itu,” kata Almihery. “Ada pola yang sama diam, lambat, dan seolah tak ada yang bertanggung jawab.”

Tudingan itu bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah satwa dilindungi yang dititipkan di fasilitas konservasi swasta di Lampung dilaporkan mati dalam kondisi mencurigakan. Transparansi penanganan pun sering ditanyakan.

Baca Juga :  JKEL Desak Menteri Kehutanan Evaluasi Kinerja Pejabat Konservasi dan Cabut Izin Lembah Hijau

Duka dan Evaluasi
Dalam rilis resminya, BKSDA Bengkulu menyampaikan duka mendalam atas kematian Bakas dan berjanji memperbaiki fasilitas PPS serta meningkatkan keamanan bagi satwa liar agresif.

Namun janji semacam itu bukan hal baru. Kalangan pemerhati lingkungan menilai pemerintah cenderung reaktif hanya setelah muncul tekanan publik.

“Jika lembaga konservasi berubah menjadi lembah kematian, ini merupakan peringatan keras bagi negara,” ujar Almihery.
Ia menegaskan, sudah waktunya pemerintah pusat turun langsung menyelidiki, bukan sekedar menerima laporan internal yang steril dari kritik.

Sisa Jejak Sang Raja Rimba
Kini tubuh Bakas telah diamankan di PPS Lampung, sementara penyelidikan resmi belum dimulai. Di atas kertas, kematian itu disebut akibat “benturan benda tumpul.” Namun di balik dinding kandang besi Lembah Hijau, masyarakat menyimpan pertanyaan: apakah benar Bakas mati karena dirinya sendiri, atau karena kelalaian manusia yang mengatasnamakan konservasi?

Satu hal yang pasti di tengah klaim perlindungan satwa, suara rimba kian sayup, dan harimau sumatera kembali kehilangan satu nyawa di tangan manusia.

Editor : Alex Buay Sako

Berita Terkait

Menepis Narasi Mangkrak: IKN Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi
Hangatkan Kebersamaan, Rutan Kelas I Bandar Lampung Laksanakan Sholat Iduladha 1447 H dengan Hikmat
Tiga Asosiasi Media Lampung Satukan Barisan, Awasi Implementasi MBG
Air Mati, Fasilitas Nihil Developer Perumahan Batara Satu Disorot Warga
Wira Garden Perkuat Sistem Keamanan Pasca Insiden 1 April 2026
Dua Mahasiswi Unila Hanyut di Wira Garden, Alarm Keras Lemahnya Sistem Peringatan Wisata Alam
Pengelola Wira Garden Tanggap Darurat Cepat, Dukung Penuh Pencarian Korban
Ketua DPRD dan Gubernur Lampung Dampingi Kapolri Tinjau Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni
Berita ini 328 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 21:53 WIB

Menepis Narasi Mangkrak: IKN Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi

Kamis, 28 Mei 2026 - 06:13 WIB

Hangatkan Kebersamaan, Rutan Kelas I Bandar Lampung Laksanakan Sholat Iduladha 1447 H dengan Hikmat

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:00 WIB

Tiga Asosiasi Media Lampung Satukan Barisan, Awasi Implementasi MBG

Jumat, 1 Mei 2026 - 22:17 WIB

Air Mati, Fasilitas Nihil Developer Perumahan Batara Satu Disorot Warga

Kamis, 16 April 2026 - 20:18 WIB

Wira Garden Perkuat Sistem Keamanan Pasca Insiden 1 April 2026

Berita Terbaru

Opini

Ryacudu

Kamis, 4 Jun 2026 - 12:45 WIB

Opini

Peringatan untuk Nanik S. Deyang: Jangan Diulangi

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:22 WIB

Opini

Anak-Anak Muda Statistik

Kamis, 4 Jun 2026 - 09:34 WIB

Pemerintahan

Tidak Transparan di BKD Lampung ada 17 Pejabat Dilantik Diam-Diam

Kamis, 4 Jun 2026 - 07:29 WIB